
Soraya menggeliat, matanya perlahan terbuka dan mulai mengerjap. Tersentak, ia tersadar bahwa saat ini tubuhnya berada dalam dekapan seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Rudi. Lelaki itu menopang kepalanya menggunakan lengan kirinya serta lengan kanannya mendekap diantara pinggang Soraya.
'Kenapa bisa begini?' batin Soraya. Yang ia ingat ia tertidur setelah menelan obat, setelah itu ia tak ingat apa yang terjadi.
Soraya bernafas lega setelah melirik pakaian yang ia kenakan masih utuh begitu juga dengan Rudi. Tak ingin membuat masalah di pagi hari, ia pun perlahan mengangkat dan memindahkan tangan Rudi dari pinggangnya. Dengan gerakan pelan sambil meringis, ia bergerak bangun. Namun sebelum menjauh dari tubuh Rudi, Soraya menoleh menatap sekilas wajah damai Rudi yang masih tertidur.
Menggeleng, Soraya kemudian bangkit sebelum orang yang ditatapnya bangun. Dengan jalan berjingkat ia pergi kearah pintu.
Lima belas menit kemudian terdengar pintu berderit. "Gimana keadaan kamu apakah sudah agak lebih baik?" tanya Rudi berjalan ke arah dapur.
"Sudah baikan." Soraya menyahutinya cepat.
Setelah Rudi menegak air dalam gelas, ia kemudian mendekat pada Soraya. Tangannya bergerak mengulur memeriksa suhu tubuh Soraya dengan telapak tangannya diarahkan ke kening.
"Panasnya sudah turun," gumam Rudi.
Namun hal itu membuat Soraya mematung. Saat Rudi beralih kembali ke dapur, Soraya menyentuh jantungnya yang berdebar.
"Aku akan membuatkanmu bubur," kata Rudi dan mulai menyibukkan dirinya membuat sarapan yang diperuntukkan untuk Soraya.
__ADS_1
Saat bubur tersaji, segera Rudi menyuruh Soraya untuk memakannya agar setelahnya ia bisa meminum obatnya. "Makanlah, agar kondisimu segera pulih."
Soraya mulai ragu menyuap makanannya, tapi melihat Rudi yang menatapnya tajam Soraya perlahan memasukkan sesendok bubur kedalam mulutnya. Rasa pahit terasa dilidahnya membuatnya enggan untuk menelan. "Rudi.." ucap Soraya terdengar pelan.
"Kenapa?" sahut Rudi datar.
"Gak enak," rengek Soraya enggan memakan makanannya.
"Itu wajar karena kamu masih sakit, jangan pedulikan rasanya yang penting bagaimana caranya bubur itu bisa masuk kedalam perut kamu," ucap Rudi menimpali.
Soraya melenguh, dan mengerucutkan bibirnya. Tak suka, mengapa masih dipaksa, batinnya.
"Siang ini aku mau pulang, mengambil beberapa barang pribadiku di rumah," ucap Soraya tak begitu jelas.
"Kunyah dan telan makananmu sebelum bicara," tegur Rudi dengan tatapan tak suka.
Soraya menuruti ucapan Rudi dan menelan habis makanan dalam mulutnya, kemudian ia mulai mengeluarkan suara. "Aku mau pulang ambil beberapa barang."
Rudi melirik pada jam di dinding, "Pukul sebelas aku akan mengantarmu."
__ADS_1
"Tak perlu, aku bisa naik taxi atau aku bisa minta tolong asistensiku Jenny," Soraya berseru rendah karena Rudi menyahutinya cepat, "Sekalian aku ke rumah sakit."
"Kerumah sakit bukan alasan lagi kan?" tuding Soraya.
Rudi mengernyit kemudian berujar, "Hari ini aku sudah mulai bekerja."
Soraya mengangguk-anggukan kepalanya, Rudi berfikir, sekali berbohong terbukti orang akan ragu untuk mempercayai, meski yang dilakukan benar adanya.
"Aku sudah kenyang," kata Soraya membuat Rudi mengedipkan matanya tersadar dengan pikirannya.
"Minum obatmu," kata Rudi bangkit hendak mencuci mangkuk kotor ke wastafel. "Apa aku harus membantumu lagi untuk menelan obatmu," tukas Rudi sebab Soraya tak bergerak mengindahkan perintahnya.
"Tapi ini pahit," keluh Soraya.
"Makanya jangan sakit," ucap Rudi menimpali.
To be Continue
pendek lagiiiii
__ADS_1
next bakal muncul kevin yaaaa