Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 10


__ADS_3

Rudi menghentikan laju mobil yang ia kendarai, ia bergeser menoleh demi memandang orang di sampingnya. Ditepuknya ke dua pipi wanita itu. Ia mengingat-ingat siapa namanya, wajahnya terlihat familiar. Apa ia salah satu pasiennya, pikirnya.


Sebab Rudi belum lama kembali ke Indonesia, kalau dihitung mungkin sekitar satu tahun kurang. Jadi sudah di pastikan tak banyak orang yang mengenalnya, terkecuali teman-teman di masa SMA nya, tapi tak mungkin, pikirnya lagi.


Wanita disampingnya mulai melenguh sebab tindakan yang Rudi lalukan. Pelan mata itu mulai terbuka dan mengerjap memandang orang disampingnya.


"Dimana alamatmu, akan aku antarkan kamu pulang."


"Pusing, kepalaku pusing," ucap Soraya disertai mendesis menahan sakit dikepalanya.


Sedang Rudi berdecak kesal, sungguh merepotkan membawa orang mabuk apalagi wanita, dan ia tak begitu mengenalnya. Dengan segera ia meraih tas milik Soraya yang berada di atas pangkuan wanita itu. Ia menemukan ponsel, tapi sialnya dalam keadaan mati.


Ia masih berusaha mencari lagi dari dalam dompet wanita itu, menarik satu kartu yang terselip diantara kartu lain. Yakni kartu identitas diri, tertulis nama Elvina Felicia Soraya, berlanjut ia membaca alamat yang tertera disana.


Ia berfikir mengantarkan wanita itu pulang adalah jalan terbaik. Saat ia sudah menyalakan mesin mobil, justru Rudi mengacak rambutnya frustasi.


"Gimana kalau orangtuanya salah paham, bawa anak orang pulang dalam keadaan mabuk," gumamnya. Padahal ini bukan kesalahannya, Rudi hanya kasihan dan berniat menolong tapi pikirannya seolah berkecamuk.


"Sial!" umpatnya, dengan terpaksa ia memutar arah membawa pulang saja wanita itu ke apartementnya agar tak terjadi kesalahpahaman dan lagi tak akan ada hal diluar batas wajar serta lebih aman sebab Rudi hanya tinggal sendiri disana. Ia akan menunggu wanita itu tersadar, setelah itu menyuruhnya pulang.


Mobil terparkir dilantai basement apartemen milik Rudi. Dilihat jam di pergelangan tangannya, jarum jam mendekati angka duabelas. Sudah cukup larut malam, batinnya.

__ADS_1


Melihat ka arah samping, "Kamu bisa jalankan?" ucap Rudi sambil melepas sabuk pengamannya.


"Hmm," gumam Soraya disertai anggukan, Rudi menyadari wanita di sampingnya kepayahan melepas sabuk pengaman. Apa boleh buat dia turut membantunya.


Bergegas ia turun lalu mengitari mobil untuk membantu Soraya, yang sudah ia duga, wanita itu sempoyongan berjalan.


Rudi berjalan sambil merangkul lengan Soraya agar berjalan bersejajar. "Kita mau kemana?" tanya Soraya mendongak menatap Rudi dengan mata mengerjap.


Rudi menunduk sebab tubuhnya lebih tinggi dari Soraya, lalu memandang kesal ke arahnya. "Pulang!" ucapnya terdengar ketus.


"Pak Dokter ternyata tidak seramah yang aku kira." ucapnya menjauh dari Rudi, lalu dia kembali berujar, "Ketus!" disertai kekehan sudah seperti orang yang mabuk.


Pintu lift terbuka, Rudi segera menarik Soraya agar memasuki lift. Dengan terpaksa Rudi memeluk tubuh Soraya agar tidak terjatuh dilantai.


"Meskipun Pak Dokter ketus, tapi aku suka." Kata Soraya saat pintu lift tertutup. Dan untungnya hanya mereka berdua di dalam sana.


"Apalagi kalau kamu lagi senyum," Soraya mendongakan wajahnya menatap mata Rudi yang tengah menunduk menatapnya. Tangannya naik mengelus dada bidang Rudi. Lalu merebahkan kepalanya ke dalam dada Rudi sambil memejamkan mata.


Rudi Risih dengan kelakuan wanita dihadapannya, ingin sekali di melepas tangan kanannya yang menopang memeluk tubuh wanita itu, tapi bila ia melepasnya sudah pasti wanita itu jatuh ke lantai. Sementara tangan kiri membawa tas milik wanita dipelukannya.


Lalu Soraya menarik diri, dan memangil nama Rudi dengan ucapan yang terdengar sayu, "Rudi?"

__ADS_1


Rudi kembali menunduk menatap wajah Soraya, "Apa!" ucapnya ketus.


"Jangan galak-galak," cicit Soraya yang intens memandang Rudi, tangannya mulai naik meraih dan jemarinya menyentuh rahang milik Rudi. Sedang satu tangannya merayap perlahan kebelakang menarik tengkuk Rudi. Perlahan Soraya memajukan wajahnya lalu menempelkan bibirnya ke bibir Rudi.


Rudi seakan sulit menelan ludah yang tersangkut di tenggorokan. Dan entah keberanian dari mana ataukah sebab meneguk cairan pahit di club tadi yang menyebabkan seorang Soraya hilang kendali.


"Apa yang ka—" ucapan Rudi terhenti sebab Soraya semakin menariknya menunduk, dan ciuman terasa kian menuntut.


Mata Rudi kian melorot, sebab ini adalah ciuman pertamanya yang direnggut paksa oleh wanita yang ia merasa belum mengenalnya, meski wanita itu telah memanggil namanya berulang kali. Dan ternyata musibah besar telah membawa wanita itu pulang, batinnya merutuki.


Saat Rudi mencoba membuka mulutnya untuk memprotes, justru hal tak terduga terjadi. Wanita itu makin memperdalam ciumannya.


Rudi yang masih waras bergegas menjatuhkan tas milik Soraya yang berada ditangan kirinya. Dan mendorong tubuh Soraya agar menghentikan aksi wanita didepannya, sehingga terlepaslah bibir mereka.


"Wanita brengsek," umpat Rudi meski lirih.


Matanya geram menatap mata sayu wanita itu, namun tubuh Soraya kini malah terkulai lemas tak sadarkan diri. Beruntung Rudi kembali menopangnya hingga dentingan lift berbunyi.


Dengan kepayahan Rudi membopong tubuh Soraya keluar dari dalam lift kemudian masuk menuju apartement miliknya. Setelah merebahkan tubuh Soraya di sofa ruang tamu, dia hanya bisa mengatur nafas lelah disertai rasa jengkel pada wanita dihadapannya.


To be Continue

__ADS_1


__ADS_2