
Soraya dan Rudi kini tiba di kediaman milik Kakeknya yang terletak di kawasan elit. Tak beda jauh dengan tempat yang ditinggali oleh Soraya. Rumah tampak besar dan terlihat megah.
Saat sampai ada beberapa pelayan yang menyambutnya. Kini mereka berdua duduk diruang tamu menunggu Kakeknya tiba.
"Kamu tidak tinggal disini?" bisik Soraya, matanya mengedar memperhatikan sudut-sudut ruangan.
"Dulu," sahut Rudi yang duduk disampingnya.
Soraya mengangguk, Ia langsung bangkit berdiri kala melihat Prasetyo Nugroho tiba dan memberi kode perintah pada Soraya agar duduk kembali.
"Kenapa sepagi ini kalian datang kemari?"
Sesuai intruksi Rudi, Soraya tak mengeluarkan suara. Ia hanya menampilkan senyum canggung.
"Rudi masih ada urusan Kek. Makanya kami segera kemari," jawab Rudi.
Tampak Prasetyo Nugroho mengerutkan keningnya dalam. "Jangan bilang kamu akan kembali bekerja. Kakek tidak memberi ijin padamu. Baru kemarin sore kalian menikah!" ucapnya terdengar tajam.
"Rudi masih ada jadwal operasi. Jadwal itu sudah ada sebelum rencana pernikahan ini"
__ADS_1
"Tak ada alasan!. Masih ada dokter lain yang bisa diandalkan untuk menggantikanmu. Lagi pula Kakek sudah siapkan tiket bulan madu untuk kalian berdua."
"Nyawa pasien lebih penting. Dan lagi pula —,"
"Lagi pula apa?. Bulan madu kalian tak penting, begitu?" ucap Prasetyo Nugroho dengan emosi.
Soraya merasa canggung dengan perdebatan antara Kakek dan Cucu. Terlihat Rudi yang tak kunjung mengeluarkan suara. Soraya pun mulai berbicara, "Ka—kek," ucapnya terbata namun Prasetyo Nugroho dan Rudi menoleh padanya. "Kami berdua sudah sepakat, setelah acara pernikahan usai, kami kembali pada pekerjaan masing-masing dulu. Lagi pula kan pernikahan yang kami adakan secara dadakan. Banyak jadwal yang seharusnya diisi menjadi terbengkalai. Dan ada beberapa pasien yang saat ini membutuhkan Rudi. Begitu pula Soraya, Soraya juga butuh kehadiran Rudi disamping Soraya," kata Soraya menoleh dan refleks memegang tangan Rudi.
"Tapi Soraya memaklumi konsekuensi menjadi istri dari seorang dokter," sambung Soraya. Rudi menatap dalam sampai Soraya menyelesaikan kalimat yang diucapkan. Lalu tak lama ia memalingkan muka, tak ingin terkecoh dengan ucapan yang baru saja di dengarnya.
Tak sesuai dengan dugaan Rudi, Kakeknya kini mengangguk menanggapi ucapan Soraya. "Berterimakasih lah pada istrimu yang pengertian dan paham pekerjaanmu." Ujar Prasetyo Nugroho memberi kelegaan di hati Soraya.
"Kalian sudah punya rencana akan tinggal dimana setelah ini?, Sebenarnya Kakek berencana ingin memberikan tempat ini pada kalian berdua dan Kakek akan pindah ke paviliun belakang," sambung Prasetyo Nugroho.
Wajah Prasetyo Nugroho terlihat enggan, tapi mau tak mau ia tetap menyetujui keinginan Cucunya yang ingin hidup mandiri. Ia juga lega Cucunya telah memiliki seorang pendamping hidup.
Setelah perbincangan mereka berlanjut pada makan siang bersama. Tak berapa lama mereka kemudian berpamitan akan kembali ke apartemen teman mereka tinggal.
Sesuai yang diucapkan oleh Rudi, ia benar-benar kembali ke rumah sakit tempatnya bekerja. Sedang Soraya hanya diantar didepan gedung apartement. Ia hanya diberi tahu letak lantai dan kode password untuk membuka pintu apartement.
__ADS_1
"Kembali lagi ke tempat ini," ucap Soraya kala menutup pintu apartement. Ia kemudian meletakkan koper dan mulai mengamati tempat ini. Tempatnya luas namun hanya terdapat tiga pintu di apartement ini. Ruang tamu, dapur dan juga ruang makan yang terdapat mini bar disampinya dibuat tanpa sekat. Satu pintu adalah kamar mandi luar, pintu kedua adalah ruang kerja dan pintu terakhir adalah kamar utama. Soraya kemudian tersadar, disini hanya ada satu kamar tidur.
Karena sang pemilik tak berada ditempat, Soraya memberanikan diri membuka handle pintu kemudian memasuki kamar milik Rudi. Kesan maskulin ia temukan disana, aroma ruangan yang pertama ia rasakan, tak beda jauh dari suasana kamar milik Kevin sepupunya.
Ia mulai mengamati seisi kamar, langkahnya terhenti saat ia menemukan foto sosok dua remaja yang terlihat sangat akrab. Soraya yakin itu pasti salah satu dari teman dekat Rudi. Ada rasa yang menggelitik di sudut hatinya, kenapa foto itu masih disimpan. Ia mendegus keras dan meletakkan kembali bingkai foto itu ke tempat semula.
Gerah yang ia kini rasakan, karena AC tak dinyalakan. Soraya kemudian masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dan kepalanya. Saat usai mandi ia kebingungan mencari handuk maupun bathrobe. Nyatanya tak ada satupun barang itu disana. Sial, dan bajunya pun sudah basah akibat tadi ia mengguyur tubuhnya pada shower tanpa melepas pakaian terlebih dahulu.
Cukup lama ia mendudukkan diri diatas closed dan mencoba berfikir tenang. Kesal, ia ingat bajunya ada dikoper dan koper itu masih tergeletak diruang tamu. Tragis nasibnya, karena ia kini mulai menggigil sebab tak ada satu helai benangpun menutupi tubuhnya.
Ada ide terlintas dalam benaknya, tak ada orang jadi tak perlu ditakutkan, pasti tak akan ada yang melihatnya. Ia hanya perlu keberanian untuk segera keluar dari kamar mandi, mengambil sprei atau selimut yang ada dikamar kemudian keluar mengambil koper yang ada di ruang tamu. "Iya begitu," kata Soraya sambil menjentikkan jari.
Cukup dalam ia menarik nafas kemudian mengeluarkannya dalam-dalam. Ia kemudian berdiri kearah pintu, meyakinkan hati dengan jantung yang berdebar tak terkendali. Ia hanya butuh gerak cepat dan langkah cepat hingga sampai pada titik tuju, yaitu kasur untuk mengambil sprei guna menutupi tubuhnya yang sudah kedinginan.
Memegang handle pintu dengan cengkraman kuat, saat pintu terbuka matanya justru terbuka lebar.
"Oh.. maaf."
Soraya mematung usai handle pintu terlepas dari sisi luar dan menarik dengan gerakan lemas hingga pintu kamar mandi kambali tertutup rapat. Memandangi tubuhnya berulang kali sebelum ia luruh di lantai dingin kamar mandi. Lalu teriakan kesal bercampur tangis tak terelakkan lagi.
__ADS_1
To be Continue
Siapa kira-kira yang barusan bilang maaf??