
Hari pertama bekerja tapi belum apa-apa kepala sudah pusing luar biasa, itulah Soraya. Baru datang ia digiring masuk ke ruang khusus yang diperuntukannya. Di mejanya terdapat beberapa berkas laporan yang harus ia kerjakan, sudah lebih dari satu jam ia berada diruangan mengamati komputer juga beberapa kali membolak-balikkan berkas. Mencoba memahami tapi tetap saja tak bisa.
Pintu saat ini tengah diketuk, dan Soraya langsung saja menyahut agar orang yang diluar segera masuk. Ternyata yang datang adalah Omnya Bramantyo.
"Bagaimana hari pertama kamu?"
Soraya tak bisa menyembunyikan raut mukanya yang depresi.
"Om sudah menduganya, sikap kamu akan seperti ini," sahut Bramantyo tanpa menunggu jawaban dari Soraya. "Om siapkan ruangan khusus ini untuk kamu, agar kamu belajar terlebih dahulu mengenai masalah kantor. Om harap, kamu percaya pada apa yang Om lakukan."
"Gimana Soraya bisa percaya kalau Tante sendiri yang mengatakan niatnya untuk ambil alih milik Soraya. Dan lagi, apa Om tahu Tante berencana hal buruk pada Soraya?. Makanya Soraya sampai ambil tindakan seperti ini," kata Soraya bersikeras.
"Harusnya kamu bicarakan dulu sama Om."
"Percuma, Om akan tetap membela istri Om." Tak perlu lagi ditutupi, Soraya menyemburkan isi kepalanya.
"Kenapa kamu bisa mengatakan seperti itu? Jangan mengambil keputusan secara sepihak Soraya, apalagi dengan yang kamu lakukan kemarin. Tindakanmu yang tanpa difikir dahulu bisa berakibat fatal. Resikonya adalah kamu mempertaruhkan masa depan perusahaan," jelas Bramantyo sambil memijit keningnya.
"Lalu sekarang Om menyalahkan Soraya, begitu? Harusnya keluarga Om yang perlu dipertanyakan?"
"Soraya!" sahut Bramantyo tegas. "Kita ini keluarga, meski kamu keponakan Om, tapi kami sudah Om anggap seperti anak kandung Om sendiri. Beri Om waktu, kalau memang kamu mau mengambil hak milikmu."
"Apa aku bisa mempercayai Om?" tanya Soraya.
Bramantyo mengangguk, raut ketulusan tercetak disana. Soraya mendekat kemudian memeluk Omnya. "Om paham kamu melakukannya karena terdesak," gumam Bramantyo. "Om akan berusaha menasehati Tantemu," sambungnya kemudian melepas pelukannya.
"Kemarin Om masih meminta pengacara untuk menangguhkan masa kepemimpinan, lagi pula harus ada rapat para direksi dan pemegang saham lain. Om beri kesempatan kepada mu untuk belajar terlebih dahulu, setelahnya kamu bisa mengambil kesimpulan. Mau tetap bertahan atau kamu memberi kepercayaan pada orang yang tepat untuk mengurus perusahaan," ujar Bramantyo memberi pengertian pada Soraya.
Soraya pun mulai memahami dan memberi kepercayaan pada Omnya. Ia mengangguk menyetujui ucapan Omnya.
"Akan ada orang yang membantumu disini, kamu bisa bertanya bila menemukan kesulitan." Bramantyo pun memanggil sekertarisnya untuk mendatangkan orang yang ditunjuk mendampingi Soraya dalam melakukan pekerjaan, sebab ia yakin sekali keponakannya ini awam dalam dunia kantor.
__ADS_1
Tak berapa lama pintu diketuk dan saat pintu terbuka menampilkan sesosok laki-laki, salah satu staff kantor yang Soraya yakini adalah rekan barunya.
"Pagi Pak, Bapak memanggil saya," kata karyawan lelaki itu setelah menutup pintu ruangan.
"Tugasmu sekarang berpindah disini, menjadi asisten Soraya. Apa yang diperlukan dan informasi yang Soraya butuhkan kamu harus membantunya," ucap Bramantyo.
"Baik Pak."
Bramantyo pun keluar dari ruangan setelah memberi arahan pada Soraya dan asistennya.
"Perkenalkan aku Soraya," kata Soraya memperkenalkan diri.
"Ibu Soraya bisa memanggil saya Rizal," jawabnya.
"Semoga kita bisa bekerjasama dan bimbingannya dalam bekerja," ucap Soraya.
Nyatanya kehadiran Rizal sangat membantu. Perusahaan yang dimiliki mempunyai struktur yang runtut dan berkaitan erat dengan perencanaan, desain dan kontruksi, jual beli, pengembangan dan pengelolaan properti.
Bagi Soraya hal itu benar-benar diluar dugaannya, ia kira jadi bos hanya akan duduk manis disodori dokumen kemudian tandatangan. Benar-benar salah besar ekspetasinya, kalau saja ia tak memberi kesempatan untuk percaya pada Omnya, sudah dipastikan bila Soraya nekat memimpin perusahaannya dalam hitungan dua hari sudah gulung tikar.
Hingga akhir pekan ini semua pekerjaan dikerjakan oleh Rizal, ia hanya mengecek dan memberikan tanda tangan dari hasil pekerjaan asistennya. Sungguh memalukan, batin Soraya.
***
Soraya bernafas lega, weekend adalah hari yang ia tunggu-tunggu.Empat hari berada dikantor sungguh membuat dirinya dilanda rasa frustasi.
Kegiatan rutin di pagi hari yang tak pernah ketinggalan adalah menelan satu butir pil diet. Ia membuka mulutnya hendak memasukkan butiran pil itu, tapi belum masuk ke mulut Rudi mengambil alih dan tanpa kata membuangnya kedalam tong sampah.
Hal itu membuat Soraya melongo, namun tak lama ia memprotes tindakan seenaknya yang Rudi lakukan. "Sembarangan ambil dan buang milik orang!" kata Soraya disertai pandangan memincing.
"Gak baik rutin mengkonsumsi obat," ucap Rudi berlalu kemudian meneguk air mineral.
__ADS_1
"Kamu tahu itu obat apa?"
"Hmm, obat diet.
"Kalau kamu tahu, kenapa dibuang. Anjuran tertulis harus rutin dikonsumsi setiap hari. Kalau aku gak minum obat itu badanku bisa melar," jelas Soraya disertai rengekan.
Rudi berdecak kemudian berujar, "Kalau takut melar ikut aku." Rudi berjalan menuju arah pintu.
"Kemana?"
"Gak usah banyak tanya, ikut saja."
Soraya pun menurut mengikuti langkah kaki Rudi berjalan keluar dari apartement menuju lift dan mengantarkannya menuju lantai dasar. Tempat yang ditujunya kali ini adalah tempat fitnes salah satu fasilitas apartemen tempat tinggalnya.
Alat yang tersedia cukup lengkap namun Rudi dan Soraya memilih Treadmill. Mereka saling beradu dari pelan hingga menambah kecepatan.
"Jangan lagi tambah kecepatannya," tegur Rudi saat Soraya meningkatkan kecepatan lajunya.
"Biar kaloriku makin berkurang," kata Soraya yang diiringi nafas yang terdengar ngos-ngosan.
Soraya yang tak mengindahkan ucapan Rudipun, tak mampu menyeimbangi langkah dan laju kecepatan. Hingga membuat dirinya kini terjatuh hingga terbentur oleh alat lari tersebut. Segera Rudi menghentikan dan mematikannya.
Ia berjongkok untuk mengetahui keadaan Soraya, terlihat lututnya tampak memar. "Sudah diingatkan kenapa masih keras kepala, lihat sendiri akibatnya. Butuh bantuan?"
"Ya iyalah, masih nanya. Bukannya dibantuin tapi malah diomeli," ucap Soraya sambil meringis menahan sakit.
Rudi berbalik kemudian berujar, "Naik kepunggungku."
Soraya menoleh mengamati punggung Rudi dengan seksama, ia merasa ragu dan tampak berfikir.
"Cepat!" perintah Rudi membuat Soraya tersentak dan kesal secara bersamaan.
__ADS_1
To be Continue