Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 27


__ADS_3

Acara yang dinanti-nanti sedang berlangsung. Dekorasi tampak indah dan megah, dihias dengan bunga segar di tiap meja tamu undangan. Di ballroom hotel Wijaya resepsi pernikahan Soraya dan Rudi digelar.


"Saya terima nikah dan kawinnya Elvina Felicia Soraya binti Hary Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seberat dua puluh dua gram dibayar tunai."


Masih terngiang jelas ikrar suci yang diucapkan oleh Rudi tadi pagi. Soraya memandangi cincin yang tersemat di jari manisnya. Rasa sedih kentara diraut wajahnya meski sudah tertutupi riasan. Seharusnya ini hari yang bahagia, namun tidak dengan yang dirasakan Soraya.


"Kenapa?" tanya Jenny dengan suara pelan memahami temannya yang saat ini terlihat melamun.


Soraya menggerakkan bola matanya kemudian menggeleng pelan, bibirnya bergerak membentuk garis simetris tatapannya juga sendu.


Jenny berdecak, "ini hari pernikahanmu, seharusnya ini jadi hari yang bahagia. Tapi kenapa malah sedih kayak gini?"


Jenny menarik kedua sudut bibir Soraya yang pasrah akan tindakan yang Jenny lakukan padanya. Hingga membuat lengkungan aneh dan tak enak dipandang mata.

__ADS_1


Jenny terkekeh, namun Soraya menepis malas tangan Jenny.


"Kenapa?. Cerita," ucap Jenny lembut.


"Papa Mama gak ada," jawab Soraya lesu menatap kearah Jenny.


Helaan nafas tak terelakkan, Jenny mulai paham. Momen yang sakral dalam hidup tanpa disaksikan kedua orangtua. Selama ini hidup tanpa orangtua, punya keluarga tapi tak ada rasa empati sama saja hidup dalam kesendirian. Apalagi kali ini, menyaksikan Soraya yang merasakan kebahagiaan sendiri itu ternyata menyesakkan.


Soraya menanggapinya meski dengan anggukan samar.


"Lagi pula harapan untuk menikah juga sudah tercapai. Gak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, kamu sudah bisa hidup bebas dan hak aset orangtuamu dipastikan dalam waktu dekat ini akan jatuh ketangan kamu. Karena dengan status pernikahan ini, sekarang dan tepatnya hari ini syarat dari wasiat almarhum Papamu sudah kamu capai. Jadi selamat," kata Jenny dengan bangga seraya mengulurkan tangannya sebagai tanda ucapan keberhasilan untuk Soraya.


Soraya yang tadinya menunduk kini mendongak hendak menatap Jenny. Namun ia seketika terkesiap dan langsung bangkit berdiri dari duduknya, Soraya menatap Rudi yang berdiri diambang pintu. Entah, sejak kapan lelaki itu berdiri disitu.

__ADS_1


Soraya menggigit bibirnya, terlihat jelas Rudi menatapnya dengan pandangan serius. 'Apa dia mendengar ucapan Jenny barusan. Bagaimana bila Rudi meminta penjelasan,' kalimat itu bercokol dalam pikirannya.


Sementara Jenny sudah gelisah, merutuki ucapnya. Kini diruangan suasana serasa mencekam.


"Acara akan segera dimulai," kata itu terdengar dingin ditelinga bagi siapa saja yang mendengarnya.


Tak mau Rudi menunggunya terlalu lama, Soraya berjalan menuju arah pintu. Segera ia meraih siku Rudi untuk menyelusupkan tangannya dan berjalan beriringan ke tempat resepsi.


Soraya berdiri dalam gelisah, ia terhanyut dalam pikirannya. Ingin rasanya ia menjelaskan pada Rudi agar tak ada kesalah pahaman, meski yang diucapkan Jenny tadi adalah kebenaran. Ia ingin dirinya sendiri bukan dari orang lain.


Sedangkan pandangan Rudi terlihat dingin, walau sesekali tamu undangan menyapa dan memberi mereka ucapan selamat. Soraya tak bisa menebak apa yang lelaki itu tengah pikirkan. Ia hanya merapal dalam diam semoga acara malam hari ini segera selesai.


To be Continue

__ADS_1


__ADS_2