
Memori itu seakan berputar kembali, Rudi kini terduduk diruang tunggu dengan tubuh bergetar. Rasanya ia tak sanggup menangani keadaan Soraya di dalam sana.
Iya, hari dimana ia ingin menghapus memori itu nyatanya hadir kembali. Perasaan takut kehilangan mulai menguasai dirinya lagi. Kehilangan orang-orang yang sangat ia cintai.
Baru pagi tadi mereka berpisah dalam keadaan baik-baik saja, kini ia bertemu kembali dengan keadaan yang berbeda. Rudi mengingat pertemuan terakhirnya dengan Soraya pagi tadi, harusnya ia menjawab kata-kata dari Soraya, bukan pergi berpamitan begitu saja.
Dadanya merasakan rasa sesak yang luar biasa, ia tahu Soraya kini sedang berhadapan dengan maut. Hatinya merapalkan doa agar Soraya bisa segera keluar dari masa kritisnya.
Sementara di dalam ruang IGD dokter jaga bersama beberapa perawat kini sedang berupaya memberikan penanganan yang terbaik. Soraya sempat mengalami henti napas disertai kesadaran yang menurun. Berbagai upaya dokter lakukan untuk mengembalikan kemampuan jantung, pemberian tambahan oksigen serta membantu memasang alat bantu pernapasan.
Cukup lama, kini pintu IGD terbuka. Rudi segera bangkit menuju ke arah dokter Fadli yang tengah membuka maskernya.
"Bagaimana keadaan Soraya?" tanya Rudi serta merta.
"Pasien sudah dipindahkan ke ruang ICU, kondisinya sudah melewati masa kritis namun masih membutuhkan perawatan yang intensif," jelas dokter Fadli pada Rudi. Sejenak dokter Fadli tampak berfikir dan ingin mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan.
"Ada hal lain yang ingin aku sampaikan padamu, ini juga menyangkut keadaan istrimu," ucap dokter Fadli sedikit canggung, kini ia berbicara secara personal pada Rudi.
__ADS_1
Ekspresi Rudi berubah lebih serius. "Apa ada hal lain lagi yang terjadi?" tanya Rudi dengan wajah serius.
"Lebih baik kita ke ruanganmu," kata dokter Fadli hendak memberi arahan pada Rudi.
Rudi semakin penasaran, menyadari situasi di sekitaran hanya ada dirinya, Fadli dan tentunya Jenny yang dari tadi menyimak, kini Rudi berkata, "Katakan saja disini, tak perlu jauh-jauh sampai ke ruanganku," ucapan Rudi menajam.
Dokter Fadli menarik nafas sebelum ia membuka suara. "Istrimu sepertinya— menjadi korban pelecehan s*ksual,"
Wajah Rudi seketika pias, seperti dihantam batu besar tepat dikepalanya. "Apa?" ucapnya lirih.
Dokter Fadli menepuk pelan pundak Rudi yang saat ini menunduk, seolah menyalurkan agar Rudi kuat menerima berita dan kenyataan yang tengah menimpa istrinya. "Dari hasil pemeriksaan, luka memar yang dialami pasien— kami menyimpulkan hal itu terjadi."
"Cepat, katakan!" bentak Rudi lagi.
"Soraya — dia nyaris diperkosa," ucap Jenny terbata.
Rudi mengepalkan tangannya, dengan sekuat tenaga ia memberi pukulan tepat ke wajah Jenny tanpa ampun, hingga Jenny tak berdaya pun ia rasanya tak puas. Hingga kegaduhan itupun kini dilerai oleh orang-orang sekitar termasuk dokter Fadli.
__ADS_1
Apa yang didengar oleh Rudi barusan, nyatanya menjadikan hati dan dirinya merasa diporan -porandakan. Soraya wanita yang telah mengisi hari-harinya bahkan tanpa sadar sudah mengisi sebagian relung hatinya, kini terbaring lemah karena disebabkan oleh ulah lelaki brengsek.
Rudi bangkit mendekat kearah Jenny, meski lengannya kini masih dipegangi oleh orang sekitar agar tak kembali memukuli Jenny lagi.
"Sekarang katakan padaku ulah siapa?" tanya Rudi menatap tajam Jenny.
Jenny pun menceritakan apa yang terjadi dengan Soraya. Rudipun menghubungi orang kepercayaannya agar mencari orang yang baru saja Jenny sebutkan.
"Fadli, lakukan visum dan aku butuh hasilnya secepatnya," ucap Rudi kemudian berlalu dari tempat itu.
To be Continue
Aku sudah update 2 loh
jempol komentarnya kencengin dong
jangan lupa juga ya follow grupnya author, agar kita bisa saling bersilaturahmi
__ADS_1
Dan lagi jangan lupa Follow IG nya Author @Xinhua_ARyanna