Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 63


__ADS_3

Sejenak Soraya memandangi gedung tinggi yang menjulang dihadapannya. Tujuannya tak berangkat bekerja hari ini adalah untuk menghadiri janji temu yang sudah direncanakan beberapa hari lalu.


Seorang produser yang namanya sudah dikenal dan ada beberapa karya berada dibawah nama label perusahaan yang dimilikinya, adalah orang yang akan Soraya temui.


Sedikit gugup, Soraya berusaha rileks dengan berulang kali ia menarik dan mengeluarkan nafasnya dalam-dalam. Namun justru menambah ritme kecepatan kinerja jantungnya.


Saat hendak memasuki gedung itu ponsel Soraya kini berdering, dan iapun segera menepi di dekat jendela kaca lobby.


"Aku sudah sampai," ucap Soraya usai mengangkat telpon.


"Aku masih dijalan, disini macet," jelas Jenny diseberang sana.


"Kalau begitu aku duluan saja, kamu menyusul," ucap Soraya sambil melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah tak banyak waktu lagi, batinnya.


"Kamu tetap tunggu aku, sampai aku tiba disana." ucap Jenny dengan penekanan.


"Tapi waktunya sudah tak banyak lagi, aku takut bila terlambat—bisa-bisa batal lagi" keluh Soraya seraya memandangi area sekitaran.


"Aku managermu yang menghandle aktivitas juga jobmu, semua pekerjaanmu harus melewatiku terlebih dahulu," ucap Jenny yang terkesan menghardik.


"Jangan lama!" kata Soraya memberi peringatan pada Jenny, setelah itu saluran telepon ditutup.


Soraya tampak gelisah, sebab dua puluh menit kini telah berlalu. Hembusan nafas lelah berkali-kali ia lakukan sebab menanti Jenny yang tak kunjung tiba. Saat ini ia mendudukan diri di kursi lobby, sesekali tatapan matanya mengedar, namun Jenny tak nampak jua.


"Permisi ada yang bisa dibantu," sapa seorang lelaki yang berpakaian cukup formal mendekat ke arah Soraya.


"Saya sedang menunggu teman," kata Soraya menyahuti ucapan lelaki itu.


"Apa Anda yang bernama Soraya Lee," ucap lelaki itu lagi dan Soraya menanggapinya dengan anggukan.


"Kebetulan sekali, atasan saya sudah menunggu Anda diruang kerjanya. Dan bila tak keberatan langgung saja Anda menuju kesana."

__ADS_1


Soraya tampak berfikir dan pada akhirnya dia memilih mengangguk, menyetujui perkataan lelaki itu. Sebab dirasanya memang sudah tak banyak waktu lagi dari perjanjian jam temu yang direncanakan sebelumnya.


"Mari ikuti saya," ucap lelaki itu berjalan lebih dahulu, dengan langkah sedikit ragu Soraya pun mulai mengikutinya.


Sambil berjalan kini Soraya mengeluarkan ponselnya, mengetikkan sebuah pesan dan dikirim kepada Jenny. Menyampaikan bahwa ia kini sedang menuju ke lantai atas ketempat produser yang hendak ditemui. Ia juga memberi kode kepada Jenny letak tempatnya agar Jenny nanti langsung menyusulnya kesana.


"Disini ruangannya," ucap lelaki itu dan berlanjut mengetuk pintu.


Soraya pun kini memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Dan setelah mendapat sahutan dari dalam kini Soraya dipersilahkan masuk ke dalam ruangan.


"Silahkan duduk," ucap lelaki yang yang baru saja bangkit dari kursi kebesarannya. Ia melangkah dan mengarahkan Soraya agar mengambil tempat duduk di sofa. "Pasti kamu sudah mengenal Saya," ucapnya lagi setelah mendudukan diri.


"Iya saya tahu. Anda adalah Bapak Ardi Wiguna selaku produser dan pemilik label rekaman. Dan perkenalkan namanya Soraya Lee," ucap Soraya seraya mengulurkan tangannya.


"Tak usah panggil saya Bapak, panggil saya Ardi," ucapnya seraya menyambut uluran tangan dari Soraya.


Sedikit aneh, namun Soraya mengangguk. Apalagi jabatan tangan dari Ardi kini tak kunjung lepas. Merasa tak enak akan situasi ini, Soraya berdehem hingga tautan tangan itu terlepas. Soraya pun kini berucap, "Apa benar tawaran yang diajukan oleh orang kepercayaan Bapak Ardi masih berlaku?"


"Sudah saya bilang jangan panggil Bapak, apakah saya sudah terlihat tua hingga kamu memanggilku begitu?"


Ardi Wiguna terkekeh. "Ok, terserah kamu saja."


"Dan untuk masalah pekerjaan itu?" tanya Soraya kembali pada inti pembicaraan juga tujuannya datang kemari.


"Tentu ada," Sahut Ardi Wiguna.


Soraya tersenyum mendengar ucapan itu, itu artinya kesempatan sudah ada didepan mata.


"Kamu yakin mau bergabung dan bekerjasama dengan perusahaan saya, banyak proyek besar tahun ini. Film, iklan dan juga model," jelas Ardi Wiguna.


"Apa saya harus melalui seleksi dulu?"

__ADS_1


"Itu tentu tapi sebenarnya ada cara lain yang bisa ditempuh," ucap Ardi Wiguna.


"Maksud Bapak?" tanya Soraya yang mulai tak faham arah pembicaraan.


"Itu bukan pertanyaan Soraya, semua artis sudah paham akan hal itu. Lagi pula saya sudah paham artis macam apa kamu," Kata Ardi Wiguna dengan tatapan menilai. "Saya sengaja memancingmu kemari, Saya penasaran berapa tarifmu?"


Soraya tersentak, ia mengeram. Ucapan itu sungguh melukai hati dan harga diri Soraya.


"Tak perlu memasang wajah marah. Berita yang tersebar diluaran sana sudah sampai ditelinga masyarakat, termasuk saya. Jadi saya penasaran, apa yang kamu inginkan, job apa yang kamu butuhkan? Saya akan dengan senang hati memberikan posisi terbaik diantara yang lain. Asal kamu melayani saya."


Soraya mendesis keras, tangannya kini terkepal. Ia pun kini beranjak hendak pergi dari ruangan ini. "Maaf saya salah tempat!"


Saat Soraya mencoba berlalu tangannya ditarik oleh Ardi Wiguna. "Kamu jual mahal ternyata," ucapnya yang bangkit berdiri, terpancar diraut wajahnya senyum serigai dan tatapan menguliti.


Rasa takut mulai merayap dipikiran Soraya, bahkan ia kini ditatap dengan tatapan mata menjijikkan. "Itu hanya gosip, Bapak salah telah menilai saya. Lepasin, saya mau keluar dari sini!," kata Soraya dan mencoba melepas cengkeraman tangan dari lelaki dihadapannya.


"Tak semudah itu, kamu masuk kesini itu artinya kamu sudah menyerahkan diri," ucap Ardi Wiguna, sontak dengan tangan yang masih bebas Soraya melayangkan tamparan pada lelaki dihadapannya.


Darah segar mengalir di pipi Ardi Wiguna akibat goresan dari cincin yang Soraya kenakan. Muka Ardi Wijaya kini memerah dan semakin mempercepat langkah ia menarik tubuh Soraya yang hampir sampai pada pintu.


Dengan gerakan kasar tubuh Soraya diseret dan dibanting hingga terjungkal di atas sofa. Soraya pun mulai berteriak meminta pertolongan, ia semakin tersudut berusaha nemberontak dengan sekuat tenaga.


Namun lelaki dihadapannya kini tersenyum mengejek. "Percuma, kamu berteriak minta tolong pun, tak akan ada orang yang menolongmu, pintu itu sudah terkunci rapat dari luar," ucap Ardi Wiguna dengan senyum serigai. Tangannya mulai mencengkeram erat bahu Soraya, bahkan ketakutan kini sudah merayapi diri Soraya.


Ponselnya kini terdengar berdering berkali-kali. Dengan sekuat tenaga Soraya melayangkan tendangannya tepat mengenai bagian paha dalam lelaki itu, hingga lelaki dihadapannya memekik dan tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang.


Soraya pun mengambil kesempatan, mendorong lelaki itu. Beranjak pergi menjauh, dan sial pintu yang terbuat dari kaca itu benar terkunci rapat. Ia kini merogoh ponsel yang masih berbunyi di dalam tasnya. Jenny nama yang tertera disana, dengan ketakutan dan panik Soraya berujar meminta bantuan agar Jenny segera tiba.


Namun tiba-tiba saja ponselnya terpelanting, sebab kini Soraya kembali ditarik dan tubuhnya dipojokkan pada dinding. Sekuat tenaga ia berusaha menolak namun gerakan lelaki dihadapannya berkali lipat lebih kuat.


Tak henti-hentinya Soraya berteriak, nama Rudipun ikut menggema didalam ruangan. Baju yang dikenakannya pun kini sudah mulai koyak ditambah dengan tamparan yang melayang dipipinya sebab Soraya berusaha keras untuk berontak.

__ADS_1


To Be Continue


Save Me


__ADS_2