Risalah Hati

Risalah Hati
Ekstra Part


__ADS_3

"Kamu yakin Soraya?" tanya Bramantyo kembali meyakinkannya.


Rapat direksi para pemegang saham akan dimulai beberapa menit lagi. Kali ini Soraya bersama Omnya tengah berbicara empat mata. Masa penangguhan kepemimpinan perusahaan ditentukan hari ini sesuai dengan janji Bramantyo beberapa bulan lalu, dan keputusan berada ditangan Soraya.


Soraya kini menatap Bramantyo kemudian mengangguk yakin. "Kevin juga punya hak seperti halnya Soraya," ucapnya seraya tersenyum kecil.


Mereka berdua tak tahu bahwa dari balik pintu ada Kevin yang tak sengaja mendengar perbincangan mereka, ia tadinya ingin menyampaikan pada Papanya bahwa semua dewan direksi pemegang saham sudah berada ditempat. Namun saat ia datang, sekertaris papanya memberitahukan bahwa didalam ruangan ada Soraya. Maka dari itu ia langsung memilih masuk tanpa mengetuk pintu. Tapi nyatanya hal yang tak terduga yang ia dengar memancing rasa keingintahuannya.


Ia menahan sedikit pintu yang terbuka dan mulai kembali menajamkan pendengarannya, kini ada yang berdentum-dentum dalam hatinya sebab satu kata yakni "Hak" entah hak apa yang ia maksud, dan ia ingin mengetahuinya.


Bramantyo terlihat frustasi, ia melepas kaca matanya dan memijat pangkal hidungnya.


"Aku tahu Om takut bila Kevin curiga?" ucap Soraya menebak-nebak apa yang tengah dipikirkan Omnya.


Bramantyo kini menghela nafas, belum menjawab Soraya kembali berujar, "Bila Om berat mengatakan kenyataannya, Om bisa mengambil alasan kalau Soraya gak punya kemampuan di bidang perusahaan ini."


"Om tahu itu, lalu apa kamu akan melanjutkan pekerjaanmu disini?"


Soraya mengulum bibirnya kemudian menggeleng. "Biar Kevin yang ambil alih pekerjaan Soraya. Soraya percayakan padanya, lagi pula dia tetap menjadi bagian dari diri Soraya," ucap Soraya.


Dan hal itu semakin memancing rasa keinginan tahuan Kevin, hingga ia yang tak tahan menunggu kini mulai membuka pintu lebar-lebar, sontak membuat Soraya dan juga Bramantyo terkejut.


"Apa yang Papa dan Soraya maksudkan? Hak, bagian dari hidup Soraya?" tanya Kevin mengerutkan keningnya dalam.


Soraya bungkam, beda halnya dengan Bramantyo. Ia sudah berfikir jauh-jauh hari, mempertimbangkan kenyataan sepahit apapun. Toh pada akhirnya memang ia harus memberitahukan kepada Kevin, ia sudah melakukan yang terbaik. Memberi kasih sayang dan mencintai layaknya anak sendiri. Sekarang tinggal bagaimana Kevin menilainya.

__ADS_1


"Kalian berdua saudara," ucap Bramantyo terdengar tenang.


Kening Kevin kembali mengerut dalam, ditatapnya Bramantyo dan Soraya secara bergantian. Ia kemudian tersenyum kaku. "Papa, kami memang saudara, saudara sepupu," ucap Kevin diiringi tawa.


"Kalian saudara kandung, kalian satu ayah," ucap Bramantyo usai menarik nafas dalam.


Tubuh Kevin menegang, ia tersenyum mengejek. Ada kepedihan dalam hatinya, tapi dulu memang sempat ia berfikir demikian. Sebab kala melihat foto yang tergantung di meja kerja pada kediaman rumah milik orangtua Soraya, ia kerap kali mengamati foto yang tergantung di dinding. Seringkali ia lekat mengamati foto dua saudara, yakni Harry Wijaya dan juga Papanya Bramantyo.


Bila dibandingkan wajahnya dan wajah Harry memang punya kemiripan, dari tatapan mata itu yang paling mencolok, tapi Kevin selalu menepis hal itu. Dan di hari ini, apa yang pernah ia duga-duga nyatanya benar adanya.


Tok tok tok


Terdengar ketukan pintu yang mengakhiri suasana tegang yang baru saja berlangsung. "Maaf Pak, acara rapat akan segera dimulai," kata sekertaris itu menyampaikan.


"Kami akan segera menuju kesana, siapkan berkas yang aku minta," sahut Bramantyo dan sekertarisnya itupun keluar kembali ke meja kerjanya untuk menyiapkan berkas-berkas.


Ucapan Bramantyo terdengar lugas dan tampak dingin. Ia menekan kuat dan mengabaikan rasa sakit dalam hatinya saat mengungkapkan sebuah kenyataan yang selama ini tertutup rapat. Itu ia lakukan sebab tak mau Kevin membantah, karena hanya Kevin lah satu-satu penerus perusahaan.


Bramantyo pun kemudian berlalu keluar dari ruangan menuju ruang rapat. Kini hanya tinggal Kevin beserta Soraya di dalam sana yang sama-sama terdiam.


"Sejak kapan kamu mengetahuinya?" ucap Kevin memecah keheningan.


"Sejak sebelum aku menikah," ucap Soraya memandang ke arah Kevin. "Apa kamu marah dengan Om?"


Kevin tersenyum getir. "Buat apa, ini sudah terjadi," ucapnya kemudian menjatuhkan diri di kursi sofa.

__ADS_1


"Lalu, apa kamu akan membenciku?" ucap Soraya menatap Kevin yang kini terlihat lesu dengan raut wajah tampak kusut.


Kevin menatap Soraya dan dibalas Soraya yang menatapnya. "Buat apa, aku marah pun tak akan mengembalikan apa yang telah terjadi. Bukankah aku harus bersyukur kalau selama ini Papa membesarkan aku dengan kasih sayang berlebihan dan tak kurang suatu apapun," kata Kevin kemudian menarik nafasnya dalam mengisi rongga-rongga paru-parunya.


"Apa kamu juga menerimaku sebagai saudara?" tanya Soraya dengan suara bergetar.


Kevin kini menatap Soraya yang tengah berdiri tak jauh darinya, ia pun menatap lama hingga akhirnya ia merentangkan kedua tangannya. Soraya pun menyambutnya dengan senyum lalu melangkah mendekat dan mendekap saudara yang dimilikinya.


"Aku menyayangimu, kapanpun itu," ucap Kevin mengecup puncak kepala Soraya. Soraya pun mengangguk menyinggungkan seulas senyum.


**


Tak lama mereka berdua menyusul ke ruang rapat, masa kepemimpinan sesuai dengan hasil voting dari pihak direksi memutuskan bahwa Bramantyo masih memegang jabatan sebagai pemimpin tertinggi di perusahaan, sebab diri Kevin yang masih begitu muda dengan pengalaman kerja yang belum begitu memadai. Juga perlunya persiapan membentuk diri Kevin agar pada nantinya siap menjadi pemimpin untuk menggantikan dirinya.


Usai rapat berakhir Soraya hendak pulang, namun saat berada di lobby dirinya begitu terkejut sebab Cindy tengah menungguinya.


"Tante mencariku?" tanya Soraya saat Cindy mendekat ke arahnya. "Bila Tante mencariku karena khawatir dengan perusahaan ini, Tante tenang saja, Kevin nantinya yang akan memimpin perusahaan ini. Iya Kevin punya hak, dia saudara Soraya dan harus Soraya akui, bahwa Soraya tak punya bakat di bidang ini," jelas Soraya tenang tanpa emosi.


Cindy lekat memandangi Soraya, hatinya seolah tercabik. Anak yang dibesarkannya selama ini, yang diam-diam dibencinya juga hampir ia celakai, hanya karena dendam masa lalu yang anak ini bahkan dirinya sendiri tak tahu letak salahnya dimana.


"Apa kamu membenci Tante?" ucap Cindy dengan suara bergetar.


"Iya, awalnya Soraya benci, tapi sebagai wanita Soraya tahu bagaimana perasaan Tante," ucap Soraya dan serta merta Cindy menghambur memeluk erat tubuh Soraya, dan berulang kali berbisik, "Maafin Tante... maafin Tante."


Soraya pun mengangguk, membalas pelukan Cindy dengan tangisan haru. Disatu sisi Bramantyo yang mengetahui dan melihat kejadian itu perlahan menyunggingkan senyum.

__ADS_1


Tunggu ekstra part selanjutnya


__ADS_2