Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 46


__ADS_3

Soraya melenggang masuk menuju gedung kantor Wijaya. Tujuannya adalah ruangan pengacara pribadi perusahaan yakni Adjie Wibowo.


Sorot mata karyawan di kantor yang berpapasan tak luput memperhatikan penampilan Soraya. "Harusnya aku tadi pakai pakaian kantor saja, seperti yang mereka kenakan," gumamnya.


Menelisik penampilannya yang sekarang ini, ia justru terlihat seperti anak kuliahan, jeans kaos dan gardigan. Benar-benar salah kostum batinnya.


Kalau saja petugas resepsionis bukan yang kemarin atau tak hapal wajahnya dan bahkan lupa kalau ia adalah anak dari pemilik perusahaan, bisa saja ia diusir begitu saja seperti pertama kali bertandang kemari.


Kini ia sudah tiba di depan pintu ruangan sang pengacara, setelah menutup pintu ia mendapatkan sahutan dari dalam untuk segera masuk, dan ternyata Bramantyo juga turut hadir disitu.


"Soraya, silahkan duduk." Adjie Wibowo mempersilahkan Soraya untuk mengambil tempat duduk.


"Om, disini?" tanyanya menoleh pada Bramantyo.

__ADS_1


"Iya, Om kesini untuk mendampingi kamu."


Soraya menipiskan bibirnya, raut wajahnya terlihat masam. Kenapa Omnya harus berada disini, batinnya bertanya-tanya. Bibirnya kini terasa kelu, dan saat sang pengacara memulai pembicaraan ia hanya merespon dengan anggukan.


"Sesuai isi dari wasiat yang di tinggalkan oleh almarhum, hak alih aset bergerak maupun tak bergerak akan jatuh pada putri almarhum yakni Elvina Felicia Soraya dan ada beberapa aset lain juga ditinggalkan untuk Bapak Bramantyo," kata sang pengacara menjelaskan isi wasiat. "Karena persyaratan sudah terpenuhi, maka kamu tinggal menandatangani surat kuasa ini," sambungnya sambil menyodorkan beberapa dokumen penting, kemudian menyerah sebuah pena kepada Soraya. "Tapi sebelum menandatanganinya, kamu baca dan periksa kembali. Kalau ada hal yang tidak kamu ketahui, bisa tanyakan kepadaku," sambung sang pengacara.


Soraya menerima dan mulai membaca dokumen tersebut, membolak-balikan beberapa halaman. Lalu mulai menandatanganinya satu persatu.


"Tunggu," sergah Bramantyo. "Soraya, untuk yang lainnya Om menyetujui tapi untuk dokumen perusahaan ini, Om melarang kamu menandatangani surat kuasa."


"Perusahaan termasuk aset yang bergerak, untuk menjalankan perusahaan butuh pengawasan secara detail, butuh ilmu juga harus paham dengan strategi untuk menjalankannya," kata Bramantyo.


"Jadi maksud Om, Soraya gak bisa menjalankannya?" Soraya mencoba menebak penilaian Omnya, tapi rasa ketidakpercayaannya sudah menguasai pikirannya.

__ADS_1


"Iya. Om yakin kamu tak akan paham dengan jalannya perusahaan," ucap Bramantyo tegas.


Soraya menipiskan bibirnya. 'Sudah diduga,' batinnya. "Lalu, haruskah aku mempercayai Om?"


"Soraya, apa maksud kamu?" tanya Bramantyo dengan alis yang bertaut. "Kamu tahu, keputusan pemimpin adalah penting, kamu gak bisa—," ucapan Bramantyo terhenti, matanya membeliak sebab Soraya tak mendengar penjelasannya. Kini Soraya telah membubuhkan tandatangan di atas dokumen penting perusahaan.


"Soraya!" pekiknya. Ia meraup wajahnya kasar.


"Ini adalah langkah Soraya untuk menyelamatkan aset peninggalan Papa," ucap Soraya meletakkan pena di atas dokumen.


"Kamu tahu, setelah kamu menandatangani itu kamu punya kewajiban untuk masuk ke perusahaan. Dan Om gak yakin kamu bisa mengerjakan tugasmu, Soraya," ujar Bramantyo geram tak habis pikir akan tindakan Soraya.


"Tapi itu akan lebih baik, dari pada perusahaan ini jatuh pada orang yang gak punya hak sama sekali, tapi memaksakan kehendaknya."

__ADS_1


"Setidaknya kamu bicarakan pada Om terlebih dahulu, kalau sudah begini kamu sendiri yang akan menanggung akibatnya," kata Bramantyo kemudian beranjak keluar dari ruangan.


To be Continue


__ADS_2