Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 33


__ADS_3

Soraya cemberut namun tatapannya tak lekat dari memandangi sosok Rudi yang sibuk dengan peralatan dapur. Hingga kegiatan Rudi usai Soraya tak beranjak dari kursi yang di dudukinya.


Rudipun mulai menyiapkan makanan yang baru saja selesai dimasak, menaruhnya diatas meja. Kemudian ia melepas celemek sebelum mendudukan diri di kursi, berhadapan dengan Soraya.


Kening Rudi berkerut, melihat Soraya yang menatap lama makanan di depannya. Terlihat wanita dihadapannya menggigit sudut bibirnya.


"Itu tidak beracun," kata Rudi menyodorkan sendok pada Soraya.


"Bukan begitu, aku hanya meragukan rasanya," ucap Soraya masih mengamati tampilan sayur hijau dengan bawang putih yang digeprek sebagai bumbunya.


"Sepertinya kamu perlu mencoba," kata Rudi lalu menyuap makanannya.


Setelah beberapa saat Soraya menatap Rudi yang lahap menyantap makanannya, ia pun mulai mencoba melakukan hal yang sama. Saat mencoba mengunyah, ia mulai merasakan suatu rasa aneh di lidahnya. "Aku gak suka," cicitnya.


"Hanya ada makanan itu disini, jadi makanlah!" ucap Rudi terdengar memerintah, mau tak mau Soraya menelan makanannya meski ia tak berselera.


Usai makan Rudi menyibukkan diri diruang kerjanya, sedang Soraya kini berada diruang tamu menyaksikan acara reallity show di televisi. Menyadari perutnya yang terasa lapar, ia mulai menyalakan ponselnya membuka aplikasi untuk memesan makanan secara online.

__ADS_1


Tiga puluh menit lebih pesanan tiba, Soraya sudah tak sabar menyantap potongan pizza yang menggugah selera. Mulai dari potongan pertama hingga tak terasa ia sudah menghabiskan setengah dari bagian.


Pintu ruang kerja berderit menampilkan sosok Rudi yang muncul dari sana. "Apa yang kamu makan?" tanya Rudi dengan pandangan alis mengernyit.


"Pizza," sahut Soraya. "Kamu mau?" sambungnya sambil menyodorkan potongan pizza pada Rudi.


"Aku gak selera," kata Rudi mendudukan diri pada kursi sofa disamping Soraya.


Soraya menipiskan bibirnya, memakan kembali makanannya. Ia juga menambahkan saus sambal, sesekali ia membuka bibirnya akibat kepedasan.


Rudi mengedikan bahu, "Yang jelas aku tidur dikamar, terserah kamu mau tidur dimana."


Soraya menyipitkan pandangannya menoleh pada Rudi, "Kamu gak becanda kan?. Lalu kalau kamu tidur dikamar aku tidur dimana?" serunya.


"Atau kamu mau tidur bersamaku," kata Rudi yang menoleh, hingga tatapan mereka berdua bertemu. Terkunci sesaat, lekat Rudi memandangi wajah Soraya, memperhatikan dengan seksama. Sampai terhenti pada bibir Soraya yang —


"Ngak," tolak Soraya hingga orang dihadapannya tersentak.

__ADS_1


Rudi mengubah raut wajahnya datar. "Terserah kamu mau tidur dimana, asalkan tidak sampai melewati batas pintu itu," kata Rudi menunjuk pintu keluar. "Dan jangan mengotori tempat ini," sambungnya bangkit lalu menyodorkan selembar tisu pada Soraya.


Soraya meraihnya dan mengelap sisi bibirnya yang ternyata terdapat saus yang menempel disana.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, Soraya dari tadi membaringkan dirinya di sofa ruang tamu. Cukup lama ia berada di posisi meringkuk sambil memegangi perutnya yang terasa sakit. Meremas sebab merasakan nyeri yang makin menjadi, keringat pun membasahi dahinya.


Perutnya kini terasa makin melilit, dengan tergesa ia berlari menuju ke kamar mandi, sekali dua kali sampai berkali-kali. Tubuhnya sudah melemas saat keluar dari sana. Hal itu nyatanya tidak luput dari perhatian Rudi yang keluar kamar sebab mendengar kegaduhan yang ditimbulkan oleh Soraya.


"Kamu kenapa?" tanya Rudi usai menyalakan lampu utama.


Soraya meringis merasakan sakit, belum menjawab Rudi kembali berujar, "Kita ke rumah sakit."


Soraya menggeleng kemudian menarik pergelangan tangan Rudi dan berucap lirih, "Aku hanya butuh obat—diare."


To be Continue


pendek lagi 😅

__ADS_1


__ADS_2