
Jenny memelototi Soraya. 'Kapan anak ini kawin,' batinnya.
Suara yang diucapkan Soraya terdengar lirih jadi hanya bisa didengar oleh Jenny yang berada disampingnya. "Cincin ini dari pacarku."
Soraya meralat ucapannya agar tak timbul prasangka, dunia entertainment sedikit rentan harus pandai-pandai berucap dan bersikap jangan sampai timbul gosip aneh-aneh lagi menyangkut namanya.
Tapi hal itu justru mendapat tanggapan yang beragam dari orang disekitar Soraya, terlebih Angel. Dan begitu Soraya dan teman artis lainnya tampil ke panggung acara, kini Angel mulai mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Mamanya. Guna mengkonfirmasi apa yang telah ia dengar barusan.
Begitu mendengar kabar dari anaknya, Cindy bergegas menuju kantor tempat suaminya bekerja.
Saat sekertaris Bramantyo membantu membukakan pintu untuk Cindy, terlihat suaminya tengah sibuk mengerjakan map yang berisi laporan perusahaan yang berada di atas meja. Cindy masuk menyapa suaminya lalu duduk kursi sofa.
"Mama kenapa tiba-tiba datang ke kantor?" tanya Bramantyo yang mengambil tempat duduk di Sofa bersebelahan dengan istrinya.
"Aku kesini mau menanyakan tentang Soraya."
"Maaf, Papa lupa belum memberitahu, semalam Papa bertemu dengan Prasetyo Nugroho selaku wali dari Rudi. Kita berencana akan meresmikan hubungan Soraya dengan Rudi."
Alis Cindy bertaut, ada keterkejutan terpancar dari wajahnya. "Papa menyetujui hubungan mereka?"
__ADS_1
"Hm, mereka sudah sama-sama dewasa. Dan sudah saatnya Soraya melepas masa lajangnya," jelas Rudi.
"Tapi, tapi kita belum mengenal siapa itu Rudi. Dan Papa kenapa langsung setuju begitu saja tanpa meminta pendapat dulu dari Mama?" tanya Cindy yang dilingkupi rasa emosi, rencana yang ia buat bisa gagal total bila seperti ini, batinnya.
"Mama gak usah khawatir. Rudi dari keluarga terpandang, dia adalah salah satu dokter spesialis di rumah sakit milik keluarganya."
"Bukan itu maksud Mama," sela Cindy dan membuat Bramantyo merasa curiga akan sikapnya.
"Lalu maksud Mama apa?" tanya Bramantyo heran, hingga alisnya saling bertaut.
"Bu—bukan begitu. Mama cuma berfikir ini terlalu cepat, iya terlalu cepat," kata Cindy sedikit gelagapan. Ia sadar jika suaminya tengah menatapnya serius.
Cindy menarik nafas, mendekati suaminya. "Kalau misalkan Mama gak setuju?"
"Alasannya?" tanya Bramantyo serius.
"Karena Mama udah siapin calon untuk Soraya, dan dia orang yang terbaik yang Mama pilih untuk ponakan kita," tukas Cindy.
"Kalau itu alasan Mama, Papa gak setuju!," kata Bramantyo tegas. "Menikahkan Soraya dengan pilihan Mama itu artinya memaksakan kehendak kita. Papa kemarin setuju usul Mama karena belum tahu kalau Soraya sudah punya pasangan, dan sekarang Papa menolak tegas menarik kata-kata Papa, Apalagi keluarga Prasetyo Nugroho bukan orang sembarangan" sambungnya.
__ADS_1
Cindy tak bisa lagi mengelak ucapan suaminya. Apalagi suaminya kembali berujar, "Pernikahan mereka akan segera dilakukan."
Cindy tersenyum tipis dan mengangguk menanggapi ucapan suaminya, walau sebenarnya hatinya begitu kecewa karena keinginannya ditolak mentah-mentah oleh suaminya. Ia merendahkan kepalanya, menunduk dengan tangan terkepal di atas pahanya.
"Mama sudah makan siang?" tanya Rudi keluar dari pembicaraan semula, membuat Cindy tersadar akan situasi.
"Sudah, Papa sudah makan?" tanya Cindy kembali.
"Sudah," ucap Bramantyo merangkul bahu Cindy yang duduk disampingnya.
Cindy pun menarik senyum diwajahnya. "Kalau begitu Papa lanjutkan pekerjaannya, Mama pulang sekarang," ucapnya melepas rangkulan suaminya lalu berdiri untuk berpamitan pulang, kemudian berjalan meninggalkan ruang kantor suaminya.
Saat tengah berjalan di lobby ia berhenti sebentar, mengamati suasana kantor. "Aku akan berusaha keras agar Kevin memperoleh hak yang semestinya ia dapatkan," gumamnya lalu melanjutkan langkah keluar dari gedung perusahaan.
To be Continue
next apa yang akan terjadi?
Udah boleh nikah belum ya mereka?
__ADS_1