Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 15


__ADS_3

Hari berganti. Soraya saat ini berada dikediaman miliknya. Tak ada jadwal pekerjaan, jadi bisa dibilang hari ini adalah liburnya. Ia yang baru saja menyelesaikan urusan membersihkan diri, kini menoleh pada sumber suara sebab pintu tengah diketuk.


Soraya menatap sosok Angel yang baru saja muncul dari balik pintu, ia datang sambil menyerahkan dua buah map lalu mendudukkan diri dipinggiran ranjang.


"Itu surat perpanjangan kontrak dari pihak management. Mereka memintamu menandatangani itu," ucap Angel menjelaskan isi dari map yang saat ini dipegang oleh Soraya.


"Aku perlu membacanya terlebih dahulu," kata Soraya menelisik tulisan yang tertera disana.


"Masih sama seperti dulu, hanya sekarang tak ada larangan jika kamu menikah."


Alis Soraya bertaut. Mengingat kontrak kerja yang dulu, artis baru pada managementnya tidak diperbolehkan menikah, harus berstatus single. Dan alasan pastinya adalah status akan mempengaruhi karir maupun reputasi artis itu sendiri.


"Lusa hari ulang tahun hotel, kamu sudah siap dengan gaun yang akan kamu pakai?" tanya Angel.


"Sepertinya aku tak perlu membeli gaun, di almari sudah ada dan belum tersentuh. Lebih baik aku memakai itu saja."


"Tapi Mama sudah siapin buat kamu."


Soraya menoleh, mengernyit menatap Angel. Ia terheran dengan ucapan Angel barusan, Tantenya menyiapkan dan bahkan sampai mau membelikan gaun untuknya. Aneh, biasanya Tantenya yang memintanya untuk membayarkan tagihan belanjaannya.


"Kamu gak percaya?"


Soraya terdiam, ia ingin menjawab tapi tak tahu kata apa yang harus ia keluarkan dari mulutnya. Kini justru Angel beranjak dan keluar dari kamar Soraya. Tak berapa lama ia kembali dengan membawa sebuah kotak berukuran cukup besar lalu menyodorkannya pada Soraya, "Coba kamu buka, itu untukmu. Dan besok kamu harus memakainya," ucap Angel.


Soraya menuruti perkataan Angel, menerima lalu membuka kotak berisi pakaian. Gaun merah.

__ADS_1


**


Di ballroom hotel Wijaya milik almarhum orangtua Soraya. Suasana nampak bergitu meriah, banyak tamu undangan yang sudah hadir. Mereka berbaur, mengobrol dan menikmati suasana pesta. Tamu berasal dari kolega, pemilik saham dan juga tamu penting lainnya.


Acara masih belum dimulai. Soraya masih mempersiapkan diri dan sekarang dirinya berada dikamar hotel, sedang mematut penampilannya di depan cermin. Gaun merah tanpa lengan, rasanya ia sedikit risih akan penampilannya. Ingin rasanya ia berganti pakaian saja, apalagi ia paling tak suka dengan warna merah. Terlihat tua, pikirnya.


"Waktunya sudah tak banyak lagi," gumamnya.


Ia akan meminta pendapat pada Angel atau Tantenya, barangkali dengan penilaian mereka, ia akan jadi lebih percaya diri. Atau bisa jadi lebih baik ganti dengan gaun lain. Segera ia keluar dari kamarnya, dan pergi ke arah sebelah kamar hotel yang di tempati Angel.


Beruntung, kamar tidak dikunci. Sehingga dengan begitu saja Soraya masuk ke dalam kamar. Sebelum Soraya mengeluarkan suara, samar terdengar Tante dan sepupunya berbincang bahkan bisa dikatakan sedang berargumen pendapat. Sontak Soraya lebih memilih menghentikan langkahnya, merapatkan diri pada tembok sisi yang tak terlihat oleh mereka berdua.


"Mama kenapa suruh Revan, Mama tahukan Revan itu pacar aku!" ucap Angel yang terdengar penuh emosi.


"Karna cuma Revan yang kita percaya, Angel. Lalu kalau bukan dia, siapa?" kata Tante Cindy.


"Ya, Mama kan bisa cari orang lain. Gak harus pacarnya Angel. Mama gak mikir apa sama anak sendiri. Anak sendiri dikorbanin," kata Angel mendegus sebal. "Dan apa Mama juga yakin dia mau nerima pertunangan ini?"


'Tunangan?. Siapa yang akan bertunangan?' Soraya kian penasaran, iapun menajamkan pendengarannya.


"Kalau dia nolak terus kabur gimana?" sambung Angel.


"Mama pastiin dia bakal nurut dan gak akan nolak. Apalagi mama udah jaga-jaga, orang kepercayaan Papamu sudah bersiap mengawasi dia agar tidak kabur malam Ini. Ini juga kesempatan terakhir kita. Kevin gak ada disini, jadi gak akan ada orang yang akan membelanya," kata Tante Cindy yang terdengar jelas ditelinga Soraya.


'Dia siapa yang dimaksud, kenapa ada nama Kevin yang disangkut pautkan. Sementara sekarang Kevin masih berada diluar negri menyelesaikan S2nya, dan memang beberapa bulan lagi ia akan pulang. Ada apa ini sebenarnya,' batin Soraya seakan bergejolak, ingin sekali ia menampakkan diri dan bertanya langsung. Menanyakan apa yang ia dengar barusan.

__ADS_1


Baru separuh langkah kakinya menapak lantai, tubuhnya mematung sebab ia mendengar dari penuturan Tantenya, "Begitu Soraya bertunangan dan menikah, kita bisa kendalikan hidupnya."


Dunianya seakan berhenti berputar, Soraya terdiam. Apa yang ia dengar barusan, apa itu halusinasi. Tapi nyatanya tidak sebab kalimat lain meluncur lagi, "Kamu sudah serahkan kan, kontrak kerja dari management artis yang menaungi nama Soraya?"


"Lusa, Soraya sudah terima. Tapi berkas itu belum dikembalikan padaku," ucap Angel.


Soraya menggeleng kaku, lalu membekap mulutnya yang terbuka sebab syok dengan apa yang telah ia dengar. Ia masih tak percaya, orang yang selama ini percaya dan telah ia anggap inti dari keluarga, berbuat demikian. Rasa panas kini mulai menjalar di telinganya.


Badannya membeku, sulit dipercaya. Senyum ironi tercetak di bibirnya. Ia tak menyangka ternyata keluarganya sendiri tak pernah tulus menerimanya.


Soraya membalikkan langkah kakinya, pelan ia berjalan kearah pintu keluar. Setelah pintu tertutup ia mempercepat langkah kakinya. Kabur, satu kata yang kini terlintas dalam benaknya. Pertunangan macam apa, dengan siapa dan sudah jelas untuk kepentingan mereka. Soraya tak mau mempertaruhkan hidupnya untuk dikendalikan orang lain.


Langkah kakinya terhenti. Sebab dari jarak beberapa kaki ia melihat dua pria berpakaian formal berwarna hitam mendekat ke arahnya.


"Nona mau kemana?" tanya salah satu pria pada Soraya.


Antara takut, panik dan tak bisa berbuat apa-apa. Soraya sudah yakin bila dua pria didepannya tahu ia punya niat kabur, sudah pasti mereka akan menyeret Soraya. Sebab ia sudah mendengar sendiri ucapan Tantenya.


Sungguh kali ini Soraya dalam keadaan terjepit, dalam kekalutan ia hanya bisa berucap, "Aku mau ketempat acara."


Dua pria itupun dengan tanggap, lalu berucap, "Mari saya antarkan."


Soraya mengumpat dalam hati, bagaimana bisa ia kabur kalau ada dua orang yang kini berjalan di belakangnya. Apalagi pintu ballroom sudah berada didepan mata. Lalu bagaimana nasibnya nanti, rasanya dirinya kian berada diujung tanduk saat pintu ballroom terbuka lebar untuknya.


To be Continue

__ADS_1


__ADS_2