Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 75


__ADS_3

Begitu Aluna pergi, Soraya masih berada ditempat. Duduk sambil mengamati cangkir teh yang berada dihadapannya. Dalam benaknya terngiang kata 'Layak.'


Berulang kali satu kata itu berputar-putar dibenaknya. Ia begitu menyadari akan kekurangannya. Ia tertunduk, hingga tak lama kemudian,


"Temani aku untuk menghabiskan sisa umurku. Satu kalimat itu kini menyentak isi pemikirannya, seakan satu kata layak ia abaikan. Iya, itu adalah ucapan Rudi beberapa hari lalu. Dan bukankah satu kalimat itu mewakili bahwa Soraya berhak bersama Rudi, pikirnya.


Ia pun mengangguk dan yakin. Setelahnya ia segera bangkit berdiri beranjak pergi, tak peduli meninggalkan cangkir teh yang masih utuh.


Sesampainya di kediaman milik Rudi, langkah pertama yang dituju adalah kamar. Saat pintu kamar terbuka, ia langsung menyelinap masuk. Kondisi kamar nampak gelap, tanpa pencahayaan juga gorden jendela masih tertutup rapat.


Namun, hari yang masih terang membuat cahaya matahari menyelinap masuk melewati sela-sela ventilasi ruangan. Samar Soraya bisa melihat Rudi yang terduduk di lantai bersandar pada tepian ranjang. Dengan satu tangan menumpu pada kepalanya yang menunduk.


Perlahan langkah Soraya mendekat dan mensejajarkan posisinya, dengan berjongkok disamping Rudi. Meski samar akan cahaya, matanya kini lekat menatap suaminya yang masih memakai baju yang sama dari hari kemarin, dengan rambut yang terlihat sangat berantakan. Tangannya kini berangsur hendak memegang pundak Rudi, namun begitu telapak tangannya mendarat, Rudi dengan gerak cepat menepisnya. Saat melakukannya dua kali Soraya malah nyaris terjungkal, sebab Rudi menolak mendorong keras Soraya.


Tapi Soraya tak mau menyerah, dan dalam uluran tangan yang ke tiga kalinya, Rudi tak bergerak tak menunjukkan tanda-tanda perlawanan. Soraya pun makin mendekat kemudian merangkul suaminya yang justru kali ini menangis dalam pelukannya.

__ADS_1



Disaat itulah Soraya menyadari bahwa Rudi dalam kondisi rapuh, emosinya tak dapat terkontrol. Suara tangisan suaminya sarat akan rasa sakit yang selama ini dipendam, kini hati Soraya layaknya diremas.


Tak hanya ia yang hidup dalam kemalangan, tapi juga suaminya pun merasakan hal yang demikian. Sama-sama hidup tanpa adanya kasih sayang dari orang terdekat, lebih tepatnya orangtua.


Soraya memang sedari kecil tak memilikinya, tapi Rudi dia memiliki orangtua lengkap tapi bukan kasih sayang yang didapat, melainkan luka dan luka yang menemaninya tumbuh hingga sekarang. Rasanya, rasa sakit itu berkali-kali lipat bila dibandingkan dengan Soraya.


"Aku disini," kata Soraya lirih. "Aku disini," kata Soraya lagi yang semakin mendekap erat suaminya masuk dalam pelukannya.


Soraya pun mengangguk dengan mata yang sudah perih, sudut bibirnya tertarik hingga keluar suara isakan. Bukan sedih melainkan bahagia, sebab adanya ia disamping suaminya. Hingga kini seolah kehilangan kemampuannya mengerjapkan mata, ditatapnya Rudi dengan tatapan dalam.


Seperti halnya Rudi, ia juga tak ingin mengerjapkan matanya. Takut-takut bila orang yang dimilikinya pergi meninggalkannya. Perlahan sorot matanya berlangsung turun, mensejajari wajah Soraya. Hingga terpaan nafas mereka saling membelai satu sama lain. Perlahan kedua bibir mereka saling memberi kecupan, merasakan sentuhan bibir satu sama lain yang menghadirkan suatu gairah dalam diri masing-masing.


Rudi memiringkan kepalanya, mulai memimpin pergerakannya juga diikuti oleh Soraya. Dengan mata yang terpejam mereka kini sama-sama terbuai. Soraya mulai merasakan bibir lembut Rudi bergantian menyentuh pelipis, hidung, pipi dan bersarang lama dibibirnya. Kemudian berangsur turun menyusuri rahang menuju leher.

__ADS_1


Tak lama ingatan buruk kembali mengusik pikiran dan hati Soraya, hingga tanpa sadar tangannya bergerak menghalau pergerakan Rudi.


Saat Rudi menyadari ada yang tak beres dengan Soraya, ia berhenti dan menarik wajahnya disertai mengambil nafas.


Berbeda halnya dengan Soraya yang berperang melawan ingatan buruk itu, dalam tekadnya ia ingin keluar dari rasa trauma itu. Ia meyakinkan diri bahwa dihadapannya kini hanya Rudi, ya hanyalah Rudi. Tak ada orang lain.


Dari cahaya samar, ia bisa melihat Rudi yang tengah tersenyum. Kemudian Rudi berujar, "Kita tunda saja, sepertinya kamu masih belum siap." Rudi pun bergerak berpaling hendak pergi.


Soraya dengan cepat menggeleng, sebelum Rudi bergerak lebih jauh, ia mengambil kesempatan dan menangkup wajah Rudi dengan jemarinya. "Ayo kita lakukan," ucap Soraya dengan suara lemah hingga Rudi kembali menatap Soraya.


Hari ini pun perasaan yang sama-sama terpendam membumbung bersamaan dengan gairah yang membuncah, bukan lagi ketakutan yang dirasakan Soraya melainkan pasrah menyambut cinta yang baru saja dimulai.


To be Continue


Jangan lupa like juga komen

__ADS_1


__ADS_2