
Tangan Rudi mencengkeram pergelangan tangan milik Soraya. Rudi pun tak menyadari kalau hal yang dilakukannya telah menyakiti orang disampingnya. Kini mereka berdua sedang berada di dalam lift untuk naik ke lantai tempat mereka tinggal.
"Rudi lepasin, tanganku sakit," keluh Soraya disertai menarik tangannya mencoba melepaskan cengkeramannya dari Rudi.
Rudi hanya melirik sekilas, tatapannya kembali fokus kedepan, menatap pintu lift yang tak kunjung terbuka.
"Sadar gak sih kamu itu nyakitin aku!" rengek Soraya seraya menyentak tangannya namun tak kunjung terlepas.
Soraya mendongak menolehkan kepalanya menatap wajah Rudi yang terlihat aneh. Tatapan datar lurus kedepan, rahang mengeras dan aura dingin menyelimutinya.
Pintu lift terbuka, tarikan tangan Rudi membuat tubuh Soraya tersentak terseret mengikuti langkah kaki Rudi masuk kedalam ruang apartement.
Sesaat setelah pintu tertutup cengkraman tangannya mulai mengendur. Soraya menarik diri mundur memberi jarak, kini ia mulai mengelusi tangannya yang terasa sakit. "Apa salahku," cicitnya.
"Kamu masih bertanya apa salahmu?" tanya Rudi terdengar dingin.
"Ya aku gak tahu. Aku pulang dan tiba-tiba kamu muncul lalu menyeretku seperti hewan peliharaan," ucap Soraya jengkel akan tindakan yang Rudi lakukan.
__ADS_1
Rudi berdecih, "Sudah sepantasnya kamu diperlakukan seperti itu."
"Apa?" Sejenak Soraya terdiam. "Aku gak salah dengarkan barusan kamu ngomong apa?" kata Soraya yang makin bingung dengan ucapan Rudi. "Salah aku apa jelasin?" tanya Soraya menuntut.
"Kemana saja jam segini baru sampai rumah?" tanya Rudi geram.
"Aku lembur—"
"Alasan," sela Rudi sebelum Soraya menyelesaikan kalimatnya.
Kening Soraya berkerut, "Aku bicara sebenarnya, kenapa kamu masih tidak percaya."
Selingkuh, siapa? batinnya. Tak lama sudut bibir Soraya tertarik. Apa jangan-jangan Rudi kini.... "Kamu cemburu?" tebaknya sambil menahan tersenyum geli.
Berbeda halnya dengan Rudi justru kata-kata itu memancing sisi emosionalnya. Ia membalikkan tubuhnya, kemudian dengan sigap matanya langsung menyergap manik mata Soraya yang tengah menatapnya dengan ekspresi terkejut. Senyum yang tadi tercetak kini sudah lenyap. Bola mata Soraya kini bergerak gelisah bahkan ia merasa tak nyaman berdiri ditempatnya.
Soraya bisa melihat begitu jelas urat dirahang Rudi menegang, matanya terlihat memancarkan emosi.
__ADS_1
"Rudi, jangan menakutiku," kata Soraya yang sudah tak merasa nyaman akan situasi ini.
"Aku tak akan berbuat seperti ini kalau sikapmu diluar seperti itu," desis Rudi.
"Jadi benar kamu cemburu? Kalau begitu apa arti kehadiranku dihidupmu?" tanya Soraya.
Sebuah pertanyaan melesak masuk menguasai emosi jiwanya, wanita dihadapannya masih bertanya kehadirannya karena apa. "Apa aku harus membuktikan kepadamu, apa arti hadirmu?" tanya Rudi mempertegas.
Soraya mengangguk.
"Kamu yang memintanya," kata Rudi dengan gerak spontan ia menarik tengkuk Soraya, membungkam bibir Soraya dengan miliknya, membuat Soraya terkesiap dan mencengkeram kuat kuat dada Rudi.
Perlahan Rudi mulai menggerakkan bibirnya, melumat dan mencecap tak mempedulikan perlawanan Soraya yang berusaha memberontak. Saat Soraya terlihat kehabisan nafas, ia bergerak memundurkan wajahnya.
Soraya mengatur nafas dengan kedua mata terpejam perlahan ia membukanya, terlihat sorot mata Rudi menggelap berkabut gairah. Perasaan dalam diri Soraya mulai cemas, pertanyaannya belum terjawab dan lagi gairah lelaki dihadapannya terlihat jelas membumbung tinggi.
Belum bergeser barang sejenak, pinggang Soraya telah direngkuh lelaki dihadapannya. Tubuh dan jiwanya pun berangsur tenggelam dalam kungkungan sang malam.
__ADS_1
To be Continue