
Soraya menarik dirinya dari pelukan Rudi. Matanya mengerjap beberapa kali. Ia mengamati lekat wajah lelaki di hadapannya, suaminya. Ia berusaha keras mengenyahkan pikiran-pikiran buruk itu, tak ada lelaki itu di hadapannya, tak ada.
Mendapati Soraya yang terus-terusan menggeleng dan tak kunjung mengeluarkan suara, Rudi kini menangkup wajah Soraya. Tatapan kosong dan ketakutan ia temukan disana.
"Apa yang kamu takutkan, aku disini," kata Rudi menyakinkan.
"Apa kamu—apa kamu tidak merasa jijik padaku," ucap Soraya dengan nada bergetar, rasa kepercayaan lenyap saat sentuhan yang dirasanya asing tadi kembali lagi terjadi.
Rudi mengamati wajah Soraya dengan seksama. "Apa yang sebenarnya kamu pikirkan?"
"Aku hanya ingin kamu mencintaiku dan menerimaku. Melihatku sebagaimana aku yang telah jadi istrimu dan lagi wanita satu-satunya yang mengisi hatimu. Tapi— tapi itu dulu, hingga aku berusaha ingin kamu benar-benar melihatku dan menghargaiku sebagai wanita yang patut mendampingimu, tapi justru —." suara Soraya tercekat, terisak dengan air mata yang mengucur deras. Sejenak ia menarik nafas kuat hingga memenuhi rongga paru-parunya dan kembali berujar, "Justru jalan yang aku tempuh salah, hingga sekarang aku sudah tak punya keberanian lagi untuk bermimpi — apalagi untuk bersanding, berdiri disampingmu," ucap Soraya sendu.
Rudi mengulurkan tangannya berpindah menggenggam dan meremas jemari Soraya, mengisi ruang hampa disana. Pun Soraya menyambutnya, mereka berdua saling mengeratkan. Membuat hati Soraya kini lebih menghangat.
"Aku punya mimpi, menggambar sebuah masa depan namun hanya dapat terlukis dalam benakku. Aku akan menggantungkan harapanku dan juga menyerahkan semua kehidupanku untuk orang yang aku cintai, hidup bersama dalam sebuah ikatan keluarga. Aku juga mendambakan ingin menjadi wanita yang bahagia, tapi itu semua —," ucapan Soraya terhenti.
__ADS_1
Rudi kembali mengetatkan remasan tangannya.
Soraya menggeleng, air mata mengaburkan pandangannya. "Aku terlalu berharap, iya kan?"
Rudi mengangguk, justru membuat Soraya menarik jemarinya kemudian menghapus air matanya. "Apalagi tak sepantasnya aku punya harapan lebih padamu," ucapnya berpaling tak mau menatap Rudi.
"Mengapa?" tanya Rudi yang matanya tak lepas memandangi wajah Soraya yang kini hanya diam sesekali terdengar isakan kecil yang masih tersisa.
Soraya tersenyum masam, sepertinya Rudi tak hentinya memainkan perasaannya. Ia sudah begitu terang-terangan mengungkapkan isi dihatinya, namun lelaki yang duduk disampingnya kini justru tak hentinya mengacaukan isi hati, pikiran juga semua dalam diri Soraya.
Berulang kali ia bertanya, dan juga menampik tak mungkin ia salah dengarkan?
"Lalu bagaimana dengan perasaanmu, padaku?" tanya Soraya yang sedikit ragu, menoleh dan menatap wajah Rudi masih dengan tatapan sendu.
Rudi menarik panjang nafasnya, tangannya beralih lagi mengambil kedua tangan Soraya. Kali ini ia mengarahkan kedua telapak tangan Soraya tepat menyentuh dadanya.
__ADS_1
Dengan nafas yang serasa mencekat, Rudi bertanya, "Apa yang kini tengah kamu rasakan?"
Soraya terdiam, mereka berdua kini bahkan saling diam. Bahkan hingga bunyi detik jarum jam di dinding mulai terdengar. Mulut Soraya setengah terbuka, dengan telapak tangan yang masih menapak disana, merasakan detak jantung yang berdebar, bahkan sama seperti yang tengah ia rasakan.
"Apa kamu men—cin—tai—ku?" ucap Soraya terbata.
"Menurutmu?" kata Rudi seolah memberi Soraya pertanyaan, hal itu benar-benar membuat Soraya jengkel hingga ia kembali mencebik-cebikan bibirnya hendak menangis lagi.
"Temani aku untuk menghabiskan sisa umurku," kata Rudi seraya merentangkan kedua tangannya.
Sedikit terkejut, Soraya pun kini menghambur kepelukan suaminya.
To be Continue
**Kurang beberapa episode yaa teman-teman
__ADS_1
Vote, komentar juga jempolnya**