
Sore ini Soraya dan Rudi sudah tiba di apartement, bagi Soraya rasanya kini seperti menghirup udara segar. Seminggu berada dirumah sakit rasanya begitu lama, yang ia temui hanya dokter, perawat juga psikiater dan lagi, obat tak pernah ada jedanya. Padahal secara pribadi ia benci dengan yang namanya obat.
"Mau makan dulu atau mandi terlebih dahulu?" tanya Rudi yang tiba-tiba muncul dari arah belakang, memegang kedua pundak Soraya. Sedikit terkejut namun Soraya segera menetralkan jantungnya yang mendadak berdetak. Kini ia menolehkan kepalanya ke belakang menatap Rudi. "Aku belum terlalu lapar," ucap Soraya setelahnya.
Rudi pelan mengangguk, Sorot matanya lekat memandang pada manik mata Soraya. Perlahan, Rudi menggerakkan tangannya membalikkan tubuh Soraya untuk berhadapan dengannya.
Sementara Soraya menangkap sorot mata Rudi yang seakan memerangkapnya. Bola mata kelam itu terlihat menyusuri tiap pahatan wajah Soraya dan kali ini berhenti di bibir Soraya. Satu tangan Rudi kini bergerak merapikan anak rambut yang sedikit mengganggu pandangannya, kemudian diselipkannya ke arah belakang telinga wanita dihadapannya.
Rudi memajukan langkah, tapi kini justru Soraya memundurkan langkahnya. Dengan sigap satu lengan Rudi menarik pinggang Soraya agar jarak mereka tak lagi menjauh. Bibir Soraya perlahan sedikit terbuka namun justru disambut dengan Rudi dengan gerakan mendadak, memberikan ciuman yang tadinya dengan gerakan pelan kini berubah menjadi kian dalam.
__ADS_1
Kejadian mendadak ini membuat Soraya terkejut, hingga ia tak bisa mengimbangi gerakan bibir milik Rudi, perlahan ia mulai menikmatinya dan hanyut dalam nalurinya. Tangannya mulai menapak pada dada bidang itu dan mencengkeram kuat kemeja yang dipakai oleh Rudi, seakan ia takut terjatuh sebab tak ingin kehilangan sebuah pegangan.
Perlahan cengkeramannya mulai mengendur sebab ada sesuatu yang tengah ia rasakan, yakni dada milik Rudi yang tengah berdebar seperti miliknya.
Perlahan Rudi melepaskan pungutannya, matanya perlahan terbuka menatap Soraya yang tengah mengelus dadanya yang kini berdentum keras serasa jantungnya ingin mendobrak keluar dari tempatnya.
Tangannya kini kembali terulur guna mengangkat dagu Soraya, tujuannya kembali mengecup bibir mungil Soraya berulang kali dan berakhir pada sebuah ciuman panjang. Membuat Soraya terbuai hingga tak sadar tubuhnya kini telah berpindah dan diangkat ke atas ranjang.
Dengan suara tercekat Soraya berusaha berujar, dan berteriak, "To—long." Kejadian yang lalu seolah kini terulang, terjadi lagi dan tak peduli siapapun yang ada dihadapannya, tubuh Soraya kini mulai dan mencoba berusaha untuk meronta, mendorong kuat tubuh di hadapannya. Hingga kini Rudi tersadar dan tersentak kaget. Kabut di matanya mendadak lenyap dan berganti kepanikan sebab Soraya kini tengah berteriak.
__ADS_1
"Tolong... Jangan sakiti aku!" teriak Soraya dengan tubuh bergetar.
Rudi mengumpat atas tindakannya yang tanpa perhitungan. Soraya nyatanya masih trauma, dengan kejadian yang lalu.
"Soraya, buka matamu. Aku Rudi Suamimu!" ucap Rudi yang menangkup wajah Soraya. Jemari tangan Soraya begitu kuat mencengkeram dadanya seolah berusaha menyembunyikan ketakutannya.
"Soraya... aku suamimu, Rudi," ucapnya lagi, meski berulang kali kini Soraya mulai mau mengikuti ucapnya. Membuka mata dan dengan terisak ia berucap terbata, "A—ku ta—kut."
Rudi pun tanpa kata langsung menarik Soraya kedalam pelukannya.
__ADS_1
To be Continue