Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 38


__ADS_3

Lift membawa Rudi sampai pada lantai apartement yang ia tinggali. Selama turun dari mobil sampai saat ini tangannya tak henti memegangi ponsel, berusaha menghubungi Soraya namun tak ada jawaban.


Harapannya adalah Soraya sudah sampai rumah. Dan begitu pintu apartement terbuka, suara isakan yang pertama kali menyapa di indra pendengarannya. Langkahnya perlahan mendekat, pada tubuh yang sedang berjongkok menyembunyikan kepalanya.


Berulang kali Rudi menghela nafas sebelum akhirnya ia ikut berjongkok menyetarakan tinggi tubuh mereka, tangannya ia gunakan untuk memegang puncak kepala Soraya. "Kamu kenapa?" tanya Rudi penasaran dengan apa yang tengah dialami oleh Soraya.


Bukannya menjawab Soraya mendongakan wajahnya, memperlihatkan wajah sembab yang diakibatkan oleh tangisannya. Tak lama ia justru menubrukan tubuhnya pada Rudi.


Rudi bingung harus berbuat apa, pasalnya tangisan Soraya makin menjadi. Ia pun mencoba menenangkan Soraya dengan jalan menepuk-nepuk punggungnya dengan gerakan perlahan, namun sepertinya Soraya makin memeluknya erat.


Cukup lama Rudi mencoba tetap tenang menghadapi Soraya, hingga pelukan itu mulai mengendur. Soraya mundur menjauhkan tubuhnya dengan air mata yang masih tersisa, dengan gerakan cepat ia mengusapnya.


"Kamu belum makan kan?" tanya Rudi beralih pada topik lain.


Soraya menggeleng sambil masih menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Aku akan menyiapkan makan malam," ucap Rudi kemudian beranjak berdiri hendak menuju dapur.


"Maafkan aku tadi, aku tak bermaksud—aku hanya butuh pelampiasan untuk menumpahkan tangisku," kata Soraya yang juga beranjak berdiri. Sementara Rudi menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Soraya.


"Aku harap ini adalah yang terakhir, aku janji tak akan menangis lagi dihadapanmu." Soraya berkata demikian sebab Rudi tengah menatapnya dalam.


Di tengah tatapannya Rudi tengah berfikir. Kapan terakhir kali hatinya tergerak peduli pada wanita, apalagi orang dihadapannya? Rasanya hanya satu orang yakni ibunya. Karena sepanjang hidupnya rasa kepeduliannya tercurah pada ibunya, hingga ia kehilangan wanita yang selama ini ia idamkan.


Ada yang tak bisa ia sembunyikan, yakni kesal. Sebab hidupnya yang selama ini berjalan begitu tenang terusik sejak hadirnya wanita yang bernama Soraya. Namun kesal itu nyatanya kini berubah menjadi bumerang baginya.


Soraya mengerutkan kening, bingung akan pertanyaan yang baru saja dilontarkan Rudi padanya. Mulutnya bahkan kini setengah terbuka, bingung dengan jawabannya. Sebab sedari dulu ia hanya menyimpan sendiri kesedihannya, bahkan seringnya ia memendam sendirian masalahnya sebab tak mau orang lain mengetahuinya. Tapi kali ini berbeda, ia menjadi lebih emosional setelah tahu tak ada yang tulus dengannya.


Rudi menghembuskan nafas kesal sebab tak kunjung mendapatkan jawaban, "Jangan bilang kamu bingung karena tak bisa menjawab dengan lelaki mana?"


"Kenapa kamu bilang begitu?" ucap Soraya tak terima. "Aku tak biasa menangis, hanya hari ini aku merasa sedih dan lepas kendali," jelasnya.

__ADS_1


Rudi masih menyoroti Soraya kemudian perlahan ia mendekat, membuat Soraya kebingungan.


Soraya mematung sebab Rudi kini tengah mengecup keningnya. kecupan yang kedua setelah akad nikah beberapa hari yang lalu. "Menangislah hanya dihadapanku," kata Rudi saat Soraya mendongak menatapnya.


Masih terdiam, Rudi mundur meninggalkan Soraya yang nampak kebingungan. Itu tadi apa, batinnya. Rasanya hatinya berdesir.


Tapi tunggu, ia butuh penjelasan. Dengan gerak cepat ia menghadang jalannya Rudi yang hendak menuju ke dapur.


Rudi yang paham akan pergerakan Soraya pun kemudian mulai berujar, "Aku tak bisa berjanji untuk saat ini, tapi aku akan berusaha menerimamu untuk menjadi teman yang akan menua bersamaku."


"Apakah itu artinya aku tidak sendiri dan kamu menerimaku sebagai istrimu?" tanya Soraya ragu-ragu.


Rudi mengangguk. "Aku akan mencoba."


Soraya pun ikut mengangguk, wajahnya menghangat sebab ia tengah tersipu dan haru. Nyatanya kebahagiaan itu menjalar disudut hatinya. Rudi menerimanya itu sudah lebih dari cukup apalagi ia kini senang luar biasa sebab Tuhan mengirimkan seseorang yang akan menemani sepanjang hidupnya.

__ADS_1


To be Continue


__ADS_2