Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 44


__ADS_3

Beberapa hari sudah tanpa kehadiran Rudi, bila dihitung-hitung akan genap selama satu minggu dan belum ada kabar hari apa Rudi akan pulang.


Soraya yang masih belum memiliki pekerjaan pun memilih berdiam diri di apartement bersama Bik Mar. Kali ini ia sedang berada didapur mempraktekkan cara memasak yang di ajarkan oleh Bik Mar.


"A—," jerit Soraya saat minyak yang dituangkan ke wajan menciprat mengenai punggung tangannya, sontak ia mundur kebelakang.


"Aduh Non, itu wajannya masih basah. Kalau mau masukin minyak, tunggu sampai wajannya kering dulu biar minyak gorengnya gak meletup," kata Bik Mar mengingatkan.


Soraya mengerucutkan bibirnya. "Gitu ya Bik?" tanya Soraya dengan polosnya.


Ia menerima uluran spatula dari bahan kayu yang baru saja Bik Mar beri padanya. Karena keantusiasan Soraya dalam mempelajari cara memasak, ia sampai mengabaikan tangannya yang sebenarnya terasa perih. Kali ini ia mengambil alih cara memasak, mulai menumis bumbu kemudian memasukkan sayuran tak lupa ia menaburi garam juga penyedap rasa.


Saat masakan sudah dirasa matang, ia mulai mulai mengangkatnya memindahkan ke pada piring saji. Di saat yang bersamaan terdengar bel pintu apartementnya berbunyi. Soraya dan Bik Mar saling menoleh bersamaan.


"Biar Soraya saja Bik yang buka," kata Soraya seraya beranjak dari tempat berdirinya semula, ia membawa serta piring berisi masakannya dan meletakkannya diatas meja makan.


Pintu apartement terbuka, menampilkan sosok Rudi di depan matanya. "Kenapa passcode-nya diganti?" tanya Rudi tanpa tedeng aling-aling.


Soraya mengerjap, ia tadi tak percaya Rudi yang ada didepan matanya, sebab ia pulang tanpa ada kabar terlebih dahulu. "Itu karena hanya aku dan Bik Mar ditempat ini, agar lebih aman. Lagi pula kode yang kamu gunakan kemarin terlalu sulit untuk ku ingat," kata Soraya memberi penjelasan.


Rudi mengangguk tak memprotes, passcode yang Rudi pakai sebenarnya adalah hari jadinya dengan mantan pacarnya terdahulu. Sudah saatnya pula ia menggantinya, batin Rudi.


Rudi kemudian mulai berjalan memasuki apartemennya melewati tubuh Soraya yang masih berdiri ditempat. "Kamu gak keberatan kan?" tanya Soraya yang ternyata menunggu jawaban darinya.

__ADS_1


Langkah Rudi terhenti, ia hanya berujar singkat, "Tidak."


Soraya pun mengangguk dan menutup pintu apartement kemudian menyusul Rudi memasuki kamar. Pintu kamar terbuka, Rudi menoleh ke sumber suara, kemudian mengarahkan pandangannya pada Soraya. Keningnya mengernyit.


Soraya nampak begitu gugup, mengingat Rudi sudah pulang ia akan bersiap melakukan tugasnya seperti yang Bik Mar ajarkan kemarin yakni mempersiapkan pakaian suami. Ia yang tadinya sejenak diam setelah menutup pintu, kemudian mulai bergerak ke arah lain. Tempat yang dituju adalah almari pakaian milik Rudi, ia mulai mengambil satu stell pakaian santai kemudian meletakkannya diatas kasur. Nyatanya hal itu tak luput dari tatapan Rudi.


"Kamu mau langsung mandi kan?" tanya Soraya, rasa gugup masih menyelimutinya, hingga nada bicaranya terdengar bergetar.


"Haruskah aku memakainya?"


"Kalau kamu gak suka dengan pilihanku, aku bisa menukarnya," ucap Soraya lalu mengambil pakaian itu hendak menukar dengan yang lain.


"Letakkan saja disitu," kata Rudi melanjutkan membuka kancing tangan kemejanya, lalu melipatnya kesiku.


Dua puluh menit Rudi keluar dari kamar sudah dalam keadaan fress. Ia ikut bergabung mendudukkan diri di kursi makan. Sudah tersaji menu makan siang.


"Cobalah aku yang memasaknya," ucap Soraya kemudian mengambil alih piring dan mengisinya dengan nasi kemudian diulurkannya pada Rudi.


Rudi menerimanya kemudian mulai menyuapkan nasi masuk kedalam mulutnya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Soraya meminta penilaian, sudut bibirnya tertarik dengan wajah penuh pengharapan.


"Masih bisa dimakan," jawabnya datar.

__ADS_1


Soraya langsung menurun rahangnya. Tak bisa dipercaya ia sudah capek-capek memasak dan tanggapannya, tak ada basa-basinya sama sekali, batin Soraya kesal. Ia memasang tampang cemberut dan seketika tak berselera makan.


Rudi yang menyadari tak adanya pergerakan dari orang dihadapannya mulai mengarahkan pandangannya pada Soraya, "Kenapa sikapmu tiba-tiba berubah?"


"Bukankah kamu sendiri yang memintanya," ucap Soraya seraya mendegus tanpa menatap lawan bicaranya. Ia pun memilih menghabiskan makannya dari pada melanjutkan bicara, yang ada malah bikin sakit hati dan kecewa.


Rudi mengalihkan pandangannya, terlihat tangan Soraya yang digunakan untuk menyuap nasi terlihat memerah, tanpa bertanya pun ia sudah pasti tahu penyebabnya. Rudipun kini melanjutkan makannya hingga tandas tanpa mempedulikan rasanya.


Aksi diam keduanya masih berlanjut. Soraya saat ini berada diruang tamu menyaksikan acara TV. "Bik Mar dimana?" tanya Rudi yang memilih duduk disamping Soraya.


Soraya hanya melirik sesaat lalu menggeser tubuhnya menjauh. "Udah pulang," ucapnya datar kembali menatap kearah Tv.


Rudi kemudian menarik tangan Soraya, menyebabkan sang empunya terkesiap akan tindakan Rudi barusan. "Kamu ngapain?" pekiknya.


"Lain kali kalau masak hati-hati," kata Rudi kembali menarik tangan Soraya, kemudian mulai mengoleskan gel yang berguna untuk meminimalisir luka bakar.


"Udah tahu masak itu susah, udah gitu capek, belum lagi begini," ucap Soraya menunjuk tangannya yang sekarang terasa dingin setelah diolesi obat oleh Rudi. " Tapi tanggapan kamu masih begitu, ngeselin!" gerutu Soraya.


"Makanya belajar lagi," kata Rudi sambil menepuk pelan kepala Soraya, kemudian beranjak berlalu pergi.


To be Continue


Segini dulu yaaaaaaa

__ADS_1


__ADS_2