
"Benar gak nih tempatnya?" Soraya tak yakin tempat yang dikunjunginya bersama Jenny adalah tempat yang ingin dituju yakni agensi barunya.
"Benar kug, coba lihat alamatnya," ucap Jenny menarik kartu nama yang tengah dipegang oleh Soraya.
"Tuh sama nomor rumahnya, tapi kenapa sepi begini tempatnya?" ucapnya seraya berdecak. "Kita turun saja, tanyain langsung mungkin ada orang di dalam," ujar Jenny sambil melepaskan sabuk pengamannya.
"Yakin?" tanya Soraya yang mulai merasa ragu, sebab tempat yang di datangi kali ini terkesan seperti ruko. Bahkan jalanan yang dilalui cukup sepi karena jarak dari arah jalan raya lumayan jauh, letaknya berada di komplek perumahan.
Jenny tampak berfikir, "Kalau kamu gak yakin, masih ada kesempatan buat batalin. Kita kesini kan baru interview sama tes casting. Kalau kamu gak cocok, kita bisa cari job lain lagi."
"Gak perlu deh, kita masuk aja. Lagi pula ini kesempatan emas kita, sudah sekian lama juga kan kita nunggu."
"Kamu yakin?" tanya Jenny yang justru membuat Soraya memutar bola matanya malas. "Kenapa malah jadi kamu yang ragu?" ucap Soraya kesal.
Jenny meringis. "Kalau gitu, ayo!" ajaknya, kemudian keluar dari mobil disusul oleh Soraya.
Begitu Soraya dan Jenny mendekat ke arah ruko tersebut mereka disambut oleh penjaga tempat disana, kemudian mempersilahkan masuk. Saat memasuki ruangan terdapat foto-foto para model dengan berbagai macam pose, Soraya mulai mengamati matanya mengedar di penjuru ruangan sambil berjalan menuju ruangan khusus yang dipastikan adalah ruangan pemimpin management artis.
"Silahkan duduk," ucap sang pimpinan yang memperkenalkan dirinya dengan panggilan Maya.
"Aku sudah mendengar banyak tentang kamu, ini adalah beberapa berkas yang harus kamu baca sebelum bergabung bekerja bersama kami. Ada beberapa job mulai dari iklan, bintang video klip, model juga artis shipping. Sudah banyak artis dari management kami yang sudah di orbitkan, bahkan namanya kini juga tengah naik daun. Kamu pasti sangat mengenalnya. Maanagemen kami juga menjalani kerjasama dengan stasiun televisi dan rumah produksi ....." ujar Maya menjelaskan.
Soraya mulai membaca tiap derai isi surat kontrak dan perjanjian yang disodorkan kepadanya begitu pulas dengan Jenny yang turut mendampingi Soraya.
"Jadi bagaimana, apa kamu mau bergabung dengan kami?"
Soraya dan Jenny saling berpandangan untuk menyatakan pendapat, "Apa Soraya harus melakukan Chasting dan tess dulu?" Jenny mulai bertanya.
"Oh tidak, sebab untuk artis yang sudah berpengalaman hal itu sudah tidak dibutuhkan lagi," ucap Maya menegaskan.
Soraya mengangguk dan yakin kemudian mengambil pena, tanpa fikir panjang lagi ia menandatangani surat -surat kontrak kerjasama dengan management barunya.
"Selamat bergabung dengan management kami," ucap Maya menjabat tangan Soraya. "Jadwalmu akan segera diatur oleh pihak kami dan kami akan segera menghubungi melalui manajermu yakni Jenny. Sekali lagi aku ucapkan selamat," kata Maya.
__ADS_1
"Kami juga mengucapkan terimakasih, kalau begitu kami pamit undur diri terlebih dahulu." Soraya dan Jenny berpamitan kemudian keluar meninggalkan ruangan.
Senyum serigai tercetak dibibir Maya kala pintu ruangannya tertutup. Ia segera mengambil ponsel kemudian mendial nomor seseorang, saat panggilan tersambung ia berujar, "Berjalan sesuai rencana."
"Baiklah, lakukan tugasmu." Sesaat panggilan berakhir.
***
"Rada aneh ya, kenapa gampang banget masuk ke managemen artis ini. Yang dulu aja buat masuk harus kerja keras ibarat kata sampai-sampai pakai acara balik jungkir?" kata Soraya tercenung, mengingat usahanya yang dulu membandingkan dengan yang sekarang.
"Mudah ngeluh Susah apalagi. Manusia gak ada syukurnya," kata Jenny mengingatkan.
"Dipikir-pikir aneh aja coba."
"Ya udah apa kita harus balik ke dalam, mumpung kita belum jalan," kata Jenny yang hendak membuka pintu mobil.
Soraya menarik lengan Jenny kemudian menggeleng, "Jalan aja gih!"
Jenny berdecak, namun tetap mengikuti perintah Soraya. Ia mulai menyalakan mesin mobil.
"Pasti aku atur jadwalnya, tapi apa serius kamu masuk kantor?" tanya Jenny yang menoleh sejenak kearah Soraya.
"Hmmm," jawab Soraya bergumam.
"Kamu yakin bisa melakukannya?"
"Kamu meragukan kemampuanku?"
"Tentu, akting saja masih pas-pas an. Apalagi kerja kantoran," sindir Jenny.
"Dasar, teman macam apa kamu ini.Bukannya memberi semangat justru membuat moodku makin berantakan."
Jenny terkekeh. "Susah juga jadi orang kaya. Tapi ngomong-ngomong gimana dengan suami kamu, apa tanggapannya dengan masalah keluarga yang tengah kamu hadapi?"
__ADS_1
"Aku rasa di tak tahu apa-apa, karna sejauh ini aku belum cerita," ucap Soraya menanggapi. Dipikir-pikir mungkin Rudi tak peduli, batinnya.
Melihat Soraya yang nampak terdiam, Jenny mulai bersuara lagi. "Tenang, aku akan selalu mendukungmu bahkan sampai kapanpun itu," ucap Jenny memberi semangat.
"Aku gak yakin dengan apa yang kamu bilang," kata Soraya mencibir.
Jenny berdesis. "Haissst, pegang janjiku baik-baik. Jenny Komala Sari tak akan pernah ingkar janji. Ha ha ha." Sejenak mereka terdiam kemudian Jenny kembali berujar, "Habis ini mau kemana?"
"Pulang," jawab Soraya singkat dan diangguki oleh Jenny.
***
Malamnya. Soraya menekuri buku-buku yang ia baca, bisa dikatakan ia sedang melakukan sistem kebut semalam. Besok adalah hari perdananya di kantor, jadi sebisa mungkin ia mempersiapkan diri.
Ia sudah menyelesaikan empat buah buku bacaan bisnis, yang dipegangnya kini adalah buku ke lima. Kepalanya sudah mulai berdenyut, rasanya sudah tak dapat menampung kata-kata lagi, di otaknya terasa penuh.
"Istirahat lah, sudah pukul sepuluh malam," kata Rudi yang mendudukan diri diseberang Soraya, ia juga menyodorkan secangkir teh hangat untuk Soraya. "Minumlah."
Soraya langsung menggeleng, menghela nafas kemudian menurunkan buku yang tengah ia baca menaruhnya diatas pangkuan. Ia memang lelah, tapi melihat buku yang bertumpu dan belum dipegang membuatnya tak ingin menyerah sampai ia menyelesaikan bacaannya. "Aku butuh kopi," gumam Soraya.
"Tidak, bisa-bisa semalaman kamu tak akan bisa tidur," ucap Rudi kemudian menyesap teh miliknya.
"Tapi tidakkah kamu melihat, buku bacaanku masih banyak yang belum tersentuh," kata Soraya dengan mata mengedar menunjuk beberapa buku yang menumpuk diatas meja.
"Lalu malam ini mau lembur, begitu?" tanya Rudi memastikan.
"Udah tahu masih nanya," jawab Soraya menggerutu, ia meraih cangkir teh diatas meja, kemudian meneguknya hingga tandas.
Sepuluh menit berlalu, terlihat Soraya mulai terkantuk-kantuk. Salah satu buku milik Soraya yang tengah Rudi baca, kini diletakkannya di atas meja. Ia pun dengan pelan menarik buku yang tengah Soraya pegang.
Soraya yang sudah nampak kelelahan pun, diangkat tubuhnya oleh Rudi kemudian membawanya masuk ke dalam kamar. Dengan pelan Soraya dibaringkan. Matanya kini terpejam sempurna memperlihatkan bulu mata lentik disana. Namun ada hal aneh yang Rudi temukan, Soraya tertidur dengan kening yang nampak mengernyit.
Tangan Rudipun terulur, telunjuk jarinya mulai meraba dan mengelus kening Soraya. "Seberapa berat beban yang tengah kamu pikirkan?"gumam Rudi pelan.
__ADS_1
To be Continue