
Di tengah perjalanan Rudi mendapat panggilan telpon, segera ia memasang ear phone ke telinganya. Kegusaran muncul di wajahnya, dan hal itu di sadari oleh Soraya yang ternyata dari tadi memperhatikan.
Soraya tak dapat mendengar jelas pembicaraan yang sedang berlangsung, hanya saja ia mendengar Rudi mengatakan, "Aku akan segera kesana."
Selepas pembicaraan yang telah berakhir Rudi berujar, "Maaf, aku tak bisa mengantarmu sampai rumah."
"Aku tahu. Mmm, kamu turunkan saja aku di halte dekat sini," ucap Soraya.
Tak mungkin dia egois memaksa Rudi mengantarkannya sampai rumah, mungkin saja lelaki di sampingnya saat ini sedang punya kepentingan yang amat mendesak, kalau diperhatikan dari gelagatnya.
Mobil mulai berjalan pelan, mengambil posisi minggir dan berhenti tepat di sebuah halte yang tak cukup ramai.
"Kamu gak apa-apa aku turunkan disini?" tabya Rudi sambil melihat tempat sekitar.
"Aku sering lewat sini, jangan khawatir," sahut Soraya sambil membuka pintu mobil, namun sejenak dia urungkan kemudian menoleh ke arah Rudi.
"Ada apa?" Tanya Rudi yang tengah memperhatikan raut wajah Soraya yang nampak ragu untuk mengeluarkan suara.
"Aku gak bawa uang," ucap Soraya sambil meringis, merasa tak enak hati. "Aku pinjam. Nanti bila kita bertemu lagi, aku akan kembalikan."
Rudi dengan segera merogoh dompet di saku celana, ia menarik beberapa lembar uang berwarna biru. Lalu mengulurkannya pada Soraya. "Apa ini cukup," ucap Rudi.
__ADS_1
"Lebih dari cukup. Baiklah aku pergi sekarang," kata Soraya lalu keluar dari mobil. Sebelum ia menutup pintu, kembali dirinya berujar, "Apa kamu sudah menikah?"
Sungguh itu adalah pertanyaan yang dari tadi tersangkut di tenggorokannya saat ia duduk bersebelahan dengan Rudi. Namun saat hendak berpisah ia tak mampu menahan rasa penasarannya, hingga mengesampingkan rasa malunya dan tanpa pertimbangan pertanyaan itu akhirnya terlontar.
Soraya membasahi bibirnya sebagai rasa dari pelampiasan gugupnya. Mukanya mulai memanas menahan rasa malu, tapi mau bagaimanapun pertanyaan itu nyatanya sudah keluar dari mulutnya.
Sunyi sejenak, hanya suara mesin mobil yang terdengar halus dan suara kendaraan yang tengah berlalu lalang. Soraya masih dengan posisi sebelah tangan memegangi pintu mobil warna hitam Honda CRv milik Rudi.
Degup jantungnya jangan ditanya lagi, sudah bertalu tak berirama. Sorot mata lekat memandang lelaki yang kini juga tengah menatapnya, hingga sudut bibir rudi sedikit terangkat namun tak disadari oleh Soraya. Kemudian hanya gelengan kepala yang Rudi lakukan.
"Belum?" sahut Soraya memastikan.
"Aku harus pergi" ucap Rudi menyadarkan Soraya dari keterbengongannya.
Sementara Soraya masih berdiri di sisi jalan, menatap kepergian mobil itu hingga tak terlihat lagi. Pelan ia pun bergumam, "Suatu saat nanti pasti kita akan bertemu lagi."
Setelah beberapa menit Soraya berdiri di tempatnya, ia baru menyadari akan penampilannya. Memakai piyama dan sandal slop milik rumah sakit, ditambah dengan hoodie warna hitam kebesaran milik Rudi.
Disekitaran terlihat ada yang memperhatikannya, tapi Soraya nampaknya lebih memilih bermasa bodoh dan mulai menarik penutup kepala untuk menutupi bagian atas kepala. Dan dengan sigap ia menyetop taksi yang tengah melintas.
Perjalanan pulang memakan waktu dua puluh menit, hingga ia kini tiba di rumah. Rumah mewah di kawasan elit yang terletak di pondok indah jakarta.
__ADS_1
Langkahnya pun mulai memasuki rumah, seperti biasa ia bertemu dengan beberapa asisten rumah tangga yang bekerja di tempatnya. Saat ia mulai menginjakkan kaki menaiki tangga, langkahnya terhenti sebab arah pandangnya tertuju ke arah ruang tengah.
"Bukannya Tante berada di luar kota?" ucap Soraya sedikit terheran, sebab yang ia tahu Tantenya berpamit ke luar kota.
"Ka—kamu sudah pulang?" ucap Tante Cindy, yang seakan tergagap setelah mendapati Soraya.
Soraya mengangguk tanpa ekspresi.
"Bukannya kamu ada pertemuan dengan wartawan?" tanya Tante Cindy yang berjalan mendekat pada Soraya.
"Iya, dan aku memilih pulang."
"Bagaimana dengan keadaan kamu?"
"Seperti yang Tante lihat, sudah sehat. Dan aku mau istirahat," ucap Soraya melanjutkan langkahnya untuk menaiki anak tangga.
"Kalau ada apa-apa kamu panggil Tante."
"Hmmm," Soraya hanya bergumam tanpa menoleh lagi ke belakang hingga ia masuk ke dalam kamarnya.
Tanpa melepas pakaian yang dikenakan, Soraya merebahkan tubuh di kasur empuk miliknya. Hatinya serasa kosong saat ia kembali ke rumah ini, perhatian dari keluarga yang di milikinya seolah terasa semu. Padahal ia merasa selalu memberi pada mereka rasa kasih tulus.
__ADS_1
To be Continue