
Suara sendok dan garpu saling beradu. Di meja makan kini hanya ada Bramantyo dan Cindy yang sedang menikmati makan malam, sebab kali ini putrinya sedang tidak berada dirumah.
"Pa, lusa Kevin sudah pulang," kata Cindy memulai percakapan.
"Iya," jawab Bramantyo singkat masih meneruskan makan tanpa menoleh pada orang yang mengajaknya bicara.
"Papa udah siapkan posisi yang tepat untuk Kevin di perusahaan."
"Belum.."
"Apa!" seru Cindy begitu kesal dengan ucapan suaminya. "Kevin sudah berjuang kuliah jauh-jauh sampai keluar negri dan sampai dia menyelesaikan S2-nya Papa gak ada persiapan apapun untuk kepulangannya?" ucap Cindy tak habis pikir dengan suaminya.
"Biarkan Kevin memulai karirnya dari awal, layaknya karyawan lain. Lagi pula dia juga harus mengasah kemampuannya, dalam menghadapi tuntutan bekerja dia harus punya skill yang memadai," jelas Bramantyo.
"Tapi Pa, berapa lama kalau harus memulainya dari awal. Apa Papa tahu, Soraya berniat mengambil alih aset yang ditinggalkan oleh Hary?"
"Papa belum tahu. Tapi cepat atau lambat hak alih akan berpindah pada Soraya."
"Jadi, Papa gak keberatan akan hal itu?" ucap Cindy geram.
"Itu milik Soraya—"
"Gak Pa, Papa yang berjuang selama ini menjalankan perusahaan dan kita yang merawatnya sampai sebesar ini. Sudah selayaknya kita juga memiliki hak yang sama," kata Cindy.
"Gak Ma, itu kewajiban kita merawat Soraya karena kita selaku keluarga. Dan kita gak punya hak apapun karena Papa hanya menjalankan tugas sebagai salah satu karyawan diperusahaan."
"Kenapa Papa berpikiran sekolot ini!" kata Cindy geram seraya membanting sendok keatas meja.
Bramantyo terlihat menyatukan alisnya, Suasana makan yang tadinya tenang berubah tegang. "Maksud Mama apa? Apa selama ini Mama masih belum terima dengan apa yang Papa berikan?" ucapnya tegas
__ADS_1
"Iya!" katanya penuh penekanan. "Apalagi Mama gak terima kalau Soraya mendapat semua warisannya. Apa Papa lupa Kevin juga punya hak yang sama?"
"Lancang kamu!" ucap Bramantyo disertai tamparannya yang mendarat di pipi Cindy.
Cindy memegangi pipinya yang terasa perih akibat tamparan suaminya, tanpa berkata ia menatap suaminya tajam dan penuh kebencian. Lalu setelah itu pergi begitu saja. Sedangkan Bramantyo masih terdiam melihat telapak tangannya yang baru pertama kali melayangkan tamparan pada istrinya. Masalalu yang sudah lama terkubur diungkit kembali dan menyebabkan dirinya hilang kendali.
***
"Beberapa hari kedepan aku tidak berada dirumah, jaga dirimu baik-baik. Dan akan ada seorang asisten rumah tangga yang akan menemanimu disini," kata Rudi setelah memakan suapan nasi pertama.
"Kemana?" tanya Soraya yang langsung mendongak menatap Rudi yang duduk dihadapannya.
"Aku akan pergi ke New York," ucap Rudi yang juga menatap Soraya.
"Apa ada pekerjaan disana?"
Soraya nampak berfikir. "Pantas, selama acara pernikahan berlangsung, aku tidak bertemu dengan Mamamu. Apa beliau tinggal disana dan kenapa di acara sepenting kemarin beliau tak turut hadir," ucap Soraya seakan memberondong pertanyaan.
Alis Rudi terangkat, senyum tipisnya menyungging. "Nanti aku akan perkenalkan kepadamu, kalau keadaannya sudah lebih membaik."
"Apa itu artinya beliau sedang sakit?"
Rudi mengangguk. Belum sempat menjawab Soraya kembali bersuara, "Bukankah lebih baik aku ikut denganmu?"
"Belum waktunya," ucap Rudi menimpali. "Lanjutkan makanmu, setelah itu istirahat agar kondisimu segera pulih," sambungnya lagi.
Soraya pun menuruti perintah Rudi. Ia melanjutkan makannya namun pikirannya masih menerka-nerka, ibunya Rudi sakit apa sebenarnya. Sampai-sampai harus berobat dan tinggal di luar negri, sementara Rudi adalah seorang dokter juga kakeknya adalah pemilik rumah sakit.
Malamnya.
__ADS_1
"Jangan bertanya lagi kamu akan tidur dimana?" kata Rudi yang mengetahui sorot mata Soraya yang bergerak gelisah.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun setelah Soraya berganti pakaian tidur, ia hanya terdiam berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Biar aku tidur diluar saja," ucap Soraya sambil menunjuk pintu kamar.
Rudi yang bersender pada bed board mendegus, menutup kasar buku yang belum selesai ia baca kemudian meletakkannya diatas nakas. Berlanjut menyibakan selimut dan berujar, "Naik!"
Bibir Soraya refleks terbuka tapi beberapa saat terkatup kembali.
"Aku tak butuh dibantah," kata Rudi lagi.
Soraya pun bergerak ragu mendekat kemudian naik keatas ranjang, ia mengambil tempat disebelah Rudi kemudian memilih langsung berbaring dan menarik selimut sampai menutupi dada. Rudi pun melakukan hal yang sama tidur membaringkan punggungnya, bibirnya menyungging sebab menyadari Soraya yang tengah meremas ujung selimut seperti tak ingin kehilangan pegangan.
"Dibiasakan."
"Haaaa..." Soraya seperti tersentak akan lamunannya.
"Persiapkan dirimu sampai aku pulang nanti," ucap Rudi sebelum mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur dengan cahaya temaram.
Soraya mengernyit tak paham, Persiapan apa, batinnya. Tapi saat hendak bertanya justru kini Rudi berbaring miring memunggunginya.
**To be Continue
Hari ini double
Jangan lupa jempol, komentar juga VOTE nya
Agar nanti malam author makin semangat nulis lanjutannya.
__ADS_1