
Ketenangan Soraya rasanya mulai terusik. Hatinya mulai dilanda gundah, sebab pagi tadi perbincangannya dengan Rudi masih terbawa pikiran.
Agenda yang Rudi jalani, Soraya mulai sedikit banyak tahu. Tadi saat sarapan bersama, Rudi mengatakan bahwa harinya akan dilalui dengan mengisi seminar di dua kampus ternama di Jakarta.
Belum lagi jadwal lainnya di rumah sakit yang lumayan padat. Rudi masuk sebagai salah satu dokter yang sangat diandalkan dirumah sakit tempatnya bekerja.
Kata yang Soraya gambarkan pada diri Rudi adalah perfeksionis. Sedangkan dirinya tak ada apa-apanya, rasa rendah diri itu kerap saja muncul kala memikirkan Rudi adalah suaminya atau pendamping hidupnya.
Seringkali ada kata-kata berseliweran dalam pikirannya, 'Apa pantas aku bersanding dengannya, begitu pula sebaliknya.'
Sebab menyadari dirinya yang begitu banyak kekurangan, seakan berbanding terbalik dengan Rudi. Tak ada prestasi yang melekat pada dirinya, ia bisa melakukan tugas kantor karena ada dukungan dari orang dalam. Juga di dunia hiburan karirnya kini dirasa mulai meredup, job manggung dan akting sudah lama tak ia dapati. Pemotretan juga jarang sekali, hanya bila ada panggilan itu pun endorser produk yang belum begitu dikenal oleh masyarakat.
"Ibu Soraya," panggilan itu seketika membuyarkan lamunannya. Kini fokusnya teralih pada Rizal yang berdiri di depan meja kerjanya, disodorkankannya berkas agar Soraya menandatanganinya.
"Saya panggil beberapa kali Ibu Soraya tidak menyahut, " ucap Rizal saat Soraya menggoreskan pena di atas nama yang tertera pada berkas map laporan.
"Maaf, aku sedang banyak pikiran," kata Soraya tersenyum tipis seraya menyodorkan map yang sudah ia ditandatangani.
"Mungkin Ibu Soraya butuh piknik," celetuk Rizal.
"Bisa jadi," sahut Soraya disertai menghela nafas. "Rizal, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu."
Ucapan Soraya membuat Rizal mengurungkan niatnya duduk kembali pada kursi kerjanya. Dengan kening yang berkerut dalam, ia sontak menoleh pada Soraya.
"Ambil kursimu dan duduk disitu," perintah Soraya menunjuk ke arah depan meja kerjanya.
Rizal pun melakukan perintah Soraya, dan mendudukkan diri mulai menyimak kata-kata yang atasannya hendak ucapkan. Ada raut tegang diwajah Rizal, takut-takut bila atasannya memberi komplain pada kinerjanya.
__ADS_1
"Ini bukan masalah kantor, lebih tepatnya masalah pribadi."
Ucapan Soraya sedikit membuat hati Rizal lega, namun masih menyisakan tanda tanya. "Memang Ibu Soraya mau menanyakan apa?"
Soraya menarik nafasnya, lalu mulai mengajukan pertanyaan, "Yang lelaki sukai dari wanita itu apa?"
Rizalpun sejenak nampak berfikir dan mulai menjawab dengan yakin, "Cantik, percaya diri, cerdas, memiliki banyak ide kreatif dan lagi menenangkan hati. Memang kenapa Ibu Soraya bertanya demikian?"
Soraya tersenyum simpul, "Karena, aku hanya ingin tahu saja. Ya sudah kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu."
Rizal sebenarnya ingin tahu lebih alasan Soraya, tapi ia urungkan sebab tak sopan bila mencerca atasannya dengan pertanyaan yang sejatinya membuat dirinya penasaran.
Jam kantor kini telah usai, Soraya mulai bersiap untuk pulang. Saat ia merapikan barang pribadinya yang tergeletak diatas meja kerja dan ingin memasukkannya ke dalam tas kerja miliknya, gerakan tangannya terhenti sebab melihat kartu nama yang menyelip diantara buku catatan kecilnya.
Segera Soraya mengambilnya dan membaca sekilas, kartu nama itu didapat beberapa hari yang lalu dari seseorang yang ditemuinya saat kontes audisi yang tak bisa Soraya ikuti.
Hati kecilnya menimang dan mempertimbangkan, bahwa kesempatan tak akan datang dua kali. Apalagi memikirkan ucapan Rizal tadi akan kriteria wanita yang diidamkan pria.
Ia pun dengan hati berdebar mulai mendial nomor yang tertera disana. Sekali dua kali ia mencoba panggilan telfonnya baru bisa terhubung. Senyumnya mulai mengembang sebab orang diseberang sana membuat jadwal temu, hal itupun tanpa pikir panjang disetujui oleh Soraya.
Kini hati Soraya seakan berbunga, harapannya beberapa langkah lagi dirasanya akan segera terwujud. Dikenal orang banyak dan pasti menjadi kebanggaan tersendiri untuknya dan untuk orang-orang disekitarnya termasuk Rudi.
"Masuk!" perintah Rudi yang baru saja menurunkan kaca mobilnya. Dari tadi ia menunggui Soraya tapi tak kunjung Soraya mendekati mobilnya. Dan yang Rudi lihat adalah Soraya senyum-senyum sendiri duduk di halte depan kantor.
Soraya tersentak, orang yang dipikirkannya kini sudah muncul didepan mata. Matanya mengerjap-ngerjap kali saja ia salah lihat.
Rudi berdecak. "Sampai kapan kamu duduk disitu?" tanyanya menaikkan intonasi suaranya.
__ADS_1
Reflek Soraya berdiri dari duduknya dan dengan tanpa sadar mulutnya terbuka akan menjawab ucapan Rudi, tapi ia urungkan. Ia pun bergegas berlari kecil menerobos gerimis dan masuk ke dalam mobil.
"Kenapa duduk lama disitu?" tanya Rudi seraya tangannya mengusap air yang membasahi rambut hitam milik Soraya.
"Tadinya aku menunggu taksi," ucap Soraya, namun ia tersadar, 'Dari tadikan aku gak pesan taksi,' batinnya.
Iapun sontak meringis dan ekspresi itu disadari oleh Rudi. "Kenapa?" ucapnya menghentikan usapan pada puncak kepala Soraya yang tak lagi basah.
Soraya menggeleng sambil tersenyum simpul. "Kenapa kamu menjemputku?" ucap Soraya saat Rudi kembali membenarkan posisi duduknya dan mulai memasang sabuk pengamannya miliknya.
"Hanya kebetulan saja. Seminar baru saja usai dan juga searah dari kampus."
Soraya mengangguk-anggukan kepalanya. Memang ia jarang sekali pulang dijemput oleh Rudi, karena kantor dan rumah sakit berlawanan arah ditambah lagi jam pulang kerja yang berbeda. Rudi sering pulang malam karena ada pasien yang butuh penanganan maupun operasi darurat. Namun kadang Rudi meluangkan waktunya untuk menyempatkan diri mengantar Soraya ketempat kerja, seperti halnya tadi pagi.
"Mau makan dimana?" tanya Rudi saat mobil sudah mulai berjalan.
Soraya menolehkan wajahnya. "Kamu mengajakku makan diluar?" tanyanya memastikan.
"Hmm," Rudi bergumam masih fokus memandang ke arah jalanan.
Sudut bibir Soraya tertarik, karena hal yang langka Rudi mengajaknya makan diluar. Dan hal ini pun Soraya akan memanfaatkannya dengan baik. "Bolehkah aku memilih tempatnya?" ucapnya penuh harap.
Rudi menoleh dan mendapati wajah Soraya yang begitu lucu, terlihat jari-jarinya saling bertaut dan meremas ditambah sorot mata yang penuh harap. Layaknya anak kecil yang ingin agar harapannya segera terpenuhi. Tanpa sadar sudut bibir Rudi tertarik, tangan kirinya bergerak mengelus dan mengacak gemas puncak kepala Soraya.
"Aku yang pilih?" ucap Soraya lagi dan mendapati anggukan dari Rudi.
Senyum Soraya pun mulai mengembang, binar bahagia tercetak jelas disana. Hal itupun membuat sudut di hati Rudi berdenyut dan seakan ribuan kupu-kupu bertebangan menggelitiki perutnya.
__ADS_1
Rudi pun mulai fokus menatap arah jalanan yang lenggang. Ia menyetir dengan hati yang dirasa mulai menghangat akan suasana, bahkan kini senyumnya juga mulai mengembang di tiap-tiap sudut bibirnya.
To be Continue