Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 11


__ADS_3

Matahari belum menampakkan sinarnya, Rudi terbangun seperti biasa. Ia bangun terduduk sejenak di tepian ranjang kemudian beranjak menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Berganti pakaian lengkap lalu keluar dari kamarnya.


Rudi menuju ke arah pantry untuk meneguk segelas air putih. Baru satu tegukan, ekor matanya menangkap sesuatu yang nampak asing.


Uhuukk... Rudi hampir saja tersedak, sebab mengingat wanita yang semalam ia bawa pulang dan sekarang masih berada di apartement miliknya. Ia kemudian melangkah menuju ruang tamu.


Rudi menggeleng, disana terlihat seorang wanita yang tidur dengan posisi meringkuk bak janin, selimut yang dipakai juga melorot jatuh ke lantai.


Segera Rudi meraih selimut lalu menutupi tubuh wanita itu agar tidak kedinginan, pikirnya. Kemudian ia beranjak keluar dari apartement menuju tempat gym yang tersedia di lokasi apartement.


Tigapuluh lima menit berlalu, Soraya menggeliat lalu mengerang akibat merasakan pusing di kepala disertai rasa pegal di sekujur tubuhnya. Ia mendudukan diri sejenak, namun matanya kembali terpejam, separuh badannya ambruk kembali pada kursi sofa.


Pelan matanya terbuka, sedikit-sedikit kesadarannya mulai kembali pulih.


"Kenapa kamarku berbeda?" gumamnya dengan mata mengedar, tak lama matanya terbelalak disertai mulut yang menganga.


"Aku dimana!" pekiknya dengan cepat ia beranjak kembali duduk, namun justru kepalanya justru bertambah pusing.


Dirabanya dengan kasar tubuhnya, meneliti apa ada yang kurang disana. "Masih lengkap. Bajuku dan tasku juga ada," ucapnya setengah lega.


Perut yang terasa melilit kini melanda, dengan segera Soraya bangkit mencari kamar mandi. Sambil memegangi perut, ia berlarian mencari letak toilet. Setelah menemukannya, ia terduduk di kloset kamar mandi guna menyelesaikan panggilan alamnya.


Lima belas menit, kelegaan terasa. Ia duduk tercenung masih di atas kloset. Ia seakan memikirkan bagaimana ia bisa sampai ke tempat ini. L siapa orang yang membawanya kemari.


"Gak bakal dapat solusi kalau aku tetap disini," gumamnya.


Soraya bangkit kemudian membersihkan diri, setelah usai ia keluar dari kamar mandi. Pandangan matanya mengedar, ia belum pernah ketempat ini. Bisa dilihat dan dinilai bahwa tempat ini cukup mewah, pasti pemiliknya bukan orang biasa, pikir Soraya. Ia cukup bisa membedakan barang yang murah atau mahal, meski wujudnya tak wah tapi terlihat elegant.


Soraya mulai mengitari seluruh ruangan yang cukup luas namun tak banyak ruangan. Ia berputar mencari siapa pemiliknya, tapi hanya sepi dan yang ia dapat.


"Coba deh aku periksa kamar ini," gumamnya didepan pintu kamar.

__ADS_1


Ketukan pintu sudah ia coba tiga kali, tapi tak kunjung dapat jawaban dari dalam. Soraya yang cukup penasatan, bergerak secara perlahan membuka handle pintu. Ia melongokkan kepalanya ke dalam kamar, matanya mulai memindai seisi ruangan.


Kosong, batinnya.


"Apa yang kamu lakukan?" ucap seseorang dibelakang Soraya, yang mampu membuatnya tersentak. Jantungnya seakan copot akibat terlonjak kaget.


Antara menormalkan jantung dan ingin marah, Soraya berucap "Aku hanya ingin mengecek, rumah ini berpenghuni atau tidak?"


"Aku pemiliknya."


Soraya membalikkan badannya, sejenak ia menganga seakan tak percaya didepan matanya kini ada, "Dokter Rudi?"


"Sampai kapan kamu berada di depan pintu?" tanya Rudi terkesan datar.


Soraya tersadar lalu bergeser, hingga Rudi melewatinya tanpa kata kemudian masuk ke kamar. Pintu tertutup, Soraya menggeleng kepala. "Apa aku bermimpi," ucapnya menepuk pipi.


Soraya terduduk di kursi Sofa, menunggui pintu kamar Rudi sampai terbuka. Belum genap setengah jam, tapi yang dirasanya lama sekali hingga ia tak kuasa duduk bangkit berdiri mengulangnya sampai berkali-kali.


Soraya mengikuti dan memperhatikan gerak gerik Rudi yang sepertinya sedang membuat sarapan.


"Kamu mau sarapan?" ucap Rudi tanpa menoleh, ia masih sibuk memasukan roti pada alat pemanggang.


"A—aku?" tanya Soraya, yang dari tadi tercenung mengamati kegiatan Rudi.


Rudi mendongak, melihat Soraya dengan alis naik sebelah.


"Kalau kamu tak keberatan," ucap Soraya. Tanpa menjawab Rudi melanjutkan kegiatannya.


Setelah sarapan tersaji,mereka berdua kini duduk saling berhadapan. Menikmati makanan dalam kesunyian. Soraya menegak susu putih digelasnya, ia melirik Rudi yang belum selesai makan.


Dengan ragu ia mulai mengeluarkan suara, "A—aku butuh penjelasan."

__ADS_1


Kening Rudi berkerut, ia menghentikan kunyahan di mulutnya. Lalu menatap orang didepannya. Sedang Soraya menahan gugupnya melihat tatapan Rudi yang sulit terbaca.


"Kamu tak ingat dengan yang terjadi semalam?"


Soraya menggeleng pelan, lalu mencoba mengingat-ingat, "Aku kemarin di Club, dan terakhir yang aku ingat, aku berada di toilet. Kepalaku pusing dan aku tak ingat lagi."


"Kamu mabuk."


"Aku gak mabuk!"


"Lalu bagaimana bisa kamu tak sadarkan diri?"


"Entahlah, tapi benar aku gak mabuk," ucap Soraya menyangkal tuduhan Rudi.


Rudipun berfikir, ia juga tak mencium bau alkohol dari orang didepannya. "Lalu bagaimana kamu bisa tak sadarkan diri?"


"Aku juga tak tahu, disana aku hanya minum satu gelas minuman dan terasa sedikit pahit. Setelah itu badanku terasa tak nyaman dan lagi kepalaku pusing, jadi aku tak ingat apa-apa sampai pagi ini aku berada disini," jelas Soraya.


"Jadi kamu tak ingat dengan kejadian semalam?" tanya Rudi kembali.


Soraya menggeleng pelan, ia mulai penasaran tapi juga muncul ketakutan secara bersamaan, "Memang, apa yang terjadi dengan semalam?"


Rudi memutar bola matanya, sebelum memejamkannya.


"Bisa kamu jelaskan padaku?" Soraya kian terdesak. Apa yang terjadi, pikirnya.


"Jelaskan, aku butuh penjelasanmu. Kenapa kamu diam?" ucap Soraya lagi yang membuat Rudi membuka matanya disertai menatap orang didepanya.


"Jelaskan!" kata Soraya lagi.


Pandangan mata Rudi mengarah pada bibir Soraya, bibir yang semalam baru saja mencium bibir miliknya. Merenggut ciuman pertamanya. Dan kini orang didepannya meminta penjelasan. Lelucon macam apa ini?, batinnya.

__ADS_1


To be Continue


__ADS_2