
Beberapa hari memang sudah berlalu, tapi bagi Jenny hari yang berganti seakan tak memberinya kesempatan untuknya bangkit dari keterpurukan. Bukan hanya sebab Soraya yang tak cepat ia tolong, tapi ini juga menyangkut dirinya. Tentang jati dirinya yang beberapa hari lalu muncul secara spontan.
Sorot matanya kini memandang nanar telapak tangannya. Ada kepedihan yang tiba-tiba saja muncul, tak pernah terbayang ia mampu melakukan pukulan-pukulan seperti kemarin. Secara terdesak ia mampu berteriak lantang, suara menekan yang biasa ia ucapkan seakan tertelan.
Jenny tahu mengapa dirinya bisa menjalani hidup yang seperti ini, itu semua berawal ketika dirinya memutuskan pergi meninggalkan rumah. Didikan yang keras dari orangtua membuat dirinya tak kuat menjalani hari-harinya, ia tertekan akan kehendak orangtuanya yang tak sesuai dengan cara berfikirnya.
Dunia militer, Ayahnya adalah bagian dari panglima pertahanan negara, mempunyai pangkat tertinggi yang mengomando tugas para prajuritnya. Hal itu nyatanya juga berlaku dalam keluarga, didikan keras juga disiplin nyatanya membuat diri Jenny tertekan, hingga suatu hari ia mulai berani membangkang. Perbedaan pendapat hingga kekerasan ia dapat, tak segan Ayahnya memukul. Jenny yang tak kuasa mendapati perlakuan itu dari Ayahnya akhirnya memilih kabur dari rumah.
Hidup di luaran rumah tanpa bekal yang memadai juga usia yang masih belia membuatnya hidup seperti gelandangan. Harinya ia habiskan untuk mencari pekerjaan demi mengisi perut juga mendapat tempat tinggal.
Terdesak karena keadaan membuatnya harus ikut berbaur dengan orang banyak, mengenal perbedaan tanpa peduli dengan dampak yang akan ia dapatkan. Hingga suatu ketika saat ia benar-benar butuh dan sudah berada pada titik terbawah dan hampir putus asa, ia bertemu dengan seseorang yang sudi menolongnya, memberinya dukungan hingga ia bangkit dan bisa menjalani hidup.
Apapun pekerjaan ia lakoni, dengan tuntutan pekerjaan ia diharuskan untuk merubah penampilan maupun kepribadian yang berbanding terbalik dengan kodratnya sebagai lelaki. Mulai dari berpakaian, gaya berbicara juga sikapnya, perlahan berjalannya waktu Jenny mulai menikmati perannya hingga terbawa dalam kehidupannya sehari-hari.
Tapi beberapa hari belakangan ini sungguh hatinya berkecamuk, kini ia perlahan bangkit menghadap ke cermin, lekat memandangi pantulan dirinya. Sudut bibirnya tertarik, tercetak senyum miris. Air matanya kini perlahan menetes, dengan cepat ia menggeleng dan menghapus dengan gerakan kasar.
"Tak seharusnya aku begini," gumamnya lirih.
__ADS_1
Sorot matanya beralih menangkap benda yang tergeletak diatas nakas, kemudian berjalan mengambilnya.
Gerakannya kini kembali menghadap ke cermin. Ragu, namun tekad dalam hatinya lebih kuat mengalahkan rasa takutnya. Dengan mengangguk yakin, Jenny mulai menggerakkan gunting di tangan. Kini, helaian rambut yang panjangnya hampir sedada mulai berjatuhan.
Usai melakukannya Jenny tersenyum dan berganti melepas pakaiannya yang tak seharusnya ia kenakan. Dengan menguatkan tekadnya ia kini akan kembali pada kodratnya sebagai lelaki.
"Entah seberapa berat langkah yang akan aku hadapi nanti, jalan Tuhan sudah seharusnya aku lewati," ucapnya yakin.
Tepat satu minggu Soraya berada dirumah sakit, kali ini Jenny datang dengan mempersiapkan dirinya dengan baik. Ia datang membawa lime cake kesukaan Soraya dan juga sebuket bunga.
Dengan penampilannya yang baru, mungkin orang-orang tak akan mengenalinya. Begitupun juga saat ini, kala ia sampai di depan kamar inap yang di tempati oleh Soraya, langkahnya kini terhenti.
Jenny menengok ke arah Angel seraya mengangguk.
"Tunggu, pasti kamu salah kamar!" Cegah Angel lagi, sebab ia memperhatikan lelaki yang ada dihadapannya tengah membawa cake juga sebuket bunga mawar merah.
'Tak mungkin kan lelaki ini mendatangi Soraya dengan membawa sebuket bunga, pasti salah alamat,' batin Angel yang masih mengamati lelaki dihadapannya, tapi ia dalam benaknya terbesit seperti familiar dengan lelaki ini.
__ADS_1
"Aku mau bertemu dengan Soraya," ucap Jenny dengan suara baritonnya.
"Soraya? Soraya Lee maksud kamu? Tapi setahuku Soraya tak memiliki teman lelaki dan apalagi kamu," kata Angel dengan setengah yakin, ia paham dan tahu siapa saja teman-teman Soraya, sebab dulu Mamanya memberinya kepercayaan untuk mengetahui apa saja yang Soraya lakukan juga orang mana saja yang dekat dengan Soraya.
Jenny mengulum senyum, sedikit menahan tawa. Namun hal itu terasa aneh bagi Angel.
"Kamu tidak mengenaliku, Angel?" tanya Jenny dengan senyum geli.
Angel mengernyitkan keningnya, nampak ia mengingat-ingat. Dan ia sedikit heran, mengapa lelaki dihadapnya mengenal dirinya. Belum mendapat jawaban dari ingatannya, kini Jenny berujar, "Aku Jenny asisten Soraya. Tapi mulai sekarang aku minta kamu memanggilku dengan nama asliku, Gerry Permana," ucap Jenny yang telah berganti nama menjadi Gerry.
Ia pun kini mengulurkan tangannya pada Angel, tapi justru respon Angel saat ini terbengong seakan tak percaya dengan lelaki yang menurut penilaiannya masuk dalam kategori tampan yang tengah berdiri dihadapannya.
To be Continue
Ada Bang Gerry......
__ADS_1
Juga Mbak Angel