
Tiba di depan gedung perusahaan, sejenak Soraya mendongakkan wajahnya menatap bangunan tinggi berlambang di ujung bangunan. Insial huruf W tercetak besar disana, yang tak lain diambil dari nama belakang almarhum Papanya.
Perhatiannya kini teralihkan oleh Jenny yang menarik lengannya lalu mengikuti langkah masuki gedung perusahaan. Disapa oleh satpam yang berjaga di lobby, mereka kemudian langsung menuju pada petugas resepsionis.
"Selamat siang ada yang bisa dibantu?" sapa seorang petugas bername tag Nagita.
"Saya mau bertemu dengan Bapak Adjie Wibowo, apa beliau berada ditempat?" tanya Soraya.
"Apa anda sudah membuat janji?" tanya petugas resepsionis lagi dengan penyampaian yang lembut.
Mendengar pertanyaan itu Jenny justru dibuat naik pitam, tanpa aba-aba ia langsung menyemburkan ucapannya, "Aduh ampun deh, mbak gak tahu ya sekarang sedang berhadapan dengan siapa?. Dan aku rasa gak perlu pake janji-janji segala. Karena orang dihadapan mbak ini adalah pem—" ucapan Jenny terputus akibat Soraya dengan paksa menutup mulut Jenny dengan telapak tangannya.
"Berisik," desis Soraya lalu melepas bekapan tangannya pada mulut Jenny. Jenny yang mendapat perlakuan seperti itu terlihat kesal sampai menghentak-hentakkan kakinya.
"Baiklah kalau begitu saya ingin membuat janji temu dengan beliau, ini kartu nama saya." Soraya menyodorkan kartu namanya, sebelum petugas resepsionis itu menerimanya, kini dari arah belakang terdengar suara sapaan, "Soraya?"
Soraya pun menoleh kebelakang, "Om Adjie."
"Lama tidak bertemu, ayo ikut ke ruangan Om," kata seorang pengacara berusia paruh baya tersebut, kemudian langkahnya diikuti oleh Soraya dan Jenny.
Tiba diruang kerja sang pengacara, mereka berdua disuguhi dengan minuman ringan yang diambil dari kulkas berukuran mini.
"Ada angin apa membawa kamu sampai kesini?" tanya Om Adjie setelah mereka berbasa-basi.
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut Soraya menarik nafas kemudian menengok ke arah Jenny yang duduk di sampingnya, Jenny pun mengangguk seolah menyalurkan dorongan kepada Soraya.
"Om, apa sekarang hak alih aset yang dimiliki oleh almarhum papa sudah bisa berpindah alih atas nama Soraya," tanyanya ragu.
Om Adjie mengernyit, berfikir sejenak. Untuk apa Soraya sampai menanyakan hal itu, pikirnya.
"Sesuai dengan isi surat warisan yang ditulis oleh Papamu, hak dapat di alihkan setelah kamu menikah," jelas Om Adjie.
__ADS_1
Soraya terdiam, Jenny yang mendengar ucapan pengacara itu pun seketika memandang ke arah Soraya.
"Memang kenapa?. Apa ada suatu hal sampai kamu bertanya demikian?" tanya Om Adjie penasaran.
Tubuh Soraya sekarang melemas, terbukti bahunya merosot. Ia menyimpulkan ucapan pengacara dengan ucapan Tante dan sepupunya tempo hari. "Om—," Soraya berucap ragu, lalu menatap sang pengacara yang dari tadi memperhatikan sikap dan ucapannya secara seksama.
"Om masih ingatkan, kejadian beberapa hari lalu di Hotel." Perkataan Soraya diangguki oleh pengacara tersebut. "Mereka merencanakan pertunangan dengan orang pilihan mereka. Dan untung saja Soraya bisa menggagalkannya. Dan penyebab mereka melakukannya adalah untuk mengendalikan hidup Soraya. Apa itu artinya mereka mau mengambil alih apa yang menjadi hak Soraya dengan rencana yang mereka buat?"
Sang pengacara mulai memahami arah ucapan yang Soraya lontarkan, ia menarik nafas dan membetulkan letak kacamatanya. "Mungkin itu benar adalah cara halus mereka mengambil hak milikmu," ucap Om Adjie.
Soraya syok, hanya karena harta keluarganya sampai melakukan itu. Padahal dirinya tak pernah sekalipun berfikiran buruk pada mereka. Soraya bahkan sudah memberikan segenap kepercayaan, apa semua itu masih kurang.
"Apa ada cara, Soraya bisa mengambil miliknya. Maksudnya mengatas namakan aset milik orangtuanya kepada Soraya," Jenny mulai mengeluarkan suara.
"Bisa, dan sesuai dengan isi wasiat. Soraya harus sudah menikah. Otomatis semua hak akan jatuh ketangan Soraya," jawab Om Adjie.
"Om akan membantu kamu, dan akan berada dipihak kamu. Karena ini sudah pekerjaan Om dan terutama Papamu adalah sahabat baik Om," sambung Om Adjie yang meyakinkan Soraya. Ada pihak yang akan berdiri membantunya.
Soraya menghembuskan nafasnya, menghempaskan punggungnya pada jok kursi mobil. Jari-jari tangannya bergerak mimijit pelipis.
"Satu-satunya cara adalah menikah!," ucap Jenny.
Soraya mengangguk.
"Sementara dikontrak kerja hal itu tidak diperbolehkan?" tanya Jenny lagi yang memukul pelan stir mobil.
"Bulan depan kontrak kerja habis, dan dikontrak ke dua menikah sudah diperolehkan," jelas Soraya dengan nada malas sambil terus memijat pelipisnya.
Jenny mengangguk, "Itu artinya gak ada penghalang lagi. Tapi tunggu—," ia menoleh menatap Soraya. "Siapa pengantin lelakinya, karena yang aku tahu kamu gak punya pasangan?"
"Maka dari itu aku lagi mikir," jawab Soraya.
__ADS_1
"Kita sudah gak ada waktu lagi, gimana kalau salah satu dari mantan-mantan pacar kamu?" usul Jenny.
"No!" tolak Soraya spontan. Gak mungkin ia menikah dengan barisan para mantan yang diketahuinya adalah lelaki mesum. Mengingat para pacarnya terdahulu yang berpacaran paling lama adalah dua bulan, sebabnya putus karena rata-rata mereka meminta hal yang tak wajar pada Soraya.
"Lalu siapa, waktu kita udah gak banyak?" ucap Jenny menuntut dan justru mendapat lirikan tajam dari Soraya.
"Jangan bilang kalau kamu mau pakai aku?"
"Mimpi!. Mana mungkin aku mau nikah sama manusia setengah mateng!" jawab Soraya sarkas.
Jenny mendegus mendengar ucapan Soraya, "Gini-gini aku manusia paling setia dimuka bumi ini, dan aku juga pasti nolak kalau kamu ajak aku nikah. Ogah!"
"Pulang, kepalaku makin pusing," ucap Soraya lalu menyandarkan kepalanya pada kaca pintu mobil.
Jenny yang membuka mulut hendak mengeluarkan suara, sekarang mengatupkan kembali. Mengurungkan perdebatannya dengan Soraya dan mulai menstater mobil mengantar Soraya kembali ke tempat tinggalnya.
**
Beberapa malam Soraya tak bisa tidur nyenyak akibat memikirkan masalahnya, ia beranjak hendak keluar menuju balkon demi menghirup udara malam.
Kini langkahnya menuju almari mengambil pakaian yang lebih tebal, sebab dipastikan diluar udara dingin. Saat pintu almari terbuka, tangan yang tadinya memilah baju terhenti pada salah satu pakaian yang menurutnya asing.
Ia mulai mengambilnya, dan teringat kejadian beberapa waktu lalu. "Ini miliknya," gumamnya.
Bahkan Soraya juga mengingat permintaan konyol yang spontan ia ucapkan beberapa waktu lalu. Lalu alasan lelaki itu menolaknya, yang tak lain adalah lelaki itu hanya akan menikah dengan orang yang dicintainya.
Cinta?. Bahkan Soraya juga tak yakin ia punya rasa cinta pada lelaki itu. Hanya, rasa kagum saat pertama kali melihatnya. Dan kini Soraya membutuhkan seseorang untuk menikah dengannya. Lantas, apa barang yang ada dalam genggamannya kini akan mengantarkannya untuk bertemu lagi pada pemiliknya.
To be Continue
Part besok di RS, masih nyangkut sama Love not Scenario
__ADS_1