
Ponsel milik Rudi berdering, segera ia menoleh pada sumber suara lalu meraihnya.
Nama kakeknya tertera disana, selama percakapan berlangsung Rudi tampak mengangguk dan mengiyakan perintah yang diberikan oleh kakeknya.
Percakapan ditelepon usai, Rudi menghembuskan nafasnya perlahan. Ia melirik arloji di lengan kirinya. Sudah pukul setengah tujuh malam. Iapun segera mematikan komputer lalu beranjak mengambil tas kerja miliknya. Berlanjut keluar dari ruang kerjanya.
Saat keluar dari area rumah sakit hari nampak gelap, tak ada waktu lagi iapun pulang ke apartement miliknya. Membersihkan diri kemudian bersiap menuju ke tempat yang diberitahukan oleh kakeknya.
Soraya semakin gelisah, berkali-kali ia mencoba menarik nafas namun rasanya susah. Pandangan matanya mengedar menatap ruangan yang di penuhi orang-orang.
"Soraya, kenapa berdiri disitu?"
Mendengar teguran itu Soraya tersentak, ia menoleh melihat Omnya yang kini berjalan mendekat padanya. Seluruh tubuhnya tiba-tiba menegang, refleks ia memundurkan langkah. Namun tangannya berhasil dicekal oleh Omnya.
"Kamu mau kemana, acara akan segera dimulai." Kata Om Bramantyo pada Soraya, lalu menggandeng dan mengajak Soraya naik keatas panggung.
Tiba dipanggung, mata Soraya tak berkedip memandang dua wanita yang berjalan kearahnya. Orang yang sangat dikenalnya tapi ia baru mengenali sisi lain dari diri mereka.
Saat Tantenya memandang dirinya, Soraya lebih memilih memalingkan muka untuk melihat para tamu undangan. Rasanya sekarang bila berhadapan dengan Tante dan Angel, ia seolah tersulut rasa geram.
Acara sudah dimulai, kini memasuki inti dari pesta. Soraya hanya terdiam, tubuhnya berdiri diatas panggung tapi tidak dengan pikirannya yang mengembara kemana-mana. Namun tiba-tiba, sorot mata yang tadinya nanar berubah membeliak. Sosok tak asing baru saja ditangkap oleh indra penglihatannya, dari jarak jauh Soraya yakin ia tak salah orang. Kini fokus Soraya kembali teralihkan oleh kata-kata yang membuat dirinya benar-benar meradang.
__ADS_1
"Hari ini kami sekeluarga juga mengumumkan kabar baik pada para hadirin yang telah hadir pada acara malam hari ini, bahwa putri dari pemilik Hotel dan Resort Wijaya group akan melakukan pertunangan, dan untuk itu mohon sambutannya untuk keduanya." Ucapan Tante Cindy terdengar percaya diri, bahkan para tamu undangan menyambut kalimat yang baru saja terlontar dengan tepuk tangan yang meriah seolah baru saja mendengar berita bahagia.
Tapi jelas tidak dengan Soraya, ia sudah tidak syok lagi seperti beberapa jam lalu. Kini ia justru tersenyum miris melihat ulah keluarganya. Dan saat ini ia melihat lelaki berpakaian cukup formal dengan gaya yang terlihat manly berjalan mendekat ke arah panggung, Soraya mengamati penampilannya dua buah kancing kerah atas yang dibiarkan terbuka. Soraya ingat, lelaki itu yang ditemuinya di club beberapa minggu lalu dan ia sekarang sudah tahu lelaki itu adalah pacar dari sepupunya. Gila, pikirnya.
Soraya ingin mengeluarkan suaranya, namun berulang kali Tante Cindy menyela nampak tak memberi kesempatan pada Soraya untuk berbicara.
"Kami sekeluarga melakukan ini karena sayang kepadamu. Dan sudah saatnya tanggung jawab dalam menjaga kamu yang selama ini kami emban beralih pada lelaki yang akan menjadi suami kamu nantinya."
"Dan Tante tak meminta pendapat kepada Soraya," ucap Soraya pelan, sebab mikrofon jauh dari jangkauannya. Suara itu hanya bisa di dengar oleh orang yang berdiri didekatnya.
"Tante dan Om melakukan ini demi kebaikan kamu."
Soraya berdecih, lalu menatap Tantenya lekat. Ia sebenarnya tipe penurut juga sangat menghormati Om dan Tantenya yang sudah dianggapnya sebagai orang terdekat. Mungkin bila ia tak mendengar perbincangan Tante dan sepupunya beberapa jam lalu, bisa saja ia sekarang menyetujui pertunangan konyol ini. Dan mulai detik ini Soraya tak akan mau menyetujui rencana yang dibuat oleh mereka.
Soraya pun mulai bersuara, setengah menahan geram dan juga amarah. Ia berusaha menguasai diri. "Maaf, apalagi ucapan saya mungkin tidak berkenan dihati keluarga saya, terutama Om Bramantyo, Tante Cindy dan sepupu saya Angel," ucapnya terdengar penuh penekanan saat menyebutkan nama mereka.
"Dan lagi untuk para hadirin. Saya hanya memberitahukan ada berita baik dan berita berita buruk. Berita buruknya adalah saya dengan segenap kewarasan saya. Maaf—," ucapnya seolah salah bicara lalu dengan disertai gaya menutup mulut menggunakan tangan kirinya, padahal sebenarnya itu ucapan yang benar-benar ia lontarkan.
"Maaf maksud saya, saya minta maaf dengan segenap hati saya, menolak acara pertunangan ini. Terimakasih atas niat baik Tante sekeluarga yang sudah berusaha mencarikan saya pendamping hidup," kata Soraya memandangi satu per satu keluarganya.
"Dan berita baiknya, Soraya sudah memiliki seseorang yang Soraya yakin dia bisa menjaga dan yang akan mendampingi hidup saya nanti."
__ADS_1
"Apa maksud kamu?" sela Tante Cindy dengan pandangan alis yang bertaut.
"Soraya sudah punya pasangan Tante," ucap Soraya dan melihat ekspresi orang disekitarnya seakan tak percaya, Soraya kembali berucap, "Kebetulan orangnya ada disini."
Melihat raut wajah Tante dan sepupunya yang terlihat tertegun dengan ucapan Soraya, membuat diri Soraya puas. Belum cukup akan ucapannya ia berjalan menyerahkan mikrofon pada Angel dan berbisik lirih, "aku akan mengenalkan orang itu padamu."
Soraya kemudian melangkah menuruni panggung, berjalan membelah kerumunan para hadirin tamu. Langkahnya mengarah pada orang yang ia lihat beberapa waktu lalu, dalam hatinya merapalkan doa. Semoga ia tak salah orang, semoga orang itu masih berdiri diposisinya.
Pandangan mata Soraya mengedar mencari sosok yang barangkali masih berada dalam kerumunan orang-orang yang berdiri disampingnya. Bahkan kali ini sorot mata orang-orang tak luput memandangi dirinya.
Matanya sudah memanas, sisi hatinya berulang kali menolak kemungkinan buruk yang akan terjadi. Ia sudah berdiri ditempat lelaki yang ia lihat tadi, namun dengan sekuat tenaga ia harus menelan kenyataan pahit bahwa orang itu sudah tak berada ditempat.
Sedikit menunduk ia tak berani berkedip, bila saja ia memaksa matanya memejam sedikit saja maka air mata sudah dipastikan akan luruh. Namun sepertinya Tuhan berkehendak lain, kini dirinya menemukan sosok itu setelah Soraya menegakkan kepalanya.
Berjalan pelan tanpa terasa air mata yang tadi dicegahnya luruh seketika. Arah langkahnya semakin cepat menuju pada lelaki yang juga tengah memandangnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
To Be Continue
siapa hayoooo???
Author lagi ngumpulin wangsit buat next chapter....moga hasilnya bisa pethchah
__ADS_1
jangan lupa Jempol Kritik sarannya