Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 61


__ADS_3

Rudi dan Soraya sudah tiba di area street food kawasan Menteng Jakarta yang tak jauh dari tempat tinggal mereka.


"Kamu yakin makan disini?" tanya Rudi lagi-lagi memastikan pada Soraya, sebab jujur saja Rudi jarang makan ditempat seperti ini.


"Hmm, yakin sekali. Kenapa, apa kamu ragu makanan disini tidak enak?" Soraya balik bertanya dengan mata memincing. "Apa karena kamu takut makanan disini tidak higienis? Aku jamin setelah kita makan kita bakal keyang dan tentunya aku jamin kita pulang masih dalam keadaan sehat!" kata Soraya penuh penekanan. Ia pun kini berlanjut melepas sabuk pengamannya.


Sebenarnya bukan itu yang Rudi maksud, ia hanya awalnya berfikir wanita secantik Soraya, apa tak canggung dengan suasana seperti ini, ramai juga dipenuhi udara polusi. Rudipun mulai keluar dari mobil mengikuti langkah Soraya yang lebih dahulu meninggalkannya.


Terlihat Soraya berjalan sambil kepalanya menoleh ke arah lapak para pedagang. Rudi masih mengekori langkah Soraya, dan kali ini berhenti di kedai penjual mie abang adek. Sontak dengan nama yang familiar itu, Rudi mulai mengamati papan iklan juga papan menu yang terpampang disana. Matanya membulat, segera ia menghampiri Soraya yang telah duduk diatas kursi plastik yang tersedia.


"Kenapa?" tanya Soraya terkejut, sebab Rudi tiba-tiba saja datang mencekal pergelangan tangannya.


"Kita cari makanan lain," ucap Rudi dengan menarik tangan Soraya.


"Tapi aku mau makan ini," ucap Soraya menunjuk menu makanan.


Rudi segera menarik dan meletakkan papan menu menu makanan yang tadinya dipegang oleh Soraya. "Kamu mau pulang berakhir ke kamar mandi?"


Mengingatkan kejadian yang lalu, Soraya terlalu banyak makan makanan pedas membuat Rudi berusaha mewanti-wantinya agar kejadian tak mengenakan itu tak terulang lagi.


"Kita kan bisa pesan level satu," ucap Soraya yang bangkit dari kursi sebab ditarik oleh Rudi.


Rudi menoleh ke arah Soraya, dengan tatapan yang dirasa mengintimidasi kini Soraya mengurungkan diri yang tadinya mau membantah Rudi.


"Mas dan Mbak mau pesan menu apa? Bisa saya bantu?" ucap seorang Abang pelayan yang kini menghampiri mereka berdua.


Sorot mata Soraya kini beralih kepada Abang yang menawarinya menu makanan. Ia pun kini berujar setengah kecewa, "Gak jadi Bang, dia gak ijiin saya makan disini." Kata Soraya yang kini kesal sambil menunjuk ke arah Rudi.

__ADS_1


"Permisi," ucap Rudi yang berlalu meninggalkan kedai mie Abang Adek, tangan kanannya masih ia pergunakan untuk menggandeng pergelangan tangan Soraya.


"Kan tadi udah janji, aku yang pilih tempat dan makanan!" protes Soraya.


Rudi menghentikan langkahnya, membalikan setengah badannya menghadap Soraya. "Tapi bukan berarti bisa makan sembarangan. Kamu tahu itu makanan luar biasa pedas?"


"Aku tahu, tapi aku suka itu" ucap Soraya menanggapi dan membela diri.


"Dan kamu mau sakit lagi!" tegas Rudi.


"Gak," balas Soraya spontan. "Lalu kalau gak boleh makan itu makan apa?" ucap Soraya merajuk sambil menampilkan muka cemberut.


Rudi menipiskan bibirnya, sejenak ia menghela nafas. "Kamu boleh pilih yang lain, tapi ingat jangan yang pedas dan —"


"Aku yang pilih sendiri," ujar Soraya cepat-cepat dan kali ini ia yang bergantian menarik lengan Rudi.


Setelah menikmati menu makanan, kini Soraya menunjukkan ke arah kedai es krim. Es krim dengan tiga rasa kini sudah tersaji pada mangkuk berukuran sedang. Sengaja Rudi hanya memesan satu, sebab dirinya tidak begitu menyukai makanan itu.


"Kamu gak mau mencobanya? ini enak!" kata Soraya sambil menyodorkan sesendok berisi es krim ke arah Rudi.


Rudi menggeleng pelan, berupaya menolak. Namun Soraya tetap memaksakan kehendaknya, ia kini berdiri dengan sedikit membungkuk ke depan dan tangan satunya ia pergunakan untuk membuka paksa mulut Rudi. Rudi yang terkejut karena tindakan Soraya iapun menurut membuka mulutnya yang kemudian menerima satu suap es krim dari Soraya.


"Bandel, ini makanan enak, jangan berani menolak!" ancam Soraya kembali pada tempat duduknya.


Rudi kini menarik beberapa lembar tisu dan mengelap bibirnya yang sedikit terkena es krim. Suasana ditempat ini tak begitu ramai, mungkin karena hari biasa, bukan weekend atau liburan.


Tempat ini berada di area out door, tanpa atap tanpa sekat. Sore yang tadi gerimis nyatanya tak seperti suasana malam hari ini. Cuaca malah hari ini terang dengan langit hitam yang bertabur sedikit bintang. Ditambah dengan musik yang mengalun seakan menambah kesan betah bagi para pengunjung.

__ADS_1


"Apa dulu kamu pernah kencan?" tanya Soraya yang kini mengalihkan tatapan Rudi yang tadinya sedang menikmati suasana.


Rudi menaikkan alisnya, dan membuat Soraya kembali berkata, "Jawab saja pertanyaanku, aku cuma ingin tahu."


"Pernah."


"Apa dengan wanita yang fotonya berada di kamarmu?" tanya Soraya dengan perasaan takut, namun ia juga butuh jawaban dari rasa penasarannya. Tak dikatakan sebentar ia tinggal bersama Rudi, namun bingkai foto itu masih berada dikamar miliknya dan Rudi dan tak berpindah barang seinci pun dari tempatnya. Ada rasa iri, juga bisa dikatakan tak suka. Buat apa foto itu dipajang disana, kalau sekarang sudah ada dirinya yang bahkan suda tinggal bersama.


"Iya."


Jawaban Rudi yang singkat membuat diri Soraya kian kesal. "Apa sampai sekarang kamu masih mencintainya?"


Rudi diam tak memberi jawaban. Apa terlalu lancang Aku bertanya, batin Soraya. Tak bisa ia mengartikan ekspresi Rudi sekarang, lelaki dihadapannya tetap bungkam dengan sorot mata memandang kearahnya.


Tapi disisi lain bukankah itu haknya, namun dengan cepat ia menampik. Hubungannya dengan Rudi saja masih dipertanyakan.


Tak ingin suasana hatinya makin kacau, kini Soraya berujar, "Aku ingin pulang."


To be Continue


Siap-siap, episode kedepan yaaaaaa


Follow juga ya IG author @Xinhua_ARyanna


Maaf yang teman-teman agak slow


Sebab Author sambil Revisi Novel Love not Scenario, minta doanya yaaaa

__ADS_1


semoga novel itu nantinya bisa dipeluk sama teman-teman.... hehehe


__ADS_2