Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 24


__ADS_3

"Kenapa kita kesini?" tanya Soraya menatap arah luar mobil yang kini sedang berada di lantai basement area parkiran pusat perbelanjaan.


Tanpa menjawab ucapan Soraya, Rudi melepas seatbelt lalu membuka pintu mobil. Hal itu membuat Soraya semakin jengkel akan sikap Rudi. Soraya bisa mengambil kesimpulan, bahwa Rudi adalah lelaki yang menyebalkan. Terbukti karena beberapa kali Soraya diacuhkan.


Soraya mendegus kesal lalu mulai turun dari mobil mengikuti Rudi yang sudah berjalan terlebih dahulu. Ia kini berjalan dengan ribuan pertanyaan hinggap dikepalanya. Jalannya tak fokus hingga keningnya menubruk tubuh orang yang berdiri depannya.


"Aduh!. Ngapain berhenti mendadak!"


"Kamu yang ngapain jalan gak pakai mata," ucap Rudi dingin membuat mulut Soraya sedikit terbuka. Ia mengeram, kemudian berujar, "Kamu yang berhenti mendadak, kenapa aku yang disalahin?"


"Kita sudah sampai," ucap Rudi seolah mengalihkan pertanyaan yang diucapkan oleh Soraya. Dengan cepat Rudi menarik tangan Soraya, agar wanita itu berjalan disisinya.


Soraya terhenyak, mau tak mau ia menyamakan langkah kaki berjalan beriringan memasuki sebuah pertokoan yang baru Soraya ketahui toko perhiasan. "Ngapain kita kesini?" ucap Soraya lirih melirik ke arah Rudi.


"Kita cari cincin."


Mata Soraya mengerjap. Tak salah dengarkan, batinnya. Berbagai model cincin dan cantik terpajang di etalase. Soraya fokus memandangi satu persatu, tangannya masih bergelanyut pada lengan milik Rudi. Hingga fokusnya kini teralihkan oleh salah satu pelayan toko yang menawarkan bantuan.


"Ada yang bisa dibantu, kami mempunyai model terbaru untuk pasangan. Kalau boleh tahu cincin yang mau digunakan untuk apa?"


"Cincin pernikahan," ucap Rudi cepat. Soraya tak menduga, secepat inikah dirinya akan menikah. Rasanya baru kemarin ia ditolak, bahkan sekarang terasa ia sedang bermimpi.


Sang pelayan toko pun mulai mengeluarkan dan menaruh beberapa cincin ke atas meja kaca. "Ini model terbaru di toko kami," ucap pelayan toko seraya menyodorkan cincin kepada Soraya.


Soraya mulai mengambil lalu mengamati dengan seksama, cincin dari emas putih terdapat berlian kecil yang menghias di atas maupun sisi, meski jumlahnya tak banyak. "Kenapa modelnya simpel begini mbak, gak ada model lain?" tanya Soraya.


"Iya, sebab cincin pernikahan juga digunakan oleh pengantin pria meski desainnya agak sedikit berbeda dari yang dipakai pengantin wanita, jadi model simpel tidak terdapat banyak ukiran. Juga cincin pernikahan biasanya akan dipakai sehari-hari," jelas pelayanan toko dan diangguki oleh Soraya.

__ADS_1


"Sepertinya yang ini bagus," ucap Soraya lirih menoleh pada Rudi seakan meminta pendapat kepadanya. "Apa ini boleh dicoba mbak?" tanya Soraya pada pelayanan toko dan dijawab dengan ramah disertai angukan.


Soraya mulai menyelipkan cincin ke jari manisnya dan mulai mengamati cincin yang serasa pas saat dipakai.


"Cincin juga bisa dipesan dengan menambahkan ukiran nama," sahut pelayan toko.


Soraya mulai mencoba memutar cincin yang bertengger di jari manisnya, berniat untuk melepasnya. Namun wajahnya nampak pias kala cincin itu terasa sulit keluar dari jarinya. Ketakutan mulai muncul kala usaha yang ia lakukan tak membuahkan hasil.


Melihat Soraya yang kian panik Rudi mulai membuka suara, "Kenapa?"


"Gak bisa lepas," ucap Soraya takut-takut.


"Kemarikan tanganmu," decak Rudi.


Ragu-ragu tangan Soraya terulur, Rudi menyambut dan menyentuh tangan Soraya. Ditatapnya wajah Rudi dan tangannya berulang kali. Tiba-tiba jantungnya berulah, berdebar-debar tak kenal tempat. Tak lama Soraya menjerit akibat ulah Rudi yang menarik kuat cincin yang tersemat di jari Soraya.


Soraya menepis tangannya hingga terlepas dari genggaman tangan Rudi. Sambil mengeluh kesakitan, merasakan jarinya yang terasa begitu nyeri. Bahkan cincin tak bisa lepas. "Sakit!" teriaknya disertai mulut mencebik ingin menangis. "Gimana, ini gak bisa dilepas?" ucap Soraya mendegus kesal.


"Ya sudah, kita ambil yang ini mbak," sahut Rudi cepat.


Cincin tetap tersemat di jari manis milik Soraya dan tak bisa terlepas, alhasil cincin yang dipakai Soraya tanpa ukiran nama. Sedang cincin yang akan Rudi kenakan tetap berada di toko untuk proses pengukiran nama pasangan dan baru bisa diambil beberapa hari kedepan. Mereka berdua pun kini keluar dari toko perhiasan lalu menuju restoran atas permintaan Soraya.


Perutnya terasa melilit sebab sedari tadi pagi ia belum makan, bahkan suara diperutnya tak terhindarkan.


"Berapa hari kamu tidak makan?" tanya Rudi melihat Soraya makan seperti orang kesetanan.


"Semalam dan sampai sekarang aku baru makan," kata Soraya yang tak jelas, sebab mulutnya penuh terisi makanan.

__ADS_1


Rudi membiarkannya dan tak lagi mengajak bicara. Membiarkan Soraya menghabiskan makanannya terlebih dahulu. beberapa menit berlalu, Rudi hanya menyesap sedikit demi sedikit kopinya.


"Apa sebenarnya tujuan kamu hingga berubah pikiran dan mau menerima permintaanku?" tanya Soraya sambil mengelap mulutnya menggunakan tisu yang diambil dari dalam tasnya. Pertanyaan itu yang dari kemarin membuat dirinya penasaran.


Rudi mengalihkan pandangannya dan kembali mengambil cangkir, "Aku butuh menikah," ucap Rudi tenang sebelum menyesap kopinya.


Alis Soraya mengerut, ia masih belum puas akan jawaban itu. Ambigu, butuh?. Ia juga butuh, karena Soraya perlu status yang akan mendukung untuk mendapatkan kembali hak miliknya. Lalu alasan lelaki dihadapannya apa.


"Aku pikir yang kita lakukan bisa menjadi hubungan timbal balik dan tak ada yang dirugikan, makanya aku menerimanya," kata Rudi meletakkan kembali cangkir kopi di atas meja.


Keheningan kini terjadi diantara mereka, sama-sama tenggelam dalam pemikiran masing-masing.


"Kamu bukan seorang homokan?" cetus Soraya dengan raut mencurigakan. Ia waswas jika saja Rudi menikahinya untuk memanfaatkan dirinya menutupi jati diri yang sesungguhnya.


Rudi berdecih tersenyum meremehkan, "Aku lelaki normal."


"Lalu, apa alasanmu sebenarnya?" tanya Soraya mendelikkan matanya menatap penuh selidik.


"Kakekku mendesak agar menyuruhku segera menikah. Dan beliau tak akan berhenti sebelum keinginannya tercapai. Cincin itu, Kakek semalam yang memintanya" jelas Rudi dan diangguki Soraya.


Ada rasa kecewa menyelusup dihati Soraya, bahwa cincin yang tengah ia raba dibawah meja bukan dari orang di depannya. Tapi ia berusaha mengabaikan asal permintaannya segera terpenuhi.


"Sesuai dengan yang aku minta kemarin, bolehkah aku mengajukan permintaan lagi." Soraya berkata dan menatap wajah Rudi, "Tidak ada kekerasan fisik dalam pernikahan, kita juga belum saling mengenal aku berharap kita bisa saling menjaga privasi masing-masing. Dan aku pastikan tak akan mengganggu dan membebanimu nanti," sambungnya.


To be Continue


Jangan Lupa kritik dan Sarannya

__ADS_1


Jempol dan tanda cintanya, agar tak ketinggalan updatean terbarunya


yang suka ceritanya jangan lupa VOTE


__ADS_2