Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 20


__ADS_3

Soraya menenteng paper bag berisikan pakaian milik Rudi yang ia kenakan saat kabur dari rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, ia sedikit kebingungan sebab tak tahu arah mana yang akan ia tuju untuk menemui Rudi. Nomor ponselnya saja ia tak punya, karena sudah tiba disini, Soraya memutuskan pergi menuju meja resepsionis.


"Maaf, ada yang bisa dibantu?" tanya petugas resepsionis pada Soraya.


"Saya mencari dokter Rudi, apa dia berada ditempat?"


Petugas wanita itu mengerutkan keningnya sebelum menjawab pertanyaan dari Soraya, "Apa nona sudah membuat janji temu dengan dokter Rudi?"


'Janji lagi, janji lagi. Apa sebegini susahnya bertemu dengan orang penting. Kemarin pengacara sekarang dokter, lalu besok apalagi,' batin Soraya.


Tak kunjung menjawab, petugas resepsionis kemudian berseloroh, "Maaf, bila belum ada janji temu dengan beliau. Lebih baik Nona menuliskan nama anda disini, nanti akan kami hubungi," seraya menyodorkan buku jurnal pada Soraya.


Soraya tersenyum kaku seraya menggeleng, "Aku rasa tidak perlu, terimakasih."


Ia hendak menyerahkan paper bag menitipkan pada petugas di hadapannya namun Soraya mengurungkannya, karena kalau dipikir tidak sopan bila tak langsung menemui pemiliknya walau sekedar hanya berucap terimakasih.


Soraya berbalik hendak meninggalkan tempat itu, tapi kala ia melangkah terdengar dua petugas resepsionis rumah sakit yang berada dibelakangnya berujar dengan nada berbisik tapi masih di dengar oleh Soraya. Ia sengaja memperlambat pergerakannya dan mendengar percakapan mereka.


"Palingan juga modus, pengen dekatin dokter Rudi."


"Feelingku juga gitu, pasti dia salah satu deretan dari pengagum dokter Rudi. Siapa sih yang gak bakalan jadi bucinnya dokter yang tampan juga kaya dan sebentar lagi jadi pemilik rumah sakit ini."


Soraya mencibir dalam hati, kenapa mereka berfikir sebegitunya. Mengingat tujuannya adalah mengembalikan pakaian milik Rudi. Dan apa jadinya kalau-kalau ia jadi menitipkan barang itu, pasti mereka berfikiran yang lebih lagi.


"Eh, tapi beberapa menit lalu kulihat dokter Rudi pergi menuju kantin."


"Ngapain?, kan waktu istirahat sudah habis?"


"Mana ku tahu, ngopi kali."


Soraya yang mendengar percakapan antara dua petugas resepsionis itu tersenyum menyerigai, kemudian ia menormalkan langkahnya menjauhi meja resepsionis menuju eskalator yang menghubung pada lantai basement satu, yakni area kantin.

__ADS_1


Setibanya di kantin, matanya mengedar mencari keberadaan Rudi. Tak sulit rupanya, ia bisa mengenali Rudi dengan mudah sebab area kantin tidak begitu ramai. Dan melihat seseorang berjas putih ala dokter sudah dipastikan ia tak salah orang.


Langkah Soraya terhenti sebab Rudi kini mendudukan diri di meja yang dihadapannya terdapat seorang wanita, dan Soraya pernah melihatnya.


"Bukankah dia?" gumam Soraya. Ia pun segera mengambil tempat duduk tepat dibelakang Rudi. Soraya sedikit bingung karena di mejanya tak ada satu menu makanan, takut ada yang memperhatikannya ia pun memilih sibuk berpura-pura dengan ponselnya dan yang jelas ia menunggu, ingin menemui Rudi untuk mengembalikan pakaiannya.


"Kamu gak perlu gelisah, sebab kedatanganku kemari hanya ingin berbicara sebentar denganmu." Setelah sekian menit berlalu perkataan itu yang terlontar dari Rudi. Soraya yang penasaran pun ,mencoba mendengarkan dengan seksama.


"Lalu kamu kesini mau apa, bukankah kursi yang lain masih kosong," terdengar wanita yang berada dihadapan Rudi bersuara. Rasanya Soraya ingin tertawa, Rudi yang dikatakan banyak pengagumnya sampai diusir secara halus oleh wanita didepannya, sulit dipercaya.


"Inilah yang aku sukai darimu sejak dulu, kamu akan berusaha menjaga jarak ketika hatimu telah termilliki oleh seseorang. Mungkin, kepergianku terlalu lama hingga membuat dirimu menyerah. Sejujurnya aku masih belum rela, tapi setelah melihat kekhawatiran dari matamu, aku jadi semakin yakin, bahwa sudah tiada namaku dihatimu. Berbahagialah, aku akan berusaha ikhlas melepasmu."


Ucapan Rudi berhasil membuat Soraya tersentak, dalam diam ia mendefinisikan bahwa Rudi ditinggal nikah oleh kekasihnya.


Kursi berderit mundur sedikit bertabrakan dengan kursi yang diduduki oleh Soraya. Tanpa berucap lagi Rudi bangkit dari duduknya, berjalan menjauhi area kantin. Soraya tersadar kalau Rudi pergi, ia lalu bergegas mengejar langkah kaki Rudi.


"Tunggu!" teriak Soraya saat Rudi sudah memasuki pintu lift.


Rudi lalu mencegah pintu lift agar tidak tertutup, menunggu wanita yang baru saja berteriak masuk ke dalam lift. Pintu lift tertutup mulai bergerak ke atas. Sedang didalam lift terdapat beberapa orang membuat Soraya tak enak mengeluarkan suara.


Pintu terbuka dilantai sembilan, Rudi terlihat melangkahkan kaki hendak keluar bersamaan dengan Author tadi. Namun dengan gamang Soraya menarik lengan Rudi, membuat Rudi tersentak kaget dan menoleh pada Soraya.


"Ada apa?"


"Aku ada perlu denganmu," ucap Soraya.


Rudi memandangi lengannya yang masih dalam cengkeraman Soraya. "Penting," kata Soraya lagi. Kemudian melepas peganganya pada lengan milik Rudi.


"Ke ruanganku," ucap Rudi.


Soraya menggeleng, ragu ia berucap, "Ini bukan masalah penyakit, ada hal lain yang ingin aku katakan padamu."

__ADS_1


Rudi menghembuskan nafasnya, lalu mundur menutup pintu lift. Jarinya menekan pada nomor 15. Itu artinya tujuannya di atap rumah sakit.


"Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Rudi sesaat setelah sampai di lantai atap rumah sakit.


"Niatku tadi hanya mengembalikan ini," ucap Soraya sambil mengulurkan paper bag pada Rudi.


Kening Rudi mengernyit.


"Ini berisikan pakaianmu, hodie yang dulu aku pinjam saat pergi dari rumah sakit. Kabur maksudku. Terima ini," kata Soraya menyodorkan lalu paper bag kepada Rudi.


Kala menerimanya, Soraya kembali berujar, "Dan ada lagi yang ingin aku katakan padamu. Beberapa hari lalu aku memintamu agar mau menikah denganku. Tapi secara terang-terangan kamu menolaknya dengan alasan kamu hanya akan menikah dengan orang yang kamu cintai. Bagaimana bila sekarang aku memintamu lagi untuk menikah," kata Soraya.


Rudi justru tersenyum meremehkan sebab ucapan Soraya.


"Aku belum selesai bicara, alasan jelas pasti bukan cinta. Tapi bagaimana kalau alasannya aku membantumu untuk melupakan matan pacarmu," ucap Soraya percaya diri.


Rudi mendelik, ekspresinya berubah datar. "Apa maksud kamu?"


"Aku tak bermaksud apa-apa. Bukankah baru saja kamu mengatakan akan berusaha mengiklaskan mantan pacar kamu,"


"Dari mana kamu tahu," sisi emosi Rudi mulai muncul tercetak dari rahangnya yang terlihat mengeras.


Nafas Soraya tercekat,.apa dia salah bicara. Rupanya ucapnya memancing amarah orang didepannya. "Maaf, aku tadi mendengar perbincanganmu ," cicit Soraya.


"Dan apa alasanmu mengajakku menikah?"


"Aku butuh seorang pasangan,"


"Kenapa harus aku, padahal kamu belum mengenalku. Dan sudah berapa banyak lelaki yang kamu mintai dengan hal yang sama,"


"Ini baru pertama kali," Soraya menggigit bibir dalamnya. Ia harus mencari alasan yang lebih meyakinkan, ia tak mungkin mengungkapkan dirinya butuh pasangan untuk mendapat status agar hak miliknya bisa jatuh ketangannya. Dan kini satu alasan terlintas dibenaknya, "Karena aku yakin kamu sekarang lebih membutuhkanku," ucap Soraya penuh keyakinan.

__ADS_1


To be Continue


yang baca novel ini disarankan untuk baca novel judul Love not Scenario,, ini squelnya yaaaa


__ADS_2