Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 62


__ADS_3

Pagi ini sorot mata Soraya begitu lekat memandangi penampilan Rudi. Mulai dari Rudi keluar kamar mandi, memakai kemeja kerjanya, sampai berakhir dengan kegiatan Rudi menyisir rambut.


Wajah Rudi tampak bersih, tak pernah Soraya melihat bulu rambut yang tumbuh di area rahang begitu juga disekitaran bibir suaminya itu. Ia selalu terlihat bersih dan berpenampilan rapi.


Hari ini Soraya memang sengaja meliburkan diri dari tugas kantor, jadi jam segini ia masih bermalas- malasan di atas kasur dan tentunya dengan kegiatannya saat ini, yakni dibalik selimut yang hanya menampakkan sedikit kepalanya, memandangi dan menilai penampilan Rudi dari atas sampai bawah.


Setelah dirasa cukup akan penampilannya, kini Rudi mengalihkan tatapannya mengarah pada ranjang. Sementara Soraya langsung menutup mata, berpura-pura masih dalam keadaan terlelap.


Langkah Rudi kini bergerak mendekati ranjang, ia mengambil duduk tepat disebelah Soraya. "Sampai kapan kamu tertidur?" ucap Rudi yang sebenarnya tahu bahwa Soraya sudah bangun.


Soraya membuka sedikit matanya, ia sebenarnya masih kesal dengan kejadian kemarin. Jadi ia membiarkan Rudi pagi ini mempersiapkan sendiri kebutuhannya, termasuk sarapan pagi.

__ADS_1


"Kalau kamu tak mau bangun, itu artinya kamu melewatkan sarapan pagi denganku?" tanya Rudi memastikan. Dan dijawab oleh Soraya dengan anggukan kepala.


"Itu berarti kamu juga akan melewatkan kebiasaan pagimu saat aku akan berangkat bekerja?" tanya Rudi lagi mencoba memastikan.


Mata Soraya berkedip beberapa kali, namun setelah itu dengan gerakan cepat ia terduduk dan menggeleng. "Aku belum sikat gigi," cicitnya sambil membungkam bibir.


"Kalau begitu urungkan saja," kata Rudi yang bangkit, berniat beranjak dari tempatnya duduk.


"Tunggu sebentar, aku gak lama," cegah Soraya yang menarik lengan kanan Rudi.


Terdiam ditempat, rasa kecewa lagi-lagi muncul menjalari masuk kedalam benaknya. Soraya harus benar-benar berbesar hati, tinggal bersama saja rasanya tak cukup, jika rasa yang ia miliki terus saja diabaikan padahal kian hari perasaan itu makin tumbuh berkembang. Begitu juga dengan Rudi yang dirasa tak pernah mau tahu perasaan yang tengah Soraya rasakan.

__ADS_1


Pintu dibelakang Soraya kini berderit dan terbuka menampilkan sosok Rudi yang muncul dari sana. Sontak Soraya berbalik badan ke arah Rudi yang memandang sedikit terkejut sebab kini Soraya tengah mengalungkan tangan pada lehernya. Berjinjit agar menyetarakan tingginya dengan Rudi. Dengan spontan bibir Soraya kini mendarat di bibir Rudi, pelan bibir Soraya bergerak namun tak kunjung orang dihadapannya merespon. Ia akui keahliannya tak seberapa hingga tanpa sadar gerakan tubuh Soraya melemah. Disertai air mata yang meluruh membasahi pipi, ia melepas pungutannya.


Soraya menunduk. "Apa aku belum pantas untuk kamu cintai?" ucapnya dengan tangan yang kini digunakan untuk meremas kemeja yang Rudi kenakan.


"Katakan, seperti apa wanita yang pernah mengisi hatimu agar aku bisa menggantikan posisinya didalam hatimu," kata Soraya yang terisak. Kepalanya kini menyandar pada dada bidang di hadapannya.


"Rudi—aku mencintaimu," kata Soraya yang makin mendekap erat kedalam pelukan Rudi, menghirup aroma yang menguar dari tubuh lelaki dihadapannya.


Rudi menarik tubuh Soraya hingga jarak mereka kini tercipta. "Aku tahu," kata Rudi.


"Lalu?" ucap Soraya sedikit mengangkat wajahnya disertai mata berkaca. "Kamu tahu tapi tak membalas cintaku?" kata Soraya kembali terisak.

__ADS_1


Rudi dengan sorot mata yang lekat memandangi Soraya kini ia menangkup wajah Soraya dan mendaratkan ciumannya—dalam, pada sisi pipi kanan Soraya yang basah akan air mata.


To be Continue


__ADS_2