Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 65


__ADS_3

Baru saja Rudi menyesap kopinya, namun cangkir yang berada dalam genggaman yang hendak ditaruh kembali pada meja kini meluncur bebas dari genggamannya, hanya tersisa pegangannya yang berada ditangan. Sementara cangkir dan isinya yang masih setengah terjatuh, menimbulkan bunyi juga serpihan bercampur genangan air kopi mengotori lantai.


Sontak ia sedikit merasa kaget, firasatnya tiba-tiba merasa tidak enak. Jantungnya yang semula normal kini terasa mulai berdebar.


"Ada apa?" tanya salah satu teman sesama profesinya yang saat ini tengah berada diruangannya.


"Entah, tiba-tiba saja gelas itu retak dan meluncur ke lantai," kata Rudi sambil memperlihatkan pegangan cangkir yang masih ada ditangan, kemudian meletakkannya diatas meja.


"Biar aku panggil saja petugas kebersihan untuk membereskannya," kata rekan Rudi, dan Rudi pun mengurungkan niatnya untuk memunguti serpihan cangkir berbahan keramik tersebut.


Waktu berlalu. Berusaha ia menenangkan pikirannya namun tetap saja, ia justru tidak fokus mengerjakan laporan dan berkas kerjanya, rasa gelisah tiba-tiba saja hadir menyeruak ke dalam hatinya.


"Kenapa?" tanya rekan Rudi yang bernama Angga yang mengamati perubahan air muka Rudi.


"Perasaanku tak enak."


Angga menghentikan pekerjaannya. "Kamu bisa bercerita kepadaku, aku orang yang bisa dipercaya," kata Angga.

__ADS_1


Seulas senyum muncul di bibir Rudi. "Lebih baik aku pulang lebih awal, aku tidak bisa berkonsentrasi mengerjakan laporan-laporan ini. Lakukan tugasmu, bila ada kendala hubungi aku," kata Rudi yang bangkit dari kursinya seraya mengambil jas kerjanya.


Angga mengangguk. "Baiklah," ucapnya dan dibalasi oleh Rudi tepukan dipundaknya. Rudipun berlalu keluar dari gedung Rumah sakit tempatnya bekerja.


Selama perjalanan ke apartemen hatinya tak merasa tenang, ia pun meraih ponsel dan mendial nama Soraya. Perlu beberapa kali ia mencoba, panggilan itu kini tersambung.


"Hallo," ucap seorang lelaki diseberang sana, suaranya nampak asing.


"Soraya dimana?" tanya Rudi yang langsung pada intinya.


Sejenak tak ada jawaban. "Soraya — dia ada di apartemen." Terdengar kata yang diucapkan oleh orang diseberang sana terdengar ragu.


Sesampainya di lantai apartement tempatnya tinggal nampak orang yang ia kenali, yakni Jenny sedang berdiri di depan pintu apartement.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Rudi ketika sampai dihadapan Jenny.


Jenny terdiam, nafasnya tercekat. Rasanya tak sanggup untuk menatap orang yang berdiri dihadapannya.

__ADS_1


"Katakan apa yang terjadi?" tanya Rudi yang menangkap sorot aneh dari gelagat Jenny.


"Soraya ada di dalam," ucap Jenny setelahnya, suara yang ditemuinya tadi ternyata orang dihadapannya. Suara normal layaknya lelaki biasa, bukan suara yang biasa didengarnya dulu, suara tertahan. Tapi, bukan itu yang Rudi pikirkan sekarang, keraguan dan kehati-hatian cara berucap Jenny membuatnya makin mengerutkan keningnya dalam.


Buru-buru Rudi memasukan pascode apartementnya, setelahnya pintu terbuka. Sepi, ia pun memasuki apartemen sambil memanggil nama Soraya namun tetap tak ada jawaban.


Langkahnya beralih ke kamar, hanya seonggok pakaian yang ia temukan di lantai. Rudi melangkah perlahan, hanya satu tempat yang belum ia masuki, kamar mandi.


Jantungnya makin memacu, perlahan handle pintu mulai ia genggam, ia tak lagi memanggil nama Soraya sebab di dalam tak ada suara yang bisa ia dengar. Nafasnya tercekat matanya terbelalak saat pintu lelah terbuka.


"Soraya!" ucapnya terkejut.


Dengan langkah lebar ia menuju bath up mengangkat tubuh Soraya dan mengeluarkan tubuhnya yang tenggelam dalam air bak. Tubuh polos itu kini memucat, sekuat tenaga ia mencoba membangunkan Soraya.


"Soraya! Apa yang terjadi sadarlah!" ucap Rudi histeris seraya menepuk pipi Soraya berulang kali, namun tetap tak menunjukkan tanda pergerakan.


Jenny yang tadi ikut masuk ke apartemen kini menuju sumber suara, ia terkejut melihat Soraya yang tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Cepat panggil ambulan!" perintah Rudi padanya. Jenny pun menuruti perintah Rudi dengan panik dan tangan yang masih bergetar karena situasi yang tengah terjadi.


To be Continue


__ADS_2