
Hasil visum sudah diserahkan ke pihak yang berwajib. Sementara keadaan Soraya kini masih belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran.
Dua hari telah berlalu, dokter juga sudah mewanti-wanti pada Rudi bahwa jika Soraya tersadar kemungkinan akan mengalami syok maupun trauma. Rudi diminta untuk mempersiapkan diri, sebagaimana dulu dirinya juga telah mengalami hal yang sama, tapi bedanya kini dirinya benar-benar merasa kacau.
Matanya kini menatap kearah Soraya, wajahnya masih tampak pucat dengan bibir yang sedikit memutih, terdapat luka pada sudut bibirnya. Begitu juga lebam masih samar terlihat di pipi.
Yang membuat Rudi mengeram kini ialah arah pandangnya yang turun, terlihat bercak warna keunguan disekitar leher hingga turun ke dada. Tubuh Rudi yang menegang akibat amarah berbanding terbalik dengan sorot matanya yang pedih memandang kembali pada wajah Soraya.
Rudi mulai merasakan, air mata yang mulai menganak turun membasahi pipinya. "Harusnya aku datang lebih awal," kata Rudi seolah tercekat. "Bisa saja kamu tak akan mengalami hal ini," katanya lagi kemudian menunduk.
Sorot matanya beralih pada jemari Soraya, cincin pernikahan tertaut disana. Tangannya kini bergerak meraih dan menggenggam jemari Soraya kemudian mengecupnya, sedikit lama.
'Cincin yang awalnya sulit terlepas, apa ini cara Tuhan menautkan namamu untuk bersinggah dihatiku? Dan aku rasa memang benar begitu,' batin Rudi menyeru. Dadanya begitu merasa sesak hingga kini ia menumpahkan tangisannya didepan tubuh Soraya yang masih erat memejamkan mata.
Selang hatinya sedikit merasa tenang, Rudi bangkit dan membenarkan selimut Soraya. Mengecup kening Soraya dengan begitu dalam, sejenak telapak tangannya mengelus lembut pipi Soraya yang lebam.
Setelahnya ia keluar dari ruang inap serta memberi arahan pada seorang perawat untuk menjaga Soraya selama Rudi melanjutkan pekerjaannya.
Kabar itupun kini sudah sampai ditelinga keluarga dari Soraya maupun Kakeknya Rudi. Mereka memberikan rasa simpatik juga dukungan pada Soraya.
Disuatu sisi, Bramantyo kini sedang berada di satu ruangan dengan Cindy, istrinya. Mengetahui keponakannya hampir saja meregang nyawa, dirinya merasa terkejut. Apalagi mengetahui alasan Soraya melakukan hal tersebut, sontak ia dilanda murka.
"Ini yang Mama inginkan?" ucap Bramantyo penuh kekecewaan.
"Apa maksud Papa? Papa menuduh Mama terlibat dalam kejadian ini, iya begitu?" ucap Cindy juga kecewa atas sikap suaminya, yang kini tengah menyalahkannya.
__ADS_1
Bramantyo tak menjawab, nafasnya kini naik turun merasai amarahnya. Tangannya terkepal terdapat kekesalan yang ia salurkan disana.
Cindy terisak. "Mama memang pernah punya pemikiran seperti itu. Jika apa yang Mama rasakan, dirasakan oleh Soraya, Mama akan merasa puas. Tapi—hati kecil Mama tak sampai hati jika melimpahkan kekesalan yang Mama rasakan pada Soraya yang sejatinya tak tahu apa-apa. Setelah Papa menasehati Mama beberapa bulan lalu, Mama sudah berhenti mengawasi dan juga tak mencampuri urusan pekerjaannya. Memang Mama akui, Mama salah selama ini. Dan melihat Soraya dalam keadaan tak berdaya seperti ini Mama juga sakit, hati orangtua mana yang tak akan terluka, jika anak yang selama ini dirawat dari kecil sampai dewasa terpuruk dan terbaring lemah—." Cindy tak sanggup melanjutkan kalimatnya, hatinya kini seolah tercabik. Ia pernah merasakan hal itu, di titik itu wanita benar-benar merasa dirinya tak lagi berharga. Jalan pikiran Soraya yang pendek, ia juga tak menyalahkan tindakan itu. Siapa saja pasti akan melakukan hal yang sama termasuk dirinya.
Disisi lain, seorang perawat kini melangkah lebar mencari keberadaan Rudi. Pasien yang ditungguinya kini tersadar, dan benar apa yang dokter perkirakan, begitu tersadar reaksi yang terjadi adalah trauma, kini Soraya tengah berteriak histeris disertai ketakutan.
"Dokter, pasien sudah sadar," ucap seorang perawat dengan nafas yang sedikit terengah, ia kini sedang berhadapan dengan Rudi.
Alis Rudi bertaut, pasien? ia kurang jelas menangkap ucapan dari perawat tersebut, sebab hari ini sudah lebih dari tiga orang pasien yang ia tangani.
"Maksud saya Nona Soraya," ucap Perawat itu setelahnya.
Rudi pun bergegas pergi menuju ruangan, langkahnya ia percepat. Saat sudah sampai di ruangan yang Soraya tempati, Rudi begitu terkejut sebab Soraya tak berada diranjang. Matanya mengedar menemukan Soraya yang terduduk memdekap erat kedua kakinya pada pojok ruangan.
Rudi berjongkok, pedih menatapi wanitanya seperti itu. Memorinya kini berputar bak kaset rusak, Ibunya pernah mengalami hal yang sama, depresi dan kehilangan separuh jiwanya hingga pernah melupakan keberadaannya.
Dengan cepat Rudi menepis ingatan itu, tangannya beralih memegang pundak Soraya, tapi sekuat tenaga Soraya menepis dan mendorong tubuh Rudi menjauh.
"Jangan sentuh aku!" bentak Soraya disertai tangis pilu.
"Soraya, ini aku Rudi, Suamimu," ucap Rudi tak kalah pilu, air matanya kini ikut larut sudah tak terhitung berapa kali airmata itu menetes.
Soraya menggeleng kuat, berusaha menolak. Namun lamat, ingatannya muncul mengenali orang di hadapannya. Kembali terisak ia berkata, "Rudi, jangan sentuh aku, aku kotor." Soraya pun bergerak menjauh mundur kebelakang.
Karena dirasanya sikap Soraya yang tengah menjadi, ia kini memerintahkan agar perawat menyiapkan suntikan obat bius.
__ADS_1
"Kumohon jangan, jangan dekati aku," ucap Soraya penuh permohonan.
Rudi tak menggubris ucapnya, ia tetap melangkah dan mendekat pada Soraya, meski dengan perlawanan Rudi berusaha mendekap erat tubuh Soraya hingga suntikan obat bius kini telah selesai diberikan.
Rudi pun membopong kembali tubuh Soraya ke atas ranjang, sedangkan beberapa perawat melakukan tugasnya memasang kembali selang infus pada lengan Soraya.
"Suster tinggalkan ruangan ini, biar saya yang menjaganya," ucap Rudi saat perawat selesai melakukan tugasnya.
Mereka berlalu, dan setelah pintu tertutup Rudi menaiki ranjang guna tidur disamping Soraya, ia mendekap erat tubuh istrinya yang kondisinya sudah mulai tenang karena obat bius kini tengah bekerja.
"Aku kotor..." racau Soraya yang masih terisak meski matanya setengah terpejam.
Rudi tetap diam, hatinya rasanya bergejolak, ikut merasakan sakit seperti yang tengah Soraya rasakan.
"Ini salahmu—Salahmu—Aku memanggilmu—ini salahmu— kamu gak datang menolongku—Salahmu," racau Soraya berulang kali.
Rudi mengangguk dengan airmata yang tak kunjung surut, ia berulangkali kali mengecup puncak kepala Soraya dan sesekali berucap, "Iya Aku salah—aku yang salah," sambil mengeratkan pelukannya.
To be Continue
jangan lupa follow IG Author @Xinhua_ARyanna
ditunggu, yang mau uji nyali, di novel RUANG RINDU .... hanya ingin bertanya dan tentu author butuh jawaban...
pertanyaan ; seberapa kesalkah kamu membaca novel itu(Ruang Rindu)??
__ADS_1