Risalah Hati

Risalah Hati
Ekstra Part


__ADS_3

Lanjutan yang kemarin!


"Lapar..." keluh Soraya seraya mengulus perutnya.


"Mau makan dimana?"


"Hmm..." Soraya bergumam sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuk pada dagunya.


"Sea food," usul Rudi yang masih tetap fokus menyetir.


"Gak! Aku pengen makan burger," sahut Soraya yang beralih menatap ke arah suaminya.


"Itu gak sehat," ucap Rudi masih tetap tak merubah arah pandangnya.


Soraya mendegus dab memasang wajah cemberut kembali menatap lurus kedepan, kini bahkan ia melipat tangannya bersidekap dada.


Rudi seolah bersikap biasa saja, sebab akhir-akhir ini Soraya memang sering bersikap demikian, emosinya sering kali naik turun dengan sebentar-sebentar ngambek dan dalam waktu dekat akan merasa baik kembali. Wanita memang makhluk unik, batin Rudi seraya tersenyum tipis.


"Oh ya, tadi kamu tahu gak waktu proses persidangan berlangsung begitu tegang, sampai aku merasa takut kalau terdakwa meminta untuk naik banding tapi nyatanya setelah hakim menjelaskan surat keputusan vonis hukuman dan meminta untuk memilih banding atau hukuman, terdakwa malah memilih pasrah begitu saja. Aneh kan?" kata Soraya menjelaskan kejadian yang dialaminya. "Tapi kalau dipikir-pikir aneh gak sih, terdakwa sebelumnya ngotot tak mengakui perbuatannya, dia juga orang kaya. Gak mungkin dong, kalau dia kekurangan uang untuk sewa pengacara?" sambung Soraya mengutarakan hal yang dirasanya cukup janggal.


"Bukankah itu justru lebih baik, masalah cepat selesai," sahut Rudi yang kini menoleh menatap ke arah Soraya dan bertepatan mobil kali ini sedang berhenti dilampu merah.


Soraya mengangguk ragu tapi beda hal dengan isi pikirannya yang sibuk memikirkan kejadian tadi.


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan yang tadi sudah berlalu, buka lagi lembaran baru.


Katanya mau makan?" ucap Rudi mengingatkan kemudian ia menginjak pedal gas mobilnya hingga mobil kembali melaju.


Soraya mendesah. "Kita ke Mall ya," ujarku lesu.


Rudi kemudian mengangguk dan hal itu tentu saja disadari oleh Soraya, seketika hatinya kini merasa senang, bukan tanpa sebab ia sampai bersikap aneh sedemikian rupa, itu alasannya adalah hormon tubuh pada dirinya. Ia baru sadar bahwa dirinya tengah mengandung tak lama ini, untuk pemeriksaan dari tespack hingga ke dokter telah ia lakukan tapi tanpa sepengetahuan suaminya. Hai itu ia lakukan semata-mata ingin memberi kejutan kepada suaminya.


Rencananya adalah hari ini, ia sudah menyiapkan surat dari dokter begitu pula alat tes kehamilan yang sudah dibungkusnya rapi dalam kotak sebagai hadiah untuk suaminya. Bahkan kini hatinya sudah berdebar membayangkan bagaimana reaksi suaminya bila tahu ada benih cinta mereka berdua yang tengah tumbuh dalam rahimnya.

__ADS_1


Kini mobil sudah terparkir di lantai basement Mall. Rudi dan Soraya pun segera memasuki gedung Mall menuju area food court, setelah berputar-putar Soraya tak jadi memilih menu burger tetapi ia memilih satu kotak donat dengan varian rasa yang berbeda.


Begitu asyik Soraya menikmati tiap rasa yang tersaji sampai tak sadar ia telah menghabiskannya tanpa bersisa, bahkan Rudi sampai geleng kepala dibuatnya.


"Lagi..." kata Soraya merajuk.


Rudi menggeleng. "Kamu akan sakit perut nanti," sahut Rudi.


"Tapi aku masih lapar," ucap Soraya kini memelas.


Rudi tetap menggeleng kemudian beranjak dari duduknya menarik pelan lengan Soraya agar bangkit berdiri dan mengikutinya. "Makan nasi, aku ijinkan," kata Rudi kemudian.


"Pulang saja deh," sahut Soraya memasang wajah cemberut.


"Yakin?"


"Hmm," sahutnya bergumam.


"Hampir saja." Soraya berucap lega dan mendekat ke arah Rudi. "Dimana orangtuanya?" kata Soraya sambil menoleh ke arah sekitar.


Tak lama terdengar seruan lelaki tengah memanggil sebuah nama, "Andra!"


Sontak hal itu membuat Rudi dan Soraya menoleh ke sumber suara. Rasanya tak bisa dipercaya, Rudi sedikit terkejut bahwa sosok yang tak jauh darinya adalah Reynand.


"Lama tidak bertemu," kata Reynand saat sudah berdiri di hadapan Rudi dan Soraya.


Rudi pun tersenyum tipis kemudian berujar, "Dia anakmu?"


"Iya, Andra sini ikut dengan Papa," kata Reynand hendak mengambil alih anaknya namun lengannya ditepis oleh Soraya.


"Lain kali hati-hati, dia hampir saja turun sendiri kesana," ucap Soraya seraya menunjuk kearah tangga eskalator.


"Maaf itu karena kelalaianku dalam menjaganya dan terimakasih karena telah menolongnya," kata Reynand mengakui kesalahannya.

__ADS_1


"Lalu dimana Mamanya, apa dia tak berada disini?" ucap Soraya.


Pertanyaan yang diucapkan Soraya seakan membuat Rudi dan juga Reynand menoleh menatap bersamaan. Menyadari Soraya yang sedikit bingung karena sikap mereka, kini Reynand berdehem. "Ada disana," ucapnya sambil menunjuk kearah letak meja makan yang lokasinya cukup jauh dari mereka.


"Bagaimana kalau kita, maksudku suamiku dan aku ikut kesana, bukankah kalian berdua saling mengenal jadi sepertinya kalian perlu waktu untuk mengobrol," kata Soraya memberi usul namun ditanggapi Rudi dan Reynand dengan ekspresi canggung namun bisa sama-sama mereka tutupi.


"Kurasa ide yang bagus," sahut Reynand dan diangguki oleh Rudi.


"Baiklah kita kesana saja sekarang," kata Soraya menyahuti dan merekapun kini mulai berjalan menuju salah satu meja makan yang di duduki oleh Amaira.


Saat langkah mereka mendekat kini giliran Soraya dan Amaira yang sama-sama tersentak kaget, hal itupun disadari oleh suami mereka berdua. Soraya terkaget melihat Amaira yang tak lain adalah mantan suaminya, sedangkan Amaira terkejut akan kehadiran Rudi yang berada dihadapannya.


"Mari duduk," kata Reynand yang memecah sejenak kebisuan. "Dan perkenalkan dia istriku Amaira Husna," sambung Reynand mengenalkan istrinya pada Soraya.


Soraya pun beralih menatap kearah suaminya, ia menunggu apa Rudi mau mengeluarkan suara untuk mengenalkannya sebagai istrinya di depan mantan pacarnya. Namun nyatanya tidak, kali ini justru Amaira yang bersuara, "Kamu pasti istrinya Rudi."


Soraya pun menoleh kemudian mengangguk. "Perkenalkan namaku Soraya."


Amaira tersenyum dan berujar, "Aku sering melihatmu di televisi."


Soraya tersipu kemudian berujar, "Pasti tentang berita keburukanku di infotainment."


"Tidak, bukan. Aku sering melihatmu dengan aktivitasmu sekarang yang baru, menjadi aktivis sosial," ucap Amaira dan diangguki oleh Soraya yang tersenyum simpul kearahnya.


"Kamu sedang hamil?" tanya Soraya saat arah pandangnya turun melihat perut Amaira yang sudah membulat.


"Iya, usianya sudah menginjak delapan bulan," sahut Amaira dengan bangga.


"Maaf, kalau begitu kita duduk dulu," kata Soraya yang mengintruksi. "Maaf pasti kamu lelah karena kelamaan berdiri," sambung Soraya yang merasa tak enak karena terlalu banyak bicara, hal itupun membuat Amaira terkekeh.


Beda halnya kini dengan Reynand dan Rudi yang saling pandang, semula mereka takut akan terjadi hal-hal yang tidak-tidak pada istri mereka, tapi yang mereka lihat justru keakraban yang terjalin begitu mudahnya.


Masih berlanjut...

__ADS_1


__ADS_2