Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 52


__ADS_3

Percintaan baru saja usai. Rudi bangkit meninggalkan ranjang setelah ia mengenakan pakaian meski tak lengkap. Namun sebelum ia melangkah menuju balkon, ia mengambil kotak rokok yang disimpannya rapi dilaci nakas.


Rudi menyulut rokoknya kemudian mulai memandang gelapnya langit ibukota duduk bersandar di kursi balkon, menghisap dan menikmati nikotin yang masuk pada rongga paru-parunya.


Hanya disini dan ditempat tertentu Rudi bebas melakukannya, sebab diluaran ia menjaga image-nya dengan sangat baik. Seorang dokter, pria bersih, rapi dan sopan. Jauh dari kesan pria perokok.


Rudi memejamkan matanya dengan rokok yang masih berada ditangan. Satu kata yang terlintas difikirannya adalah brutal. Amarahnya sudah benar-benar reda setelah terlampiaskan oleh tubuh Soraya.


Dari petang ia menunggui kepulangan Soraya, begitu mencoba untuk menghubungi dan menanyakan keberadaannya nomor yang dituju tidak aktif. Sampai pada saat ia hendak mencari keberadaan Soraya yang tak kunjung pulang hingga larut malam, ia yang keluar dari gedung apartement justru menemukan istrinya bersama pria lain.


Cemburu, pertanyaan yang tercetus dari bibir Soraya berusaha ia sangkal. Tapi kala Soraya menanyakan apa arti hadirnya seolah membuat jiwanya terusik. Belum jelas kah? Status yang ia beri yakni sebagai istri, dan ada yang masih kurang yaitu bukti. Maka dari itu Rudi melakukan hal itu, namun dengan kasar juga arogan.

__ADS_1


Rudi mengacak rambutnya frustasi. Tapi tak seharusnya ia berbuat demikian, rutuknya dalam hati. Namun tindakan Soraya mengingatkannya dengan masa lalu hingga berulang kali memori itu berputar bak kaset rusak.


Rudi terlahir dari pasangan orangtua yang jauh dari kata harmonis. Tiada kebahagiaan di masa kecil hingga ia remaja, bahkan ia mengganggap dulu ayahnya hadir hanya sebagai pelengkap. Ayahnya selalu pulang larut dengan macam alasan yang dibuat-buat. Hingga pada suatu hari, Ibunya membawa Rudi pergi untuk menemui Ayahnya yang tak kunjung pulang. Tak dinyana Ayahnya bersama dengan seorang wanita tengah memadu kasih ditempat ayahnya berkerja. Dan sudah bisa ditebak, penghianatan sudah jelas didepan mata.


Setelah kejadian itu adu mulut, kekerasan fisik bahkan psikis di alami oleh Ibunya. Hal itu berselang cukup lama, namun berhasil diketahui oleh Kakeknya.


Kakeknya mengambil tindakan agar Ibunya dan Rudi ikut bersamanya. Namun dampak lain muncul setelah perpisahan dengan Ayahnya. Ibunya depresi akibat luka psikis, batinnya selalu menyalahkan dirinya yang kurang dimata suaminya. Karena kondisi kejiwaan yang mengkhawatirkanlah Ibunya dikirim ke luar negeri agar mendapat perawatan terbaik dan mau tak mau Rudi harus ikut mendampinginya.


Dengan tangan kirinya ia kini menyudut rokoknya pada asbak. Kemudian ia memilih kembali masuk ke dalam kamar.


Sementara yang terjadi dengan Soraya, ia begitu syok atas tindakan yang Rudi perbuat padanya. Tubuh dan jiwanya begitu merasakan sakit, tapi yang lebih menyakitkannya lagi adalah Rudi bangkit dan pergi begitu saja setelah menuntaskan hasratnya.

__ADS_1


Kepala Soraya menoleh ke arah pintu kaca balkon, bayangan Rudi tampak dari sana. Bau asap rokok menyeruak masuk melalui celah pintu kaca yang tak tertutup rapat. Mata yang berkaca menatap nanar ke arah sana.


"Kenapa?" ucapnya lirih, air mata kecewa luruh jatuh membasahi seprei.


Saat terdengar suara pintu bergeser, bola mata Soraya bergerak gelisah, bibirnya masih terkatup rapat. Segera ia menarik selimut guna menutupi tubuh polosnya. Ia yakin Rudi akan kembali masuk ke dalam kamar.


Langkah Rudi kian mendekat, sementara Soraya tak bisa menyembunyikan rasa gelisahnya. Matanya kembali berkaca dan digenggamnya erat ujung selimut yang menutupi tubuhnya.


Meski kamar dalam kondisi yang minim pencahayaan, kondisi Soraya tak luput dari sorot mata Rudi. Soraya kini nampak ketakutan terlihat dari tubuhnya yang menegang.


Rudi hendak bersuara, berharap bisa memperbaiki situasi. Namun saat bibirnya terbuka, ia urungkan sebab Soraya lebih dulu menyela meski dengan suara yang terdengar bergetar, "Jangan dekati aku, biarkan malam ini aku istirahat terlebih dahulu."

__ADS_1


To be Continue


__ADS_2