
"Soraya apa yang kamu lakukan disini?" ucap Cindy yang terkejut melihat Soraya berada dikantor. Menelisik penampilan Soraya dari atas hingga bawah terlihat ia mengenakan pakaian formal. Rahang Cindy spontan mengeras.
"Aku kerja disini Tante," ucap Soraya setelah ia menoleh kearah sumber suara.
"Sejak kapan?" tanya Cindy menyelidik, karena setahunya Soraya telah kembali pada pekerjaannya sebagai artis.
"Berjalan dua minggu," jawab Soraya. "Ya sudah kalau begitu, Soraya kembali ke ruangan mau melanjutkan pekerjaan," sambung Soraya kemudian berlalu pergi meninggalkan Cindy dan Kevin.
Cindy menggertakkan giginya, kesal. Sorot matanya menatap punggung Soraya yang semakin menjauh. Kenapa ia bisa kecolongan, batinnya.
"Ma!" tegur Kevin kala melihat Mamanya yang berdiam diri.
Sontak Cindy tersadar, kemudian ia menghela nafasnya. Iapun menoleh menatap putranya dan tersenyum tipis.
"Kenapa Mama berada disini?"
__ADS_1
"Mama kesini ingin bertemu Papamu. Sekaligus Mama mau antar ini." Cindy mengangkat tangannya yang membawa bekal makan siang untuk suami. "Kamu sekalian ya makan siang bersama kami," ajak Cindy pada Kevin.
Kevin tampak berfikir, namun tak lama ia mengangguk sebab tak enak menolak ajakan Mamanya. Padahal sebenarnya ia ingin mengajak Soraya makan siang bersama. "Tapi ini belum waktunya makan siang Ma, masih ada waktu setengah jam lagi," ucap Kevin menarik sedikit lengan kemejanya untuk melirik jam tangannya.
"Ya sudah, kalau begitu Mama tunggu kamu diruang kerja Papa."
Kevinpun mengangguk dan berpamitan melanjutkan pekerjaannya. Sementara Cindy pergi ke ruangan suaminya.
Cindy meletakkan kotak bekal makanan di meja dengan kasar, hal itu menarik perhatikan Bramantyo yang tengah sibuk mengerjakan berkas laporan kantor. Bramantyo sejenak menghentikan aktifitasnya kemudian bangkit dari kursi kerjanya dan menghampiri Cindy.
"Mama kenapa datang-datang marah?" tanya Bramantyo atas sikap istrinya, juga terlihat raut wajah Cindy yang kini tengah cemberut.
Bramantyo menipiskan bibirnya, "Buat apa Papa cerita, Soraya disini hanya bekerja."
"Bekerja? Anak itu bekerja? Bisa apa dia, yang ada justru—,"
__ADS_1
Bramantyo menyela. "Ma, beri Soraya kesempatan."
"Kesempatan?" ucap Cindy berdecih. "Kesempatan agar dia bisa memiliki perusahaan ini?" ujar Cindy emosi.
"Berapa banyak sebenarnya yang Mama inginkan? Papa sudah beri Mama lebih dari cukup. Bila Mama Khawatir akan masa depan Kevin, pada sudah siapkan yang terbaik untuknya. Pendidikan diluar negri juga jenjang karir yang terbaik, kita bisa beri Kevin jabatan tertinggi diperusahaan ini kalau perlu. Untuk hak milik Papa gak bisa ganggu gugat, semua hak milik Soraya, dan bukankah sampai saat ini kita masih bisa menikmatinya?" ujar Bramantyo dan menanyakan kembali pada istrinya, agar istrinya mau membuka mata, bersyukur dan menerima dengan apa yang sudah ada
Cindy menunduk, matanya mengarah pada kotak bekal makanan. Ucapan suaminya ada benarnya, tapi sudut hatinya merasa sakit bila melihat Soraya atau merasakan rasa bersalah bila memandang anak lelakinya Kevin.
Seumur hidupnya selalu dibayangi masa kelam. Merasakan dirinya hancur akibat ulah Ayah Soraya. Dulunya ia adalah sekertaris pribadi Harry Wijaya, dan pada suatu hari mereka memiliki tugas diluar kota untuk menghadiri tender proyek besar. Malam seusai tender, Harry Wijaya mengajak beberapa rekan bisnis beserta Cindy merayakan proyek yang telah dimenangkan. Akibatnya Cindy yang mengikuti acara tersebut ikut mabuk. Paginya ia ditemukan tak sadarkan diri bersama Harry Wijaya disebuah kamar hotel. Dan tak dinyana sebulan kemudian ia baru mengetahui dirinya hamil, sementara Harry Wijaya baru saja melangsungkan pernikahan dengan wanita lain, yang tak lain adalah Ibunya Soraya.
Disitulah Cindy merasa begitu terpuruk, dirinya sudah hancur ditambah ia mengandung janin tanpa seorang suami. Pikirannya yang kacau mendorongnya untuk melakukan percobaan bunuh diri, namun beruntung Bramantyo yang kala itu melihat Cindy yang ingin terjun dari atap gedung kantor berusaha menolongnya. Juga mendesaknya agar mau menceritakan masalahnya.
Dan singkat cerita Bramantyo menawarinya untuk menjadi ayah dari janin yang ia kandung, tanpa mempedulikan asal usul janin tersebut. Sebab tanpa diketahui oleh Cindy, Bramantyo sejak awal sudah tertarik padanya hingga ia rela menikahi Cindy yang sebenarnya bukan berdasar pada rasa kasihan melainkan cinta.
Namun hingga kini luka itu masih belum sembuh, mungkin kalau saja Soraya merasakan hal yang sama dengannya itu akan setara dengan yang ia rasakan, batin Cindy.
__ADS_1
"Ma," tegur Bramantyo yang tanpa Cindy sadari sudah berdiri disampingnya. Ia menarik dan membawa tubuh Cindy kedalam pelukannya. "Kubur semua masa lalu itu, Papa tahu itu menyakitkan. Tapi lebih menyakitkan lagi bila Mama terus mengungkitnya," bisik Bramantyo disertai mengelus lembut punggung istrinya.
To be Continue