
Jepret! Jepret! Jepret!
Beberapa kali seorang fotografer membidik objek di depannya. Namun tak satupun ia mendapatkan hasil yang diinginkan.
Kain putih menjuntai menambah kesan visual. Ditengah terdapat satu buah kursi tinggi tempat model berpose disana. Soraya, ia kini berusaha fokus mengikuti intruksi sang fotografer yang dari tadi tak puas akan pergerakannya.
Dari senyum kurang maksimal, gaya kaku sampai sang fotografer bilang ia tak becus bekerja.
"Break dulu, Jenny urus dia. Poles lagi wajahnya!." Seru sang fotografer bernama Fendi, memberi perintah pada Jenny asisten pribadi dan spesialis make up Soraya.
Soraya pun tetap duduk ditempat, sedang Jenny menghampirinya. Memberinya sentuhan make up agar terlihat lebih fress.
"Kenapa sih, dari tadi aku perhatikan kamu itu gak fokus."
Soraya melirik sejenak kearah Jenny, kemudian mendengus lelah.
"Lagi ada masalah?," kata Jenny, karena tak kunjung mendapat jawaban ia seolah membenarkan pertanyaannya. "Usahakan fokus untuk hari ini, biar cepat selesai. Setelah itu kamu bebas bercerita ke aku. Ya, kalau kamu ngasih kepercayaan padaku. Dan harus kamu tahu, pundakku terbuka lebar siap untuk jadi tempat sandaran."
Soraya berdecak, "Sok tahu."
"Dari pada bahuku nganggur, aku kan cuma menawarkan?"
Intruksi Fendi sang fotografer menyudahi Soraya dan Jenny berbincang. Ia menyambar kamera dan mulai membidik, sementara Soraya berusaha semaksimal mungkin agar tak mengulang-ulang pekerjaannya. Tujuannya sudah pasti agar cepat selesai. Fendi mulai memotret sesekali mulutnya bersuara memberikan arahan.
Satu jam lebih akhirnya pekerjaannya selesai. Lima kali berganti kostum dan jelas pasti dengan ratusan gaya.
Selesai dengan pekerjaannya Soraya memutuskan untuk mampir sebentar ke sebuah Cafe ditemani oleh Jenny. Dua cangkir moccacino sudah tersaji diatas meja.
__ADS_1
"Apa sikapmu berhubungan dengan acara pesta kemarin?" tanya Jenny memulai perbincangan.
Tidak mengangguk maupun menggeleng, Soraya memandangi Jenny. "Kepercayaan terletak ditanganmu, terserah. Yang penting aku sudah menawarkan itu padamu," ucap Jenny santai sambil menyesapi minumannya.
"Apa tanggapanmu jika ada seseorang yang mengendalikan hidupmu?" tanya Soraya.
Jenny mengangkat alisnya sebelah, bibirnya mengerucut ke samping. Ia sedang mencoba mencerna pertanyaan yang Soraya ajukan.
"Tiap orang perlu kebebasan dan yang jelas mengendalikan hidup orang lain adalah merampas kebebasan dan hak asasi manusia. Kenapa bertanya begitu?"
"Beberapa hari yg lalu sebelum pesta dimulai, aku mendengar percakapan Tante dan Angel, mereka berencana agar aku bertunangan dengan orang pilihan mereka. Dan kamu tahu orangnya siapa?. Dia pacarnya Angel," ucap Soraya membuat Jenny sedikit terkejut, ia pun mencondongkan tubuhnya hingga jaraknya dekat berhadapan dengan Soraya.
"Lalu gimana?" tanya Jenny lebih penasaran, ia pun dengan seksama menyimak ucapan Soraya.
"Untung aku bisa menggagalkan rencana konyol mereka. Lalu yang membuat aku penasaran, apa tujuan mereka ingin mengendalikan hidupku. Dipikir-pikir aku ini masih waras dan sehat wal'afiat," kata Soraya menahan kesal.
"Harta?. Bagaimana bisa, kita sama-sama menikmatinya dan aku juga tak pernah berkeberatan mereka memakai uang yang selama ini aku tahu itu hasil dari usaha almarhum orangtuaku. Karena aku menyadari merekalah yang selama ini ada setelah kedua orangtuaku meninggal."
"Jauh dalam hati seseorang siapa yang tahu?. Tapi patut dicurigai alasan lainnya, kenapa mereka sampai berencana mencarikan kamu seorang tunangan dan yang tak lain orangnya adalah pacar dari sepupumu," ucap Jenny kembali menyesap minumannya.
Jenny meletakkan cangkirnya, "Sebelumnya aku sudah mulai curiga dengan kontroversi yang melekat pada namamu, apa itu berkaitan dengan campur tangan mereka?"
Soraya menggeleng, tak bisa menjawab ucapan Jenny. Mengingat-ingat perjalanan hidupnya bahkan sampai sekarang satu hal yang ia tak paham adalah seluk beluk usaha yang dimiliki oleh almarhum orangtuanya. Apakah ini ada kaitannya, pikirnya.
"Kenapa?" tanya Jenny menyadari perubahan ekspresi wajah Soraya.
"Memang, sepertinya ada yang janggal."
__ADS_1
"Apa?" ucap Jenny antusias.
"Selama ini aku tak tahu seluk beluk perusahaan yang ditinggalkan oleh mendiang orangtuaku."
Jenny membeliak, "What the Hell. Wijaya group termasuk jajaran perusahaan dibidang real estate yang masuk dalam 20besar se asia. Dan kamu gak paham itu?" kata Jenny terheran, apa orang didepannya ini sedang mengajaknya bercanda, batinnya.
"Jangan bilang kamu gak tahu apa-apa, Soraya?" tanyanya penuh penekanan.
"Aku beneran gak tahu."
"Gak tahu?. Sebodoh itukah kamu sampai diusiamu yang menginjak duapuluh tujuh tahun tak tahu berapa aset yang keluarga kamu miliki?"
Soraya menggeleng membuat Jenny seakan tercengang, syok bahkan frustasi. Orang didepannya ini sampai tak tahu karena sudah bodoh atau dibodohi sampai-sampai tak tahu apa-apa. Dan melihat ekspresi Soraya, Jenny paham orang didepannya ini terlampau polos dan perlu untuk diluruskan.
"Sepertinya kita butuh penjelasan dari orang kepercayaan Papamu. Dan jangan bilang gak ada orang yang kamu kenal." Ancam Jenny gemas pada Soraya, meski penampilan dan ucapan Jenny yang terkesan tak lazim tapi pemikirannya sungguh jauh dari kata waras dan beruntung Soraya punya teman sepertinya.
"Ada, dia pengacaranya Papaku. Namanya Om Adjie Wibowo," jawab Soraya.
"Oke, ada harapan. Sekarang kita kesana," ucap Jenny berdiri dari duduknya.
"Kemana?" tanya Soraya bingung.
Jenny memutar bola matanya, "Cari penjelasan lah," ucapnya sambil menarik tangan Soraya.
To be Continue
Gerak cepattttttttttt
__ADS_1
yang kangen mbak ira dan mas Rey, next chapter bakal muncul yaaaaa