
"Pagi Cin.." Seorang pria dengan gaya gemulai melenggang menghampiri Soraya yang tengah duduk di sofa ruang make-up dekat studio pemotretan.
"Udah siang, Jen!" Soraya cemberut namun tetap menyambut salam dengan bercipika-cipiki pada seseorang yang bernama Jenny, dialah spesialis make-up artist yang membantunya dalam berpenampilan.
"Akika kejebak macet, tau!" sergah Jenny dengan merajuk sambil meletakkan tasnya. "Duduk sinilah, biar langsung aku kerjain kami," sambung Jenny sambil menepuk kursi rias yang di gunakan untuk proses make-up.
Soraya langsung bangkit dan berjalan menuju ke arah Jenny dan duduk menghadap cermin.
"Denger-denger kamu kabur ya dari konferensi pers?" tanya Jenny yang sibuk memblow menata rambut Soraya.
"Konferensi pers apaan?" jawab Soraya tanpa mengubah arah pandangnya yang fokus mengamati lembar demi lembar majalah yang tengah ia baca.
"Ya itu, waktu kamu di rumah sakit. Tapi aku jujur aja salut. Harus lah ya, ucapin conggratulation," katanya seolah penuh semangat.
"Orang kabur di kasih ucapan selamet? Nglindur?" ucap Soraya menutup majalah dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang mampu mengagetkan orang di belakangnya.
"Jangan hoby ngagetin! Aku ngomong gitu karena ngrasa tumben aja kamu bisa pinter," kata Jenny setengah kesal sampai ia melupakan logatnya.
__ADS_1
"Emang tiap harinya aku ****? Gitu maksud kamu?" tanya Soraya yang menatap tajam ke arah Jenny lewat pantulan cermin di depannya.
"Iya, **** karena kamu nurut sama mereka."
"Mereka?"
Jenny menghela nafas. "Ya, menagement artis plus sepupu kamu itu."
"Ada apa sama mereka?" tanya Soraya yang semakin tak mengerti.
Jenny seakan dibuat gemas, kemudian memutar tubuhnya demi menatap Soraya. "Neng. Kamu gak nyadar, kalau kamu itu cuma dimanfaatin sama mereka."
Sementara Jenny memutar bola matanya jengah. "Dengar, dunia itu ke—jam," katanya penuh penekanan. "Baik boleh, **** jangan. Jangan cuma menghadapi masalah dengan hati, pake juga logika," sambungnya.
Dalam hati Soraya sebenarnya sudah mulai merasakan ketidak beresan terhadap orang-orang di sekelilingnya. Tapi ia seakan masih menampik bahwa tak mungkin hal itu terjadi.
"Mumpung cuma ada kita berdua disini, aku baru berani ngomong ke kamu. Aku udah perhatikan dari semenjak kenal dekat sama kamu. Tanpa kamu ngejelasin pun aku udah bisa nangkep kalau kamu itu asli orang kaya. Dan kenapa anehnya media memberitakan sebaliknya, parahnya skandal-skandal yang bermunculan. Apalagi ini," ucapnya sambil menaikkan dagu Soraya.
__ADS_1
"Mereka bilang oplas, katarak kali ya. Ini asli, kamu itu memang cantik dari lahir," jelas Jenny.
"Emang," sahut Soraya singkat.
"Trus kamu diem aja dikata-katain, digosipin sama hal yang gak bener ini?"
Soraya menggeleng.
"Kalau passionmu emang di dunia entertain, coba deh gali lalu kenali bakat kamu, lebih cenderung dimana. Dunia artis gak cuma akting doang Neng, mungkin bisa dari tarik suara atau bahkan presenter. Apalagi kamu pinter ngomong," ucap Jenny yang seakan memberi petuah.
"Dan lagi kalau perlu pindah management Artis. Cari yang bener biar ikutan jadi orang bener," sambungnya sambil kembali mentouch-up bedak berlanjut memoles Soraya dengan lipstik yang terkesan natural. Sebab pemotretan kali ini berhubungan dengan iklan komersil pada bidang properti.
"Terus kenapa kamu sendiri masih mau bergabung dengan management yang sama seperti aku?" tanya Soraya.
"Kalau Akika alasannya karena kebanyakan BH. Jadi kerjaan sana sini, OK ambil. Asal gaji lancar sebab butuh duit. Beda kan sama kamu," ucap Jenny kembali dengan nada yang terdengar kemayu.
Alis Soraya terangkat, "Apa BH?"
__ADS_1
Jenny menghela nafas lalu berucap, "Beban Hidup."
To Be Continue