
Belum genap sehari Soraya merasakan kesialan yang amat luar biasa. Malam ini Rudi memaksa dengan cara membopongnya keluar dari apartemen hendak menuju rumah sakit terdekat.
Saat tiba di lantai basement tempat parkir, Soraya merasakan perutnya yang semakin mulas tak tertahan. Tanganya ia gunakan untuk mencengkeram lengan milik Rudi dan berujar, "Turunkan aku."
Karena Rudi tak menghiraukan ucapan Soraya, ia meronta dari gendongan. "Cepat turunkan aku sekarang!" ucapnya tak bisa menahan kepanikan.
Rudi pun menuruti ucapan Soraya. Begitu Rudi menurunkan tubuhnya, Soraya berlari seperti orang kesetanan sebab yang ia butuhkan sekarang adalah toilet.
Situasi ini sungguh memalukan bagi Soraya. Begitu lama ia mengurung dirinya didalam toilet yang berada di area tempat parkir. Ia sudah tidak lagi menghiraukan panggilan dari Rudi, hingga suara itu tak terdengar lagi. Tapi Soraya yakin lelaki itu masih menungguinya.
Dan terbukti, ketika rasa mulas mereda, Soraya memutuskan keluar dari toilet dan menemukan Rudi yang tengah menyandarkan punggungnya di dinding. Begitu juga Rudi yang tahu Soraya muncul dari balik pintu, ia pun segera menegapkan tubuhnya dan berjalan menghampiri Soraya.
"Sekarang kita kerumah sakit," kata Rudi menarik lengan Soraya.
Namun Soraya tetap berdiri mematung tak bergerak, "Kenapa?" tanya Rudi tampak meneliti Soraya.
"Bisa gak, kita gak usah pergi ke rumah sakit."
"Tubuh kamu sudah lemas seperti ini masih menolak pergi ke rumah sakit!" kata Rudi geram.
"Minum obat, aku yakin pasti sembuh."
Rudi menatap Soraya tajam dan menggenggam erat tangannya, "Aku tak butuh dibantah, ayo cepat!"
__ADS_1
Soraya menepis tangannya, "Kamu gak akan pernah tahu gimana akibatnya kalau aku turuti kamu. Bisa saja dengan kejadian ini nanti akan muncul berita lagi yang gak-gak tentang aku," kata Soraya.
"Lalu kamu pikir aku akan menuruti perkataanmu dan membiarkan kamu sekarat dengan kondisi tubuhmu yang seperti ini?," ucap Rudi penuh emosi. Ia tak habis pikir dengan jalan berfikir wanita di hadapannya. Keras kepala, pikirnya.
Kondisi tubuh Soraya memang sudah melemah tenaganya nyaris terkuras, apalagi wajahnya terlihat begitu kuyu dan penampilannya berantakan. "Kenapa kamu memaksa!. Kamu gak akan tau posisiku seperti apa. Mereka bakal bully aku ketika tau keadaanku. Ini cuma sepele, minum obat pasti akan sembuh, jangan melebih-lebihkan" ucap Soraya terdengar lemah.
"Kamu mau menutupi kenyataan dan membuat sakitmu tambah parah, begitu!" ucap Rudi membentak.
Rudi meraup wajahnya kasar, sementara Soraya menunduk menitikkan air mata. Mendengar bentakan itu sungguh menyakitkan.
"Bisa-bisanya aku menikah dengan wanita bodoh seperti kamu," ucap Rudi mendesis, kemudian menarik lengan Soraya kuat, memaksa tubuh Soraya terseret mengikuti langkah kakinya kembali ke apartement miliknya.
Rudi bahkan menghempaskan begitu saja cekalannya hingga tubuh Soraya terduduk pada pinggiran ranjang. Segera Rudi menghubungi seseorang di seberang sana agar cepat datang.
"Lakukan tugasmu," kata Rudi dan wanita cantik yang baru diketahui oleh Soraya adalah seorang dokter mendekat ke arah Soraya.
"Perkenalkan aku Nirma, rekan suamimu sesama profesi. Kita juga sudah bertemu kemarin apa kamu masih ingat aku," ujar Nirma memperkenalkan diri.
"Maaf aku sedikit lupa," ucap Soraya.
"Ya, aku memaklumi sebab banyak tamu undangan," kata Nirma sambil mempersiapkan peralatan medisnya dari dalam tas yang ia bawa. "Dan kamu Berbaring saja," perintahnya pada Soraya.
Nirma adalah seorang dokter umum, Rudi memanggilnya datang sebab ia tak menyimpan peralatan medis maupun obat di apartementnya. Sekarang Nirma mulai menanyakan hal-hal yang baru saja dialami oleh Soraya, kemudian memeriksa perut Soraya dengan stateskop. "Pasti kamu salah makan," kata dokter itu lembut.
__ADS_1
"Junkfood," ucap Rudi menimpali, dan Soraya menipiskan bibirnya.
"Tubuh kamu kekurangan cairan, akan lebih baik dirawat inap saja," saran Nirma namun Soraya menggeleng.
"Gak perlu, kamu sudah bawa resep obatnya kan?" Rudi mulai menyela. Ia sudah memberitahukan pada Nirma lewat telpon dan mengintruksi agar membawa obat sekalian.
Nirma berdecak, kemudian menggerutu," mentang-mentang pengantin baru, gak mau ninggalin rumah." Ia pun kemudian mengeluarkan obat dan menyerahkan kepada Rudi, "obat ini diminum sesuai takaran, usahakan beri istrimu banyak minuman yang mengandung ion agar kondisinya segera pulih," jelas Nirma.
"Baiklah, kamu bisa pulang sekarang."
Nirma mendegus, "Dasar tak tahu terimakasih, tengah malam bangunin orang tidur. Dan setelah selesai aku diusir begitu saja!" ucapnya sambil memincingkan mata.
"Tak mungkin kan aku menawarkanmu untuk tidur disini," kata Rudi datar.
"Dasar!," ucap dokter itu kesal. "Suamimu ini memang orang yang menyebalkan," sambungnya sebelumnya menginggalkan kamar.
Soraya tersenyum menanggapinya. Rudi mengantar temannya sampai pada pintu apartement. Setelah itu ia kembali ke kamar.
"Terimakasih," gumam Soraya.
"Minum obatnya dan segera istirahat," kata Rudi menyerahkan obat dan segelas air hangat. Soraya pun menuruti apa yang diperintahkan oleh Rudi, termasuk istirahat. Ia merebahkan diri di kasur. Berusaha memejamkan mata hingga akhirnya terlelap.
Meski dalam keadaan tertidur wajah Soraya terlihat gelisah, sebab demam tengah melanda tubuhnya. Hal itu nyatanya tak luput dari perhatian Rudi yang kini merawatnya, menggantikan kompres didahinya maupun menenangkan Soraya dari mengigau sebab mimpi buruk yang tengah dialaminya.
__ADS_1
To be Continue