
Soraya berdecak, namun tetap mengikuti ucapan Rudi. Mengalungkan kedua tangannya melingkar di leher Rudi.
"Jangan mengeluh dan mengatakan kalau tubuhku berat," hardik Soraya sesaat setelah Rudi bangkit berdiri membawa serta tubuh Soraya yang digendongnya dibelakang punggung.
Sepanjang jalan menuju pintu lift, Soraya tak hentinya mengulum senyum. Bagaimana tidak, lelaki kaku dan bermulut pedas ini nyatanya bisa romantis juga. Romantis? dalam hati Soraya menarik kata-katanya. Meralatnya dan mendefinisi belum sepenuhnya, batinnya.
Rudi berdecak, "Jangan senyum-senyum. Tekan pintu liftnya. Tak tahu apa kalau tubuhmu ini benar-benar berat."
"Bukankah aku sudah mengatakan, jangan mengataiku berat! Lalu bagaimana bisa kamu tahu aku sedang tersenyum?" tanya Soraya melongokan kepalanya mendekat pada wajah Rudi.
Sekilas Rudi melirik ke arah samping Soraya, hingga pandangan mereka bertemu, sesaat kemudian menoleh menunjuk dengan mengangkat dagunya pada pintu kaca diseberang lift. Soraya mengikuti arah pandang Rudi, terlihat jelas pantulan dirinya dari balik kaca hingga ia tak bisa mengelak.
Ekspresi Soraya menampilkan wajah cemberut iapun segera menekan tombol lift. Pintu lift terbuka mengantarkan mereka sampai pada lantai yang dituju.
"Apa masih sakit?" Rudi menurunkan Soraya di ruang tamu.
__ADS_1
"Hmm, dibagian sini masih terasa nyeri." Tunjuknya di bagian kaki yang terdapat luka memar. "Pasti sampai besok bekasnya gak hilang, padahal besok aku ada pemotretan," keluhnya sambil menatap Rudi.
Rudi bangkit meninggalkan Soraya yang masih mengelusi kakinya, tak lama ia kembali membawa handuk berisikan es batu didalamnya. "Kompres pakai ini," kata Rudi meletakkan kompres dikaki Soraya.
"Rudi," panggil Soraya ragu. Rudi menoleh dan hanya menaikkan alis sebelah. "Apa kamu pernah melakukan hal tadi pada pacar -pacarmu terdahulu?"
Rudi terdiam tak menjawab. "Dengan wajah yang cenderung dingin datar, aku tebak pasti belum pernah?" celetuk Soraya sok tahu.
"Iya memang aku belum pernah," jawab Rudi membuat Soraya membelalakkan matanya.
"Padahal aku tadi hanya asal tebak, apa aku termasuk wanita beruntung yang bisa dekat denganmu?" tanya Soraya lagi-lagi, ia sampai-sampai menggigit lidahnya. Terlalu berani ia bertanya demikian, batinnya...
Soraya memutar bola matanya, "haruskah?" cicitnya. Sementara Rudi membalasnya dengan mengedikan bahu.
"Bagaimana kalau ini?" kata Soraya kemudian mengecup pipi kiri Rudi sekilas, secepat kilat ia kembali duduk ke posisinya. Tapi sepertinya ia kesal karena wajah Rudi masih terlihat datar, sementara Soraya sudah menekan rasa malunya mati-matian.
__ADS_1
"Harusnya seperti ini," kata Rudi bergerak cepat menangkup kedua pipi Soraya, menempelkan bibirnya pada milik Soraya.
Sontak mata Soraya terbelalak, ia benar-benar dibuat terkejut oleh orang dihadapannya. Sesuatu yang tersembunyi dibalik dadanya tiba-tiba mendobrak ingin keluar.
Saat Rudi menarik kepalanya mundur memberi jarak, tubuh Soraya memaku. Salivanya serasa mennyangkut ditenggorokan. Rasanya untuk bernafas saja ia merasa kesulitan, apa mungkin karena pasokan udara disekitarnya diambil alih oleh orang dihadapannya, batinnya.
Melihat ekspresi Soraya yang terkejut Rudi berseloroh, "Jangan bilang itu ciuman pertamamu?" ucapnya dengan alis terangkat.
"I—iya," suara Soraya tercekat, sulit rasanya berbicara walau yang diucapkan hanya sepatah kata.
Rudi menggeleng. "Rasanya aku perlu mengigatkanmu," katanya sambil mendekatkan wajahnya pada Soraya.
Sontak Soraya membungkam mulutnya disertai dengan gelengan, membuat Rudi memundurkan sedikit wajahnya. Ingatan samar itu tiba-tiba kembali muncul, "Jadi itu benar?"
"Menurutmu?" ucap Rudi justru balik bertanya.
__ADS_1
Soraya melepas tatapan Rudi yang terlihat lekat mengamatinya. Hatinya kini berdenyut aneh. Kenapa dulu hingga sekarang sikap Rudi datar-datar saja, batinnya. Padahal hal itu sudah masuk kategori luar biasa bagi Soraya. Bila dibandingkan dengan yang sekarang, ciuman yang dulu dirasa cukup gila.
To be Continue