
"Siapa Non?" tanya Bik Mar penasaran. Sebab setelah membaca pesan tersebut, Soraya menggeletakkan ponselnya begitu saja diatas meja makan.
"Isinya gak penting Bik," kata Soraya tak peduli, ia kembali melanjutkan makannya yang lagi-lagi tertunda. Tapi justru panggilan telpon kali ini muncul.
"Diangkat Non, kali aja penting." Bik Mar semakin membujuk.
Dengan malas Soraya meraih ponselnya, ia hanya mendengar dan sesekali membalas ucapan dari orang diseberang sana dengan gumaman. Saat telpon ditutup Soraya berujar pada Bik Mar. "Bik, Soraya mau keluar sebentar ada sedikit urusan."
Soraya kemudian bangkit menuju kamar untuk berganti pakaian dan mengambil tasnya. Setelah itu ia keluar dari apartement menuju bandara.
Sesampainya di terminal 3 Soekarno Hatta. Soraya tak perlu menunggu lama, sebab dari kejauhan terlihat sosok lelaki yang sangat ia kenali meski sudah setahun lebih tak bertemu, terakhir bertemu adalah kala lelaki itu cuti pulang.
Lelaki itu memakai kaos dan jaket yang lengannya tampak digulung sampai setengah siku. Rambut sedikit berantakan juga memakai kacamata hitam yang bertengger dihidungnya.
"Kemana saja kamu, kenapa baru datang?" kata lelaki itu yang tak lain adalah sepupu Soraya, Kevin. Ia berusaha meraih dan mengacak rambut Soraya, tapi segera Soraya menepis tangannya.
"Lagian, kenapa gak naik taxi saja. Manja!" dumel Soraya.
"Lama tidak bertemu kenapa jadi jutek begini Nona?" ucap Kevin hendak menarik hidung Soraya.
"Haiiisttt— gak usah pegang-pegang!" ucap Soraya sambil memberi pelototan pada Kevin, hingga lelaki itu mengurungkan niatnya.
Kevin justru berdecak kemudian mengapit bahu Soraya dan memaksa untuk mengikuti langkahnya. Soraya berusaha menepis namun usahanya tak berhasil.
"Kopermu mau ditinggal disini?" kata Soraya mengingatkan, sebab kopernya dibiarkan begitu saja.
Kevin menghentikan langkahnya kemudian menunduk menatap Soraya dengan menaikkan sebelah alisnya. "Kamu yang bawa," ujarnya kemudian berbalik kembali ke arah koper yang sudah berjarak beberapa meter dari tempat berdiri mereka. Soraya pun menuruti kata Kevin kemudian berjalan keluar dari gedung bandara sambil menarik koper milik Kevin.
Selama di dalam taxi, Soraya hanya terdiam dengan fikirannya. Sikapnya tadi memang tak seperti biasa, ia hanya tiba-tiba merasa jengkel akan ucapan Tantenya. Yang mengatakan anak-anaknya akan berpihak padanya. Itu artinya kubu musuh jumlahnya kian bertambah.
Hal itu disadari oleh Kevin yang duduk disamping Soraya, ia dari tadi memperhatikan sikap aneh yang ditunjukkan oleh Soraya. Ia sangat hafal perigai maupun watak dari Soraya. Kali ini ia berfikir mungkin wanita disampingnya sedang kedapatan tamu bulanan, oleh sebab itu wajah Soraya nampak cemberut juga tak banyak bicara, batin Kevin.
"Pak, putar arah." Perintah Kevin pada supir taxi.
__ADS_1
"Kenapa, kita kan sebentar lagi akan sampai?" tanya Soraya yang terheran, padahal jarak ke rumah sudah dekat.
"Aku lapar," jawab Kevin seraya menyenderkan kepalanya pada jok mobil.
"Kamu kan bisa makan dirumah," kata Soraya kesal.
"Sayangnya dirumah gak ada menu yang aku mau. Pak ke warung bakso yang paling enak di Jakarta," ucap Kevin memberi arahan pada sang supir taxi.
Tiba diwarung bakso yang nyatanya dipadati oleh pengunjung, Kevin memaksa masuk sebab sesuai dengan rekomendasi sang supir taxi, rasa bakso ditempat itu sangat enak. Gak bakal nyesel kalau sudah nyobain katanya. Makanya Kevin kian penasaran.
Pesanan mereka sudah datang, mereka berdua bahkan langsung menyantapnya. Suasana warung yang sesak dan hanya di fasilitasi kipas angin tempel disudut ruangan, membuat Soraya merasakan gerah yang luar biasa ditambah dengan kuah bakso yang masih panas.
Soraya mencoba menyeka keringatnya, namun terhalang tangan Kevin yang kini sedang mengelap wajah Soraya menggunakan tisu. Refleks Soraya memundurkan wajahnya. "Aku bisa sendiri," kata Soraya merebut tisu dari tangan Kevin. "Cepat habiskan makanannya, aku masih ada urusan." Sambung Soraya memberi perintah.
"Apa masih ada jadwal syuting?" tanya Kevin sambil menyeruput kuah bakso.
"Gak, sementara aku masih vakum di dunia hiburan."
"Sembarangan. Aku ingin pindah management artis," jawab Soraya menampik ucapan Kevin. "Udah belum makannya, lama banget. Aku masih ada urusan."
"Urusan apa sih sebenernya. Syuting gak, lalu apa urusanmu?"
"Belajar masak,"
Kevin justru tertawa, sulit dipercaya. Ia menggelengkan kepala, angin apa yang membawa anak manja ini berubah. Dan hal apa yang ia lewatkan selama tak bersama Soraya, batinnya.
Soraya merasa menjadi bahan ejekan, ia kesal sebab dari tadi Kevin sibuk menertawainya. Soraya pun bangkit meninggalkan bangku tempatnya makan berjalan menuju luar. Kevin pun mulai menyusul pergi, tapi sebelumnya ia membayar terlebih dahulu.
Mobil taxi telah tiba di depan rumah. Saat Kevin turun dari mobil ia terheran sebab Soraya tak kunjung mengikutinya, "Ngapain kamu masih duduk disitu? Turun!" perintah Kevin.
"...," Soraya menggelengkan kepala.
"Apa kamu mau pergi lagi?"
__ADS_1
"Sayangnya aku sekarang sudah tidak tinggal disitu."
"Lalu kamu tinggal dimana?" tanya Kevin menunduk yang masih memegangi pintu mobil.
"Tinggal bersama suami."
Wajah Kevin yang tadinya jenaka berubah menjadi serius, "Ngomong apa barusan?"
Soraya menoleh menatap Kevin. "Aku sudah menikah. Tepatnya beberapa hari yang lalu."
Seperti tersentak, Kevin berusaha tak percaya. Tapi saat ia melihat tangan Soraya yang berada diatas pangkuan, ia dengan cepat menariknya. Cincin bertengger di jari manis Soraya. "Kapan?" pertanyaan Kevin berubah dingin.
"Beberapa hari yang lalu," ucap Soraya.
"Kenapa aku sampai tak tahu hal ini?" air mukanya berubah geram, seakan menahan amarah.
Soraya menepis tangannya, "Aku pikir itu tak penting," ucap Soraya .
"Aku butuh penjelasan, kamu ikut aku!" ucap Kevin menarik kembali tangan Soraya, memaksanya untuk keluar dari mobil taxi.
Sebelum benar-benar keluar dari taxi, Soraya berujar, "Aku pikir bukan aku orang yang tepat memberi penjelasan. Yang perlu kamu tanyakan adalah Mamamu!" Soraya menarik tangannya lalu setelah terlepas ia menutup pintu dengan keras dan meminta supir taxi segera meninggalkan tempat.
Sementara Kevin mengeram, setelah mobil taxi yang ditumpangi oleh Soraya pergi. Niatnya pulang lebih awal adalah memberi kejutan, tapi justru ia yang lebih dikejutkan. Hal apa yang ia lewatkan selama ini, sampai-sampai Soraya sudah ada yang memiliki, rutuknya dalam hati.
To be Continue
Besok bagiannya Bang Rudi yaaaa
Yang kangen mana suaranya
ini Kevin, adakah yang kenal?
__ADS_1