Risalah Hati

Risalah Hati
Last story of Risalah Hati


__ADS_3

Bahkan sekarang Amaira dan Soraya berbincang tak ada habisnya hingga Reynand kini mulai mengingatkan kalau mereka masih memiliki jadwal acara yakni bertemu dengan dokter untuk memeriksakan kandungan Amaira.


"Ira pukul setengah tiga nanti kita ada janji temu dengan dokter Fani," ucap Reynand mengingatkan.


"Ohya, ini sudah jam berapa?" sahut Amaira.


Rudi yang tengah memegang ponsel kini menyahuti ucapan Amaira. "Sudah pukul dua siang."


"Bagaimana kalau sekarang kita berangkat saja, takut bila terjebak macet dijalan," kata Amaira yang beralih menatap Reynand dan dibalasi dengan anggukan.


"Maaf ya, kami harus pamit lebih dulu mungkin lain kali kalau kita ada kesempatan bisa bertemu lagi," ucap Amaira kepada Soraya.


"Baiklah dengan senang hati," kata Soraya seraya tersenyum simpul. "Ohya, nomor ponselmu. Bolehkan kita bertukaran," sambung Soraya dan kini Amaira menyebutkan nomor ponselnya.


"Andra, mainnya sudah ya," ucap Reynand yang kini berjongkok di depan putranya hendak mengajaknya pergi namun ditanggapi dengan Andra yang kini menggelengkan kepala, tanda tak mau beranjak dari mobil-mobilan yang ia naiki.


"Andra, besok kita main kesini lagi, tapi sekarang kita antar Mama dulu untuk periksa adik," sambung Reynand berusaha membujuk putranya, tetapi ya begitulah sifat Andra kalau sudah terlalu asyik bermain dengan apa yang ia sukai, akan sulit untuk teralihkan dari yang lain, bahkan kini Andra terlihat memegang stir mobilnya kuat-kuat seolah tak mau lepas juga jangan lupakan dengan wajah cemberut yang ia tampilkan, sudah sangat mirip dengan Mamanya ketika ngambek, dan memang benar istilah pepatah yang mengatakan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya.


Hal itupun disadari oleh Rudi dan juga Soraya, dan saat Amaira hendak beranjak dari duduknya untuk menghampiri suami dan anaknya kini Rudi mulai bersuara, "Biarkan Andra disini ikut bersama kami dulu, kalian berdua bisa percayakan Andra padaku dan juga istriku, Soraya. Bukankah sebentar lagi kalian ada janji?"


Amaira dan Reynand kini saling menatap satu sama lain, karena waktu yang mereka miliki tidak terlalu banyak akhirnya Reynand memilih mengangguk menyetujui usul Rudi. "Terimakasih, maaf bila merepotkanmu," ucap Reynand.


"Tidak masalah, kami justru malah senang," sahut Soraya tersenyum ke arah suami juga Amaira dan Reynand.


"Baiklah kalau begitu, kami titip Andra sebentar dan ini ada barang keperluan jika Andra perlukan nantinya," ucap Amaira seraya menyerahkan tas yang berisi perlengkapan milik Andra dan Soraya pun kini menerimanya. "Kalau begitu sampai jumpa, kami akan menelpon jika sudah selesai nanti," ujar Amaira dan diangguki oleh Soraya.


"Andra jangan nakal ya, hari ini ikut Om Rudi dan Tante Soraya dulu. Papa dan Mama gak akan lama," ucap Soraya berpamitan pada putranya seraya memberi kecupan pada dahi dan pipi Andra.


"Titip Andra ya, maaf merepotkanmu," ucap Reynand dan dibalasi anggukan oleh Rudi.


"Andra gak boleh bandel," ucap Reynand seraya mengacak rambut milik Andra dan siempunya kini mulai memberotak tak suka hingga membuat orangtua begitu pula Rudi dan Soraya terkekeh akan sikap yang ditampilkan oleh Andra.


Usai Reynand dan Amaira pergi, kini Soraya menoleh menatap ke arah suaminya dan hal itu pun disadari oleh Rudi.


"Kenapa?" sahut Rudi bertanya.


"Yakin kamu bisa asuh dia?" ucap Soraya menoleh sejenak pada Andra, ia bertanya demikian sebab usul menjaga Andra adalah tercetus dari ucapan suaminya dan lagi status Andra adalah yang notabenenya sebagai anaknya mantan pacar suaminya.


"Kita jalani," jawab Rudi yang kini menoleh pada Andra yang masih asyik bermain, Soraya pun manggut-manggut menanggapi ucapan suaminya.


Namun dalam hati ia membatin, 'Kita lihat saja nanti.'


Lama bermain dengan mobil-mobilannya kini Andra terlihat sudah mulai bosan, ia beranjak kemudian mulai berjalan-jalan bahkan mengitari area sekitaran dan mau tak mau Rudi wajib mengikutinya, kemanapun. Ia juga tak heran bahwa tadi saat pertama kali bertemu anak ini hampir saja berjalan sendiri ke arah tangga eskalator, karena setelah lama bersama ia tahu bahwa Andra adalah tipe anak yang aktif bergerak namun tak banyak bicara, kini bahkan Rudi sudah ngos-ngosan di buatnya.

__ADS_1


Hal itupun membuat Soraya tak bisa menahan senyumnya, ia menatap wajah Rudi yang sudah kelelahan akan ulah bocah kecil yang berlarian itu. Ia bahkan juga membayangkan bagaimana nanti jika anak yang tengah dikandungnya lahir, apa juga nantinya akan seperti Andra yang bisa membuat suaminya geleng kepala. Tak sadar tangannya kini bergerak mengelus perutnya yang masih datar.


"Tertangkap ya!" kata Rudi yang berhasil menangkap tubuh kecil yang kini terkikik dalam gendongannya. Ia pun kini membawa Andra berjalan ke arah Soraya yang terlihat tersenyum menatapnya.


Rudi begitu sampai dihadapan Soraya, langsung menghela nafas panjang. Sontak membuat Soraya tersenyum puas. "Kamu capek?" tanya Soraya dengan tangan yang terulur menyeka kening suaminya yang sudah tampak berkeringat.


"Lumayan melelahkan," sahut Rudi dengan masih mengatur nafasnya.


Kini Soraya beralih menatap ke arah Andra yang juga tak kalah keringatan, ia pun menarik beberapa lembar tisu lalu mengelap wajah Andra yang kini tengah dalam gendongan Rudi.


"Sudah pukul berapa?" ucap Rudi.


Soraya pun melirik ke arah jam tanggannya dan berkata, "Setengah empat."


"Apa Andra sudah lapar?" ucap Soraya yang kini mengarahkan pandangannya menatap Andra, tapi Andra diam tampak dengan wajahnya yang tengah terlihat seperti sedang mengerang, kaku.


"Andra kenapa?" ucap Soraya menatap kearah suaminya dengan wajah pias, takut bila sesuatu yang tidak-tidak terjadi pada Andra.


Rudi pun kini mengangkat dan membalikkan tubuh Andra agar bisa menatapnya, kedua alisnya kini naik dan tak lama ia memasang raut wajah sedikit ngeri sebab kini tercium bau tidak sedap yang menyeruak masuk kedalam lubang hidungnya.


"Kenapa?" tanya Soraya penasaran.


"Dia pup," sahut Rudi dan kini beranjak pergi membawa serta Andra dalam gendongannya. Namun baru mendapat beberapa langkah ia kembali berbalik arah ke tempat Soraya berdiri dan berkata, "Sini tasnya."


Entah apa yang dilakukan Rudi dan Andra didalam sana, tapi kini Soraya tak hentinya tersenyum juga membayangkannya. Seorang Rudi mau menceboki pantat bayi, Soraya bahkan sudah tak bisa lagi menahan tawa hingga pada akhirnya Rudi dan Andra muncul dari balik pintu toilet pria.


'Hmmm, sepertinya memang sudah cocok,' batin Soraya yang rasanya sudah tak sabar lagi untuk menanti kehadiran janin yang tengah dikandungnya.


Ponsel Soraya kini berdering, Amaira memberitahukan bahwa urusannya telah selesai dan akan datang untuk menjemput Andra, kini mereka pun membuat janji di taman luar yang letaknya tak jauh dari Mall tersebut.


"Kita langsung balik saja ya, tadi Amaira telpon akan menjemput Andra di taman," kata Soraya saat Rudi telah berdiri di hadapannya.


"Baiklah kita kesana," sahut Rudi dan kini mereka berjalan beriringan menuju lift agar lebih cepat.


Dua puluh menit kemudiaan mereka telah sampai di taman, terlihat Reynand dan Amaira yang telah sampai lebih dulu. Langkah kaki yang makin mendekat membuat Andra ingin turun dari gendongan Rudi. Setelah Rudi menurunkan tubuh Andra, bocah itupun berlarian ke arah orang tuanya.


"Hai, bahagia sekali anak Papa," sahut Reynand kini menangkap tubuh putranya yang tengah menubruk dirinya.


"Maaf ya kami merepotkan kalian," ucap Amaira menatap Rudi dan Soraya bergantian.


"Tidak, kami justru senang Andra ikut bersama kami," sahut Soraya tersenyum penuh arti.


"Baiklah kalau begitu kami berpamitan untuk pulang terlebih dahulu," ucap Amaira dan kini memberi tangannya terulur menjabat tangan Soraya kemudian saling memeluk. "Aku senang bisa mengenalmu," sambungnya.

__ADS_1


"Aku juga," sahut Soraya yang tak kalah bahagia.


Sementara Rudi Reynand kini saling melempar senyum.


"Hubungi aku saat istrimu sudah melahirkan nanti. Aku dan Istriku akan datang berkunjung," ucap Rudi.


"Baiklah sampai berjumpa lagi," sahut Reynand seraya menepuk pundak Rudi.


"Andra sampai jumpa," kata Soraya seraya melambaikan tangan kearah mereka dan dibalasi oleh Andra juga Amaira.


"Mereka terlihat bahagia ya," gumam Soraya membuat Rudi seketika menoleh menatap istrinya. "Tapi tak lama lagi kita juga akan seperti mereka," ucap Soraya yang kini memutar tubuhnya menghadap Rudi.


"Iya, kita berdua juga bahagia," sahut Rudi meraih dan menggenggam ke dua tangan milik Soraya, tapi Soraya kini menggeleng membuat Rudi mengerutkan keningnya dalam.


Sebelum mengeluarkan suara kini Soraya memandang lekat ke arah suaminya, kemudian menarik nafas dalam mengisi penuh rongga paru-parunya. Dengan suara bergetar ia kembali berujar, "Kita tidak hanya berdua, tapi ada dia yang kini bersama dengan kita." Kata Soraya yang menarik satu tangannya dan beralih mengelus perut datarnya.


Mata Rudi mengerjap menatap Soraya dengan raut wajah tak percaya.


"Selamat, kamu akan jadi seorang ayah," ucap Soraya yang tak mampu lagi membendung air matanya.


Mulut Rudi sontak terbuka, ia terlihat begitu terkejut akan berita yang diucapkan oleh Soraya dengan gerak kaku ia kini menarik tubuh Soraya dalam pelukannya, ia bahkan tak kuasa menitikan air mata sebab haru menyelimuti hatinya.


"Terimakasih, aku mencintaimu," gumam Rudi dan membuat Soraya menarik diri menatap ke arah suaminya yang memang jarang sekali mengucapkan kalimat itu.


"Ucapkan itu lagi," pinta Soraya lirih.


"Aku mencintaimu dan terimakasih sudah menjadi bagian dari hidupku," ucap Rudi lalu menangkup wajah Soraya dan memberi kecupan dalam di kening istrinya.


"Kami juga mencintaimu," gumam Soraya dan diangguki oleh Rudi usai melepas kecupannya.


"Kita pulang," ucap Rudi dengan mengulurkan tangannya dan disambut dengan senang hati oleh Soraya.


Sampai disini ya kisah mereka, untuk kotak hadiah yang ditujukan pada Rudi ahhh kalian bisa membayangkannya sendiri,,,


Ikuti kisah yang lainnya juga ya dar XINHUA


Ruang Rindu on going ya sudah di episode 37


Senandung Impian cerpen sudah di episode 17


Terimakasih atas dukungan juga kesetian dari teman-teman semua


Salam hangat

__ADS_1


Xinhua


__ADS_2