Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 55


__ADS_3

Hari belakangan ini Soraya memutuskan tetap lembur. Sebagai karyawan ia dituntut profesionalis meskipun ia sendiri belum begitu mahir dalam bekerja. Mau tak mau kesalahan yang ia lakukan, ia harus merevisi berulang-ulang sampai mendapatkan hasil yang sesuai dengan standar perusahaan. Hal itulah yang membuat pekerjaannya kian menumpuk dan tak ada habisnya.


Sementara hubungannya dengan Rudi kian merenggang, sebab mereka hanya bertemu kala malam saat pulang bekerja yang sudah dipastikan dalam keadaan lelah dan pagi saat sarapan, setelahnya waktu habis dipakai dengan kegiatan diluar rumah.


Pekerjaan dikantor dan urusan pribadi seakan berlawanan arah, tentu saja hal itu membuat beban pikiran bagi Soraya, belum lagi jobnya sebagai artis itu sungguh membuatnya merasa tertekan.


Kepalanya kini terasa pening, tubuhnya pun lemas tak bersemangat. Ia melirik ke arah rekannya, Rizal. Terlihat Rizal sedang sibuk mengetik sesuatu, di mejanya yang juga menumpuk beberapa berkas.


Dan hal itu membuat Soraya menghela nafas, kepalanya malah makin berdenyut sakit.


"Ibu Soraya kenapa?" tanya Rizal yang memperhatikan pergerakan Soraya.


Soraya menggeleng. "Aku gak papa," jawab Soraya menarik tangannya yang tadi digunakan untuk memijat pelipisnya. Rasanya tidak enak bila harus mengeluh, sementara pekerjaannya saja tak ada satupun yang beres. Tak mungkin lagi-lagi ia merepotkan rekan kerjanya, batin Soraya.


"Wajah Ibu kelihatan pucat, apa gak sebaiknya Ibu ijin untuk istirahat saja. Biar pekerjaan Ibu saya yang selesaikan."


Sudah diduga, batin Soraya. Iapun tersenyum tipis. "Maaf aku sudah banyak merepotkanmu ."

__ADS_1


Kata-kata Soraya terdengar tulus, membuat hati Rizal tersentil. Rasanya ia tak enak hati karena beberapa hari terakhir sikapnya dingin pada Soraya, bisa dibilang ia kurang sopan pada atasannya. Terkadang ia tak menanggapi ucapan dan juga pertanyaan yang Soraya ajukan, karena ia merasa sebal memiliki rekan yang tak bisa dan tak faham dalam bekerja. Tapi ia sadar, dirinya bekerja disini ditunjuk langsung oleh pimpinan tertinggi perusahaan, Bramantyo selaku CEO diperusahaan ini. Apalagi selama disini juga ia tak dikejar target seperti biasa.


"Justru saya yang minta maaf, karena beberapa hari ini saya bertindak tidak sopan pada Ibu," kata Rizal mengakui kesalahannya. Melihat Soraya mengerutkan kening, ia kini melanjutkan ucapannya, "Saya mengabaikan ucapan dan perintah Ibu."


"Aku paham, itu kamu lakukan karena kamu kesal padaku kan?" ucap Soraya to the point, karena memang itu kenyataannya.


Dan terlihat Rizal salah tingkah, ia kini mengangguk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bagaimana kalau saya buatkan teh hangat untuk Ibu Soraya sebagai permintaan maaf saya," usul Rizal penuh pengharapan.


"Sepertinya itu ide yang bagus," ucap Soraya menyetujui. Seketika Rizal langsung bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan ruangan menuju pantry. Tidak lama hanya sepuluh menit ia kembali dengan membawa satu cangkir teh hangat dan menyodorkan pada Soraya.


Setelahnya Soraya menerima dan meneguknya bersamaan dengan satu tablet aspirin sebagai pereda sakit kepala yang ia ambil dari tas kerjanya. Selanjutnya ia melanjutkan pekerjaannya dan tentu saja dibantu oleh Rizal.


Ia sampai di apartement namun suasana terlihat sepi karena Rudi belum kembali. Usai meletakkan tas kerjanya dan berganti pakaian ia berinisiatif untuk mempersiapkan makan malam.


Sebisanya ia berusaha memasak menu makan malam, selesai berjibaku dengan peralatan dapur dan makanan sudah tersaji diatas meja makan diliriknya jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan, namun Rudi tetap belum pulang.


Soraya pun kemudian melepaskan celemek yang ia pakai, berniat membersihkan diri terlebih dahulu sambil menunggu kehadiran Rudi. Namun saat ia selesai mandi pun Rudi masih belum menampakkan batang hidungnya.

__ADS_1


Pesan yang ia kirim pun belum ada balasan. Soraya yang merasakan perutnya lapar akhirnya memilih untuk makan malam terlebih dahulu dan menyisakan sebagian makanan untuk Rudi.


Waktu kian berlalu Soraya yang menunggui Rudi pun kini tak sadar terkantuk-kantuk dikursi sofa, ditambah rasa lelah bekerja seharian seakan mendera ditubuhnya membuat dirinya makin terlelap dalam tidurnya.


Sementara Rudi sengaja tidak mengaktifkan ponselnya sebab hari ini punya jadwal operasi darurat, dan baru selesai pada pukul sembilan malam. Dan sudah dipastikan ia sampai apartemen tengah malam.


Kala membuka pintu apartement, ia sedikit terkejut sebab cahaya lampu ruang utama sangat terang. Segera ia melepas sepatu dan meletakkannya dirak khusus yang disediakan berganti dengan sandal yang biasa ia gunakan saat didalam ruangan.


Matanya lurus menyipit kala melihat ke arah dapur, ada makanan yang tersaji di meja makan. Kemudian matanya mengedar diruang tamu TV terlihat masih menyala. Apa Soraya ada disana, batinnya.


Langkahnya kini mendekat kearah ruang tamu, ditemukan Soraya yang tertidur terlentang di kursi sofa. Bahkan saking lelapnya tanpa sadar bibir Soraya terbuka dan bukan itu saja sudut bibirnya bahkan sedikit basah.


Hal itu membuat Rudi geleng kepala, juga tanpa sadar sudut bibirnya sedikit tertarik. Ia pun meletakkan tas kerjanya diatas meja yang berada dibelakangnya, kemudian berjongkok menatap wajah Soraya sekilas dan diulurkan tangan kanannya guna menghapus sudut bibir Soraya agar kering.


Rudipun menegapkan tubuhnya melepas kancing kemeja kemudian melipatnya sampai kesiku. Kedua lengannya kembali terulur mengangkat tubuh Soraya membawanya masuk dan merebahkannya di atas ranjang.


Lekat ia memandangi wajah Soraya yang terlihat begitu damai saat tertidur, tak lama ia membungkuk bibirnya pun mendarat dikening Soraya, mengecupnya begitu dalam dengan mata terpejam.

__ADS_1


To be Continue


__ADS_2