
"Mereka sudah terlalu lama menunggu, kita lebih baik kembali," kata Rudi usai Soraya berdiri. "Dan perbaiki penampilanmu," ucap Rudi lagi.
Soraya tanpa menjawab berusaha segera memperbaiki tampilan juga mengembalikan ketenangan dalam dirinya. Setelah itu mereka berdua berjalan bersama menuju ruangan pertemuan.
"Kalian berdua dari mana saja? kenapa baru muncul?" tanya Kakeknya Rudi usai mereka berdua mendekat ke arah meja.
"Kami tadi ada sedikit kepentingan," jawab Rudi, setelah para tetua mempersilahkan mereka duduk.
Soraya pun memperkenalkan diri kepada Kakeknya Rudi dan disambut baik, kemudian mereka saling berbincang.
"Bagaimana kelanjutan hubungan kalian, apa sudah bisa untuk diresmikan?" tanya Prasetyo Nugroho dengan ekspresi tenang, namun beda halnya dengan Rudi dan Soraya.
Rudi sudah menduga pertemuan hari ini mengarah pada hal itu, bahkan sekarang tatapan kakeknya berubah serius karena Rudi dan Soraya masih tetap bungkam.
Soraya nampak terdiam, air mukanya sudah nampak pucat. Ia tak bisa mampu berkata banyak, pasrah hanya itu jalan satu-satunya. Untuk meredam rasa gugupnya sedari tadi ia meremat kedua tangannya dan hal itu tak luput dari tatapan Rudi yang memperhatikan tingkahnya.
Berdehem, Rudi kemudian mulai bersuara. "Kami menanti restu dari kalian."
Soraya terhenyak, pergerakan tangannya seketika terhenti. 'Apa aku tak salah dengar?' batinnya. Ia pun perlahan menengok, melirik Rudi yang duduk disampingnya.
__ADS_1
"Kalau begitu segera kita atur hari baiknya," ucap Bramantyo
"Lebih cepat lebih baik," dan diangguki oleh Kakeknya Rudi.
Soraya tak menyimak kata-kata para tetua yang sedang berbincang. Otak Soraya kini berputar, bagaimana Rudi begitu saja mau menuruti permintaannya. Berulang kali ia melirik Rudi, ia terlihat tenang akan situasi.
Sampai tibalah pertemuan itu berakhir, Rudi dan Kakeknya berpamitan. Saat Rudi melewati tubuh Soraya, Soraya baru berani mengeluarkan suara sambil menarik lengan Rudi.
"Kamu serius?" ucap Soraya terdengar lirih di telinga Rudi.
Rudi menatap mata Soraya yang terlihat suram bila diamati dengan seksama. Tak mau menimbulkan kecurigaan pada Kakeknya yang tengah memperhatikan tingkah mereka berdua. Rudi menarik sudut bibirnya kemudian mengangguk.
"Kita akan bertemu lagi," ucap Rudi, dengan gerakan lembut ia melepas cekalan tangan Soraya lalu berpamitan pergi.
**
Rudi telah sampai di apartement miliknya setelah tadi mengantarkan Kakeknya pulang kerumah yang mereka tinggali. Ia tak tinggal disana di karenakan semenjak Rudi pulang ke Indonesia, ia lebih memilih hidup mandiri.
Ia mengendurkan dasi lalu beranjak menuju kulkas mengambil air dingin. Meneguknya kemudian ia mulai berjalan memasuki kamar berlanjut pergi membersihkan diri.
__ADS_1
Dua puluh menit berselang, ia keluar kamar mandi dengan handuk melilit dipinggang disertai rambut basahnya. Terlihat air masih menetes, tangan kirinya ia gunakan mengosok-gosokkan handuk pada kepalanya.
Matanya kini tertuju pada tong sampah yang terletak di dekat pintu kamar mandi, ia ingat akan kejadian kemarin. Segera ia mencari benda yang kemarin dibuangnya, beruntung benda yang ia cari masih ada.
Kartu nama yang sudah tak terbentuk tapi masih bisa terbaca, milik Soraya. Ia pun mengambil ponsel miliknya lalu mengirimkan pesan pertemuan.
**
Esoknya. Soraya sudah bersiap berdiri didepan rumah sebab semalam ia menerima pesan dari Rudi, bahwa pagi ini Rudi menjemputnya untuk pergi bersama. Saat mobil Rudi tiba, segera Soraya masuk tanpa menunggu arahan Rudi.
"Aku ingin bertanya, kenapa secepat itu kamu berubah pikiran?" tanya Soraya saat mobil sudah melaju menjauhi rumahnya.
Rudi menoleh, "Kamu bertanya, kenapa aku mau menerimamu secara tiba-tiba?"
Soraya mengangguk. "Bukankah itu yang kamu minta," ucap Rudi.
Soraya ingin bertanya lagi sebab jawaban dari Rudi masih mengganjal di hatinya. Namun melihat Rudi yang fokus menyetir ia mengurungkan niatnya.
To be Continue
__ADS_1
Kira-kira Soraya mau dibawa kemana & alasan Rudi apa ya, tiba-tiba mau menerima Soraya
Karena kasihan atau alasan lainnya?