
Soraya menyantap makanannya dalam gelisah. Sesekali arah pandangnya menoleh ke arah ruang private Restoran. Tepat dimenit ke duapuluh, wanita yang tadinya pergi bersama Rudi keluar lalu berjalan menuju pintu keluar dengan wajah sendu bercampur masam.
'Kenapa dia pergi sendiri, lalu dimana Rudi?' batin Soraya.
Soraya masih mengamati pintu keluar lalu beralih ke arah ruang private Restoran, tak berapa lama Rudi muncul dan berjalan ke arah meja yang diduduki Soraya. Sebisa mungkin Soraya bersikap biasa saja sampai Rudi berdiri didepannya kemudian berkata, "Apa kamu sudah selesai makan?"
"Sudah," ucap Soraya tak berani menatap Rudi, sebab ia tahu raut wajah orang didepannya terkesan tak bersahabat.
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Tapi kamu belum menyentuh makananmu," ucap Soraya menunjuk makanan yang sebagian masih utuh.
"Aku tak punya waktu. Aku ada urusan," kilahnya.
Kalau saja situasinya tidak begini, mungkin Soraya akan memaksanya untuk menghabiskan makananannya. Diamatinya wajah Rudi, Soraya yakin ia mungkin sedang mengalami putus cinta atau jangan-jangan cintanya ditolak. Hingga menampilkan muka yang tak enak dilihat.
Soraya bangkit mengikuti langkah Rudi menuju kasir untuk membayar tagihan makanan. "Biar aku saja," ucap Soraya mencegah Rudi saat mengulurkan kartu untuk membayar. "Kamu tadi gak makan apa-apa, jadi biar aku yang bayar," sambung Soraya lebih dulu menyodorkan kartu saktinya.
Setelah selesai transaksi Soraya menerima kembali kartu miliknya. Sedang Rudi mengulurkan kembali kartu miliknya pada petugas kasir. Kening Soraya berkerut, namun sebelum Soraya bertanya, Rudi lebih dulu berujar, "Ini untuk pembayaran di ruang private."
Bibir Soraya mencebik. 'Pantas saja, aku tawari makan tidak mau. Sudah makan disana rupanya,' gumamnya dalam hati.
Setelah transaksi selesai mereka berdua keluar dari Restoran lalu menuju perjalanan ke arah rumah Soraya. Di dalam mobil suasana sunyi, raut wajah Rudi masih terlihat masam. Jadi Soraya mengurungkan niatnya untuk berbicara. Namun tidak dengan isi hatinya, ia masih penasaran siapa wanita tadi. Tak mungkin istrinya kan, dulu bukankah Rudi menggeleng saat ditanya sudah menikah atau belum. Atau mungkin pacarnya?
__ADS_1
Seketika Soraya menoleh, menatap wajah Rudi yang fokus menyetir.
"Kenapa?" tanya Rudi yang merasa dirinya diperhatikan.
"Siapa wanita tadi?"
Rudi diam tak menjawab, hanya matanya berkedip dan bergerak tak tentu.
"Apa dia pacarmu?" tebak Soraya sebab tak mendapat jawaban dari orang disebelahnya.
Rudi menoleh sejenak pada Soraya sebelum memandang ke arah jalanan dan berucap, "Iya, dulu."
Dulu?. Dan sekarang?. Rasanya Soraya ingin menanyakan lebih jauh lagi, tapi Rudi kembali berujar sebelum pertanyaannya terucap.
Soraya sampai tak sadar bahwa rumahnya sudah begitu dekat, ia kemudian segera menujukkan arahnya. Begitu tiba didepan rumahnya, ia kemudian keluar dari mobil Rudi. Bahkan ia masih berdiri ditempat, mengamati mobil Rudi sampai menghilangkan dari pandangan matanya.
"Siang Tante, Angel," sapa Soraya yang memasuki ruang makan. Terlihat Tante dan sepupunya sedang menikmati makan siangnya.
Namun berbeda dengan Tante Cindy dan Angel, mereka berdua begitu terkejut akan kedatangan Soraya.
"So—Soraya. Kenapa jam segini baru sampai rumah," ucap Tante Cindy menormalkan suaranya.
"Dari tempat teman, semalam aku nginep disana," kata Soraya beralasan, tak mungkin ia berkata jujur tentang yang terjadi semalam.
__ADS_1
"Bukankah kamu bersama dengan Naomi dan Intan," ucap Angel.
"Iya, semalam aku bersama mereka. Tapi aku bertemu dengan teman lama jadi aku tak pulang bersama mereka," kata Soraya memberi alasan lain.
Angel seakan belum puas akan jawaban dari Soraya, sebelum ia mengeluarkan suara mamanya terlebih dahulu menepuk tangannya pelan agar ia mengurungkan niatnya.
"Ya sudah, kamu belum makan kan. Ayo makan bersama kami," tawar Tante Cindy pada Soraya.
"Soraya sudah kenyang Tante, tadi makan diluar. Kalau gitu Soraya ke kamar," ucap Soraya diangguki oleh Tante Cindy, ia kemudian meneruskan langkahnya menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Angel geram, dan saat terdengar pintu kamar Soraya tertutup ia berujar, "Bagaimana bisa dia keluar dari tempat itu, semalam rencana sudah tersusun rapi Ma. Lalu siapa yang bawa dia pergi."
"Mama juga gak nyangka. Tapi kita gak bisa nunggu terlalu lama. Usia Soraya semakin bertambah kalau dia sampai menikah, hak peralihan semua aset akan jatuh ketangan dia."
"Kenapa Mama gak nyari orang aja biar jadi suaminya Soraya, kita kan bisa tetap ngatur semuanya," ucap Angel.
Tante Cindy menarik sudut bibirnya, "Benar ide kamu. Mama akan bicarakan ini sama Papa kamu. Apalagi Mama punya rencana supaya Kevin nantinya yang akan menggantikan posisi Papa, kamu."
"Kakak akan gantiin posisi Papa?"
"Iya,"
To Be Continue
__ADS_1