Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 50


__ADS_3

Ketempat kerja baru Soraya meminta agar Rudi mengantarnya, sebab asistennya si Jenny tak bisa menjemput dikarenakan ia sibuk menyiapkan perlengkapan juga mengambil beberapa kostum yang akan Soraya pakai untuk pemotretan hari ini.


"Ini tempatnya?" tanya Rudi memastikan.


"Iya, disini." Soraya melihat arah luar mobil. Situasi ditepian jalan terdapat beberapa mobil yang terparkir, tak sepi seperti saat ia datang beberapa hari lalu. "Itu Jenny," tunjuknya ke arah mobil Jenny yang berada diseberang jalan. Disana terlihat Jenny sedang kerepotan membawa barang bawaan.


"Cukup sampai disini saja kamu mengantarku," sergah Soraya saat Rudi akan mematikan mesin mobil. "Aku buru-buru," kata Soraya hendak keluar membuka pintu mobil.


"Sepertinya kamu melupakan sesuatu?" ucap Rudi menarik lengan Soraya.


"Apa?" tanya Soraya yang menoleh menatap wajah Rudi, terlihat Rudi mengedikkan dagu sorot mata menatap ke bawah.


Soraya menghela nafas, menipiskan bibirnya. Mau tak mau ia pun memajukan wajahnya mengecup sekilas bibir Rudi.


Saat bibir Soraya terlepas Rudi mengernyit bingung kemudian berdecak. "Yang aku maksud lututmu, apa masih sakit?"


Kedua mata Soraya terbelalak, sontak ia memalingkan muka. Menyembunyikan rona merah bersemu ungu diwajahnya, sebab malu merasuk menjalar sampai ke ubun-ubun. 'Dasar bego, yang dimaksud ternyata dengkul, dikiranya bibir,' batin Soraya merutuki.


"Ditanya itu jawab, SO-RA-YA," ucapnya menekankan nama panggilan Soraya.


"Sudah lebih baik," jawabnya masih tak mau menoleh kearah Rudi.


Rudi mengangguk, melirik ke arah Soraya yang justru terdiam duduk di jok mobil sampingnya. "Katanya buru-buru


Jadi tunggu apalagi, Turun!" perintah Rudi mengingatkan.


Soraya pun terkesiap, seakan baru saja diberi alrm peringatan kembali ke alam sadar atas ke begoannya. Buru-buru ia meraih dan membuka pintu mobil, kemudian turun.


Berjalan cepat sedikitpun mata Soraya tak berani menoleh kebelakang. Bahkan ia tak mengatakan apapun, apalagi berpamitan kepada Rudi.


Sesampainya di studio pemotretan barulah Soraya bisa bernafas lega meski mukanya masih terasa sedikit memanas, iapun berusaha beberapa kali menghela nafas.


"Kenapa, kayak dikejar setan?" tanya Jenny sambil menepuk pundak Soraya.


"Yang ini lebih dari setan," seloroh Soraya.


"Mana ada setan disiang bolong cin. Ya udah ayok persiapan mumpung kru belum pada belum datang semua," kata Jenny menarik lengan Soraya masuk ke ruang make up.


Proses pemotretan berjalan beberapa tahap, kali ini Soraya dipercaya sebagai model iklan sebuah produk kecantikan. Meski merk produknya belum begitu dikenal masyarakat luas, Soraya berusaha semaksimal mungkin melakukan pekerjaannya. Mengikuti intruksi seorang Kameramen ia berpose dan memperagakan alat-alat make up, mulai berganti kostum sampai didandani dengan aneka warna make-up yang eksotis menghias diwajah cantiknya.


Rasanya pekerjaan yang dilalui Soraya hari ini benar-benar tanpa hambatan, sedikit bingung kalau dipikir-pikir. Ia merasa sedikit janggal sebab para kru tak ada yang memberi protes padanya.

__ADS_1


"Kenapa ngalamun?" tegur Jenny pada Soraya.


Soraya menggeleng sambil melepas aksesoris yang masih melekat pada dirinya.


"Jadwal kamu setelah pemotretan selesai balik ke kantor," ucap Jenny memberitahukan agenda kerja Soraya.


***


Pukul setengah dua siang Soraya tiba di kantor, dengan langkah lebar ia berjalan menuju ruangannya. Namun belum ia sampai ia berpapasan dengan seseorang yang sangat ia kenal, siapa lagi kalau bukan Kevin.


"Soraya, bagaimana bisa kamu berada disini? tanya Kevin menelisik penampilan Soraya yang mengenakan pakaian kantor.


"Aku bekerja disini," jawab Soraya ia hendak melanjutkan langkahnya tapi Kevin mencekal lengannya.


"Aku butuh penjelasan," kata Kevin dengan menatap serius.


"Aku masih banyak pekerjaan."


"Baiklah," Kevin menghela nafas. "Aku tunggu sepulang bekerja, kamu hutang penjelasan padaku."


Soraya mengangguk, Kevinpun melepaskan cekalan tangannya membiarkan Soraya masuk ke ruang kerjanya.


Terlihat dari penilaian Soraya, Rizal menampilkan wajah tak suka. Wajar saja karena Soraya begitu istimewa, siang baru tiba dikantor dan lagi pekerjaan 90% dikerjakan oleh rekannya.


"Aku ada sedikit urusan tadi, dokumen mana yang harus aku periksa dan ditandatangani," kata Soraya menahan rasa tak enak hati.


Rizal mengulurkan beberapa dokumen tanpa berkata apa-apa, tapi Soraya sudah mulai paham dengan cara kerja dan tugasnya. Ia membiarkan sikap rekannya. Biarlah baginya itu sudah seharusnya sebab sampai sekarang ia belum membuka jati diri yang sesungguhnya bahwa ia adalah pemilik dari perusahaan.


Jam kerja usai, Soraya keluar dari kantor pukul delapan malam. Sebenarnya pukul lima adalah jam pulang kantor, ia mengambil jam lembur untuk menyelesaikan tugasnya.


Sesampainya dilobby ia melihat Kevin yang sedang menungguinya. "Kenapa lama sekali?" tanya Kevin saat Soraya mendekat.


"Aku lembur." Soraya menjawab dengan ucapan singkat.


"Ayo makan malam," ajak Kevin menarik lengan Soraya.


"Ini terlalu malam, aku akan langsung pulang," kata Soraya berusaha menolak.


"Kita sudah lama tidak bertemu, dan berani-beraninya kamu menolakku? Dasar anak nakal!" hardik Kevin menghadiahi Soraya dengan jitakan dikepala membuat Soraya memekik. Hingga mereka kini menjadi pusat perhatian beberapa karyawan disekitar lobby.


"Yaak! Suamiku menunggu dirumah," seru Soraya. Kali ini sorot mata tajam orang disekitar tak terelakkan, rasanya seperti orang yang tertangkap basah sedang berbuat yang tidak-tidak.

__ADS_1


Menyadari hal itu sontak Kevin menarik Soraya menuju tempat parkir, membawa Soraya meninggalkan area perkantoran menuju restoran untuk makan malam.


Selama kebersamaan dengan Kevin, Soraya menjawab pertanyaan yang diajukan termasuk tentang pernikahannya. Kini mobil yang mereka kendarai sudah sampai dipelataran apartemen tempat tinggal Soraya.


"Udah puaskan dengan jawabanku, berhubung sudah pukul sepuluh sekarang aku mau pulang," kata Soraya membuka pintu mobil Kevin.


Belum badan Soraya keluar sepenuhnya dari mobil, ia tersentak dengan suara seseorang. "Dari mana saja kamu?"


Soraya menoleh kesumber suara,Terlihat tatapan matanya tajam. "Rudi?" ucap Soraya lirih.


Kevinpun ikut turun dari mobil memperhatikan wajah Rudi, mereka berdua kini saling menatap memberi penilaian satu sama lain.


"Aku bisa jelaskan, perkenalkan dia sepupuku Kevin. Dan kevin perkenalkan dia suamiku Rudi," ucap Soraya memecah situasi tegang yang sedang berlangsung.


"Masuk," kata Rudi terdengar dingin.


Soraya terdiam ditempat, mencerna apa yang sedang terjadi. Kenapa situasinya mencekam begini Kevin dan Rudi seperti punya aura...


"Soraya, haruskah ku ulangi kata-kataku!" ucap Rudi dengan penekanan membuat Soraya menepis prasangkanya. Ia pun berjalan mendekat ke arah Rudi. Dengan sigap Rudi merangkul pundak Soraya, berbalik berjalan memasuki gedung apartement.


"Jalan, lihat kedepan," kata Rudi kala Soraya menoleh kebelakang.


"Kita belum berpamitan pada Kevin," ucap Soraya.


"Gak perlu," ucap Rudi singkat.


"Itu kan gak sopan."


"Lebih gak sopan lagi bawa kamu pulang hingga larut malam," ucap Rudi menghentikan langkahnya sebab tubuh Soraya tak kaku tak bergerak. "Kenapa berhenti?" tanya Rudi menyelidik.


"Aku tadi hanya makan malam diluar," ucap Soraya memberi penjelasan.


"Aku gak ijinin," kata Rudi terdengar tegas.


"Kenapa?" tanya Soraya bingung. Hanya makan saja apa perlu ijin, batinnya.


Rudi mendegus, tanpa mengeluarkan sepatah kata ia menarik lengan Soraya hingga masuk ke dalam lift.


To be Continue


Jangan lupa Jempol, Vote juga komentarnya yaaaaa

__ADS_1


__ADS_2