Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 37


__ADS_3

"Kalau begitu Soraya permisi Tante, mau ke kamar," ucap Soraya kemudian berjalan menaiki anak tangga.


Saat pintu kamar Soraya tertutup sempurna, ia sudah tak bisa lagi menahan laju airmatanya. Tembok kokoh yang ia bangun runtuh seketika. Ia meremas dadanya kuat, kali ini sakit yang ia rasa. Nyatanya ia tak setegar saat berdebat tadi. Ia merutuki kebodohannya yang terlahir sebagai wanita cengeng, bahkan tanpa disadari ia sudah menabuh genderang perang akan ucapannya tadi.


Cukup lama Soraya berada di dalam kamar, selain mengambil barang yang diperlukan, ia juga berusaha menenangkan diri. Bersikap seolah dia dalam keadaan baik. Ia tak mau orang menganggapnya lemah, cukup kemarin ia menjadi penurut sebab tak tahu kalau sebenarnya mereka punya maksud dibalik kebaikan yang Soraya terima selama ini.


Tapi kali ini ia akan mengambil tindakan. Soraya berencana setelah dari tempat ini ia akan pergi menuju perusahaan menemui pengacaranya.


Begitu Soraya membuka pintu kamarnya, ia terkejut sebab Cindy tengah menungguinya. Mata Cindy menyoroti Soraya dari atas sampai bawah. Tatapannya kali ini sudah berbeda, tak ramah seperti biasa. "Hanya itu yang kamu bawa?" tanyanya melihat koper yang Soraya bawa.


"Soraya kapan-kapan akan kembali lagi, dan Tante tenang saja rumah ini masih bisa kalian tempati," kata Soraya menanggapi.


"Dasar kamu kurang ajar!" tuding Cindy terpancing emosi sampai-sampai ia menggertakan gigi.


Senyum tipis menyungging di bibir Soraya, "Itu karena Tante yang membuat Soraya hingga seperti ini."


"Apa maksud kamu?" tanya Cindy dengan kening mengerut.

__ADS_1


"Bukan kah Tante yang merencanakan agar Soraya bisa segera menikah dengan orang pilihan Tante, dan sayangnya rencana Tante tidak berhasil."


Rasanya kerongkongannya mendadak mengering. "Dari mana kamu tahu?" ucapnya setengah tercekat. Nyatanya rencananya telah diketahui oleh Soraya, dan kapan Soraya mengetahuinya, batinnya penasaran.


"Itu tak penting. Yang terpenting adalah aku ingin tahu apa sebabnya sampai Tante berusaha ingin menguasai harta almarhum orangtua Soraya dan lagi apa sebenarnya salah Soraya sampai-sampai Tante juga ingin mengendalikan hidup Soraya?" tanya Soraya dengan dada yang sudah naik turun bahkan matanya kini mulai terlihat berkaca.


"Itu karena kesalahan orangtua kamu, lebih tepatnya Hary Wijaya terdahulu yang tak bisa termaafkan," ucap Cindy mendesis dengan tatapan menusuk. Rasa kebencian tergambar di matanya.


Soraya terkesiap, mulutnya sedikit terbuka. Apalagi ini, batinnya. Yang ia tahu Papanya adalah orang baik, sampai pada usianya sekarang ini tak pernah ia mendengar berita buruk mengenai orang tuanya.


"Papa kamu yang telah menghancurkan hidupku, dan aku ingin kamu merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan dulu?" ancam Cindy pada Soraya.


"Dengar ya, Papa kamu yang sudah merenggut masa depanku, menghancurkan impianku hingga hadir Kevin sebagai anak yang tak dianggap kehadirannya. Dia lahir karena ulah brengsek Papamu, disaat kondisiku yang tak berdaya dia memperk***ku ," jelas Cindy geram, mengucapkan hal ini sama seperti mengorek kisah kelamnya dulu. Ia menarik nafas dan kembali berujar, "Jadi alasanku jelas, aku sedang berjuang untuk mendapatkan hak yang seharusnya Kevin dapatkan," sambung Cindy penuh penekanan.


Soraya membungkam mulutnya dan menggeleng, Papanya bukan orang seperti itu. "Gak, Soraya gak percaya dengan apa yang Tante ucapkan. Bila benar adanya kenapa justru Tante menikah dengan Om Bramantyo kenapa bukan Papa?" tanya Soraya yang semakin bingung dengan ucapan yang berbanding terbalik dengan kenyataan. Mengingat usia Soraya dan Kevin hampir sama, hanya berbeda bulan saja.


"Itu karena Papamu meβ€”," ucapan Cindy terhenti sebab mendengar teriakan anak perempuannya, Angel.

__ADS_1


Cindy tak melanjutkan kalimatnya ia pergi menuju arah tangga, dan sebelum menuruni anak tangga ia menoleh. "Bila kamu terus maju aku tak akan pernah mundur, karena pasti anak-anakku akan mendukungku," ucapnya terdengar percaya diri.


Soraya meluruh saat Cindy tak terlihat lagi, air matanya kembali jatuh. "Kesalahan apa yang telah Papa lakukan, aku cuma berharap itu semua gak benar" gumam Soraya ditengah isakannya.


Sesuai dengan pesan Rudi. Soraya tak pergi kemana-mana, bahkan ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke perusahaan sebab pikirannya kini tengah kacau. Ia pulang ke apartemen pun diantar oleh supir.


Sampai di apartement pun pikiran Soraya masih di selimuti oleh kekalutan, ia berjongkok menelangkupkan wajahnya pada dengkul kakinya sambil menangis sesegukan. Tak lama bunyi pertanda pintu apartement terdengar, pintu yang terbuka menampilkan sosok Rudi.


Rudi terheran sebab menemukan Soraya yang duduk berjongkok diatas lantai tanpa alas, ia pun mendekat kemudian menyetarakan tingginya. "Kamu kenapa?" ucapnya disertai memegang puncak kepala Soraya.


Soraya yang mendapat perlakuan seperti itupun kemudian mendongakkan kepalanya. Rudi bisa melihat dengan jelas wajah Soraya. Matanya tampak sembab dan ujung hidungnya tampak memerah, ia yakin Soraya sudah menangis terlalu lama.


Belum mengeluarkan ucapannya Rudi begitu tersentak kala Soraya tiba-tiba menubruknya. Soraya sudah tak peduli lagi, ia kini sudah menghambur mendekap erat Rudi. Menangis kembali bahkan suara tangisannya sudah tak mampu ia tahan-tahan lagi. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah sandaran, agar tak terjatuh dan berharap dirinya tak sampai terinjak.


Masa bodoh jika Rudi bingung akan sikapnya yang paling penting ia bisa meluapkan kesakitan yang ia pendam melalui tangisan. Dan anehnya pria yang dipelukannya ini mampu membuat hatinya menjadi lebih tenang.


To be Continue

__ADS_1


jangan lupa , dikomen, jempol tanda cinta juga VOTE nya yaaaa


agar author makin semangat updatenya 😘


__ADS_2