Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 64


__ADS_3

Jenny tak sampai memarkirkan mobilnya pada lantai basement. Begitu panggilan telponnya tersambung pada Soraya, dan mendengar kepanikan dan ketakutan dari Soraya, ia langsung keluar dari mobil, meninggalkan mobil itu dipelataran gedung kantor begitu saja.


Ia bergegas memasuki lobby kantor, langkahnya kian panik sebab tadi telpon tiba-tiba saja terputus. Ia juga berulang kali melihat chat yang dikirim oleh Soraya, membaca letak ruangan dimana Soraya berada. Sebab saat masih dijalan ia dikirimi beberapa pesan yang menuliskan keberadaan Soraya.


Jenny semakin tak sabaran kala menunggu lift yang tak kunjung terbuka. Iapun berlari ke arah tangga darurat, menapaki satu persatu anak tangga hingga sampai pada lantai tujuan.


Sial. Saat telah sampai didepan ruangan pintu terkunci rapat, ia yakin Soraya kini dalam bahaya. Segera ia berlari mencari sesuatu agar pintu itu bisa terbuka. Dipojok ruangan terlihat tabung gas, alat yang berfungsi sebagai pemadam kebakaran.


Diambilnya dan segera ia kembali ke tempat semula. Dengan mengambil posisi tepat, ia kini melayangkan tabung itu pada letak kunci pintu kaca. Sontak pintu kaca terpecah hingga serpihan-serpihan jatuh beserakan ke lantai.


Usai pintu berhasil dibuka, mata Jenny terbelalak. Tangannya terkepal, dengan langkah cepat ia bergerak meraih bahu lelaki yang tengah menindih Soraya, dengan tangan terkepal dan bertubi-tubi ia melayangkan pukulannya. Sosok didalam dirinya kini muncul, tanpa ampun ia memberi tendangan begitu juga pukulan, umpatan serta merta ia lontarkan. Tak peduli lelaki yang tengah ia pukuli kini meringis kesakitan.


"Bajin***—Breng***— Sialan," umpatan serta pukulan ia layangkan. Jenny langsung menekankan kakinya pada perut Ardi Wiguna. Suara kegaduhan itupun memancing orang disekitaran.


"Lelaki brengsek itu pantas mati!" teriak Jenny dengan suara lantang, matanya menatap tajam ke arah Ardi Wiguna. Orang-orang kini menarik tubuh Jenny menjauh.

__ADS_1


Jenny memberontak, matanya mengedar mencari keberadaan Soraya. Dipojok ruangan Soraya berjongkok, dengan lutut menutupi sebagian tubuhnya. Jenny pun melepas jaket yang ia kenakan menutupi sebagian tubuh Soraya yang telah koyak pakaiannya, bahkan kancing kemeja semua terlepas.


Segera mereka berdua pergi dari tempat itu. Berulang kali Jenny memukuli stir mobil, tak hentinya ia mengeram. Ia menyalahkan dirinya yang datang terlambat, juga tak hentinya merutuki kebodohan Soraya yang tak mau mendengarkan ucapannya.


"Kita ke kantor polisi!" kata Jenny dengan suara tegas, sudah tak seperti biasanya.


Soraya menggeleng, kuat ia mencengkeram pakaiannya.


"Kalau kamu menolak, kita kerumah sakit!" ucap Jenny dengan geram.


"Soraya kita harus melaporkan lelaki brengsek itu ke polisi, dan menjebloskannya ke penjara."


Soraya menggeleng, "Lalu orang-orang akan tahu dan menertawakan nasibku."


Amarah Jenny memuncak tangannya kuat mencengkeram stir mobil. Kemudian beralih mengguncang bahu Soraya. "Gak ada yang akan menertawakan kamu, kita kerumah sakit sekarang," ucap Jenny membujuk.

__ADS_1


"Please, antar aku pulang," kata Soraya penuh permohonan.


"Soraya—," kata Jenny yang menatap Soraya dengan tatapan kesal dan kepedihan. Ia pun dengan berat hati menuruti perkataan Soraya.


Begitu sampai diapartemen Soraya langsung menutup pintu, tak peduli Jenny yang masih berada disana.


Setetes air matanya turun tak dapat dicegah, tatapan matanya kosong. Langkah kaki berjalan gontai memasuki kamar.


Siapa yang mau menerimanya lagi. Rudi — tidak, tak akan ada yang bisa ia banggakan kali ini, sebab ia merasa dirinya kotor.


Iya kotor. Untuk membersihkannya, Soraya kini mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu pada lantai. Langkahnya kini menuju kamar mandi, mengisi air ke dalam bath up hingga penuh. Dan tugasnya kali ini adalah membersihkan diri. Perlahan ia masuk dan menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air. Pikirannya yang penuh memaksanya bertahan dalam posisi seperti itu, meredam semua kejadian yang baru saja berlalu.


Cukup lama Soraya bertahan, hingga gelembung air mulai menyembul kepermukaan.


To be Continue

__ADS_1


__ADS_2