
Rudi dan Kakeknya sudah tiba di hotel. Memasuki restoran dan langsung menuju ruangan yang diarahkan oleh seorang pelayan setelah berucap bahwa mereka adalah tamu dari keluarga Bramantyo.
Begitu masuk ke ruangan, Rudi dan Kakeknya di sambut oleh Bramantyo yang tidak beserta Istrinya kemudian mempersilahkan duduk.
"Maafkan karena keponakan saya belum hadir, sebab terjadi sedikit kendala saat di perjalanan," kata Bramantyo usai mereka berbasa-basi berbincang, beberapa menit lalu Soraya memang sempat memberi kabar bahwa ia mengalami kendala macet dijalan.
Rudi menarik nafasnya, lalu berucap ingin pergi ke kamar kecil sebentar. Kemudian beranjak keluar dari ruangan. Berjalan beberapa langkah kedepan, orang yang ingin ditemuinya kebetulan sudah muncul didepan mata.
Segera ia berjalan cepat lalu meraih lengan kiri Soraya dan menggiringnya menuju tempat yang sepi, ia pun tak sama sekali menghiraukan sikap Soraya yang terkejut atas tindakan yang ia lakukan.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Soraya meronta seraya memukuli lengan Rudi dengan tas tangan yang ia bawa.
Tanpa menjawab, Rudi kian menyeret Soraya untuk mengikuti arah langkahnya. Begitu menemukan tempat yang aman, ia menghempaskan cengkeramannya hingga tubuh Soraya tersudut ke dinding.
"Kamu gila!" bentak Soraya, sambil mengelusi lengannya yang terasa sedikit nyeri akibat ulah Rudi.
Rudi meraup wajahnya kasar. Selangkah ia mendekat ke arah Soraya, "Jelaskan yang sebenarnya pada mereka, bahwa kita tak punya hubungan apa-apa."
"Maksud kamu?. Dan kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Soraya menatap wajah Rudi dengan pandangan serius.
__ADS_1
"Jangan pura-pura bodoh. Luruskan semua kesalah pahaman yang terjadi bahwa kita tak punya hubungan apa-apa. Aku berada disini akibat ulah yang kamu lakukan tempo hari," ucap Rudi tegas.
Soraya terdiam, membangkitkan sisi emosi Rudi. "Masih tak faham?" tekan Rudi menatap Soraya tajam, lalu di jawab gelengan pelan oleh Soraya. justru membuat Rudi seakan diselimuti rasa murka, "Keluarga kita sedang membicarakan perihal hubungan tak jelas yang berasal dari kesalahan pahaman. Ayo, kamu harus bicara. Bilang pada mereka yang sebenarnya!," ucap Rudi menarik lengan Soraya lagi.
"Tunggu!" Cegah Soraya menarik lengannya, membuat Rudi menghentikan pergerakannya. "Lalu bagaimana dengan permintaanku kemarin?" sambung Soraya.
"Tidak dan tak akan mungkin terjadi," ucap Rudi menolak tegas.
"Tapi kenapa? apa alasannya?"
"Bukankah sudah jelas aku katakan, aku tidak akan menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Apa kata-kataku kurang jelas?"
"Bagaimana kalau aku, membuatmu jatuh cinta kepadaku," ucap Soraya cepat-cepat.
Soraya mengira lelaki dihadapannya adalah tipe lelaki manis dan baik hati. Tapi nyatanya tak sesuai dugaan, galak dan juga emosional.
"Kenapa kamu begitu percaya diri?" tanya Rudi sinis.
Soraya berfikir keras, matanya berkedip beberapa kali. Berfikir ayo berfikir, batin Soraya memaksa otaknya bekerja ekstra dan ia dengan spontan berujar, "Karena aku cantik."
__ADS_1
Rudi menaikkan alisnya, memandang dengan tatapan menilai wanita di hadapannya.
"Aku tahu, aku tak secantik mantan pacar kamu. Dan mantan pacar kamu yang cantik itu jelas tak akan pernah kembali kepadamu."
Ucapan Soraya membuat rahang Rudi mengetat, kenapa wanita dihadapannya membawa-bawa nama mantan pacarnya, batin Rudi. "Kenapa harus aku?" tanyanya berdesis.
"Karena kamu bukan pria beristri dan lagi pula kamu baru saja putus dari pacarmu," ucap Soraya seakan putus asa.
Rudi tak menghiraukan ucapan Soraya, buktinya kini ia berbalik hendak melangkah. Namun tiba-tiba tubuh Soraya meluruh. Kontan Rudi membalikkan tubuhnya, matanya membeliak seketika sebab Soraya kini tengah berlutut di hadapannya.
"Hanya kamu harapan satu-satunya," ucap Soraya nyaris tercekat, ia menunduk tanpa berani menatap wajah Rudi.
"Apa yang kamu lakukan?. Bangun!" bentak Rudi.
"Aku akan lakukan apapun asal kamu mau menikahi aku."
"Aku bilang, Bangun!" perintah Rudi menekan kata-katanya.
Soraya mendongak. Rudi berharap wanita dihadapannya hanya berpura-pura, ia meneliti barang kali ini hanyalah jebakan. Namun wajah polos dihadapannya kini terlihat sangat putus asa.
__ADS_1
Rudi meraup wajahnya kasar. Begitu muak kenapa dirinya bisa berhadapan pada situasi seperti ini. Ia mendegus lelah, "Baiklah, kita selesaikan masalah ini baik-baik. Sekarang kamu berdiri."
To be Continue