Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 5


__ADS_3

Soraya terbangun, dilihatnya Bi Lastri yang terduduk di kursi sofa menatap layar tv tanpa suara.


"Jam berapa Bi?" tanyanya yang kini merubah posisinya hingga duduk.


"Sudah pukul dua siang, Non."


"Lama juga aku tertidur," gumamnya.


Ia pun meraih ponsel yang berada dibawah bantal, kemudian mulai menghidupkannya. Suara notifikasi disusul serentetan pesan mulai memenuhi layar ponselnya.


Namun pandangannya teralih saat pintu kamar inapnya terbuka, Angel yang muncul dari balik pintu.


"Gimana keadaan kamu?" tanyanya.


Kening Soraya mengernyit. Baru inget kalau aku sakit, batinnya.


"Seperti yang kamu lihat, kenapa kemari?" kata Soraya menyandarkan punggungnya, setelah Bi Lastri membantu mengatur menaikkan sedikit ranjangnya.


"Mau melihat keadaanmu, dan yang pasti mau menanyakan kenapa sedari tadi pesanku tidak dibalas."


"Aku tertidur," sahut Soraya singkat.


Angel mengangguk lalu berkata, "Pukul tiga nanti akan ada wartawan yang kemari, mereka menunggu di lobby. Dan sudah saatnya kamu bersiap dari sekarang."


"Haruskah?"


Angel memijat pelipisnya. "Ini untuk kebaikan karir kamu."


"Kebaikan kamu bilang? Bukankah ini akan semakin mencoreng namaku. Aku disini karena kecerobohanku, dan kalian bilang tadi pagi aku harus klarifikasi kalau ini terjadi karena percobaan bunuh diri. Gila!" kata Soraya menunjukkan kekesalannya.


"Kalau kamu gak mau bicara, biar aku yang mewakili."


"Gak perlu. Dan gak akan mungkin kulakukan," tegas Soraya.


"Semua sudah diatur pihak management. Kamu tinggal duduk disana tanpa harus bicara," timpal Angel.


Soraya semakin menipiskan bibirnya, dia berfikir bahwa bekerja di management artis yang menaunginya semakin tidak beres saja dari hari ke hari. Awalnya tiap permasalahan dibuat hanya sebagai gimmick untuk meningkatkan popularitas namanya agar makin terkenal. Mulai dari di isukan melakukan operasi plastik, di kabarkan menjadi orang ketiga dan lebih parahnya lagi terlibat scandal prostitusi. Sekarang musibahnya malah dimanfaatkan yang malah akan menambah kontroversi atas namanya di mata publik.


Pusing, itulah yang Soraya rasakan sekarang.


"Tunggu apalagi bersiaplah!" ucap Angel terdengar setengah memaksa, memberi perintah.


Soraya menyoroti Angel lama. Mendegus kemudian berkata singkat, saking kesal. "Baiklah."


"Tidak perlu ganti baju dan naik kursi roda," perintah Angel melirik ke arah kursi roda yang terdapat di ruangan inap Soraya. Kamar yang dipakai adalah jenis VIP, maka ada beberapa fasilitas lengkap disana.


"Untuk apa?" Soraya berbalik menatap Angel bingung.

__ADS_1


"Biar lebih meyakinkan para wartawan saat mengambil gambarmu, kalau keadaanmu beneran sakit," ucap Angel enteng.


Soraya memutar bola matanya jengah. Hidup dengan kepura-puraan, bersandiwara dalam kehidupan nyatanya hanya untuk sebuah kata popularitas. Rasanya bertolak belakang dengan kata hatinya. Benar-benar kali ini ingin sekali hatinya memberontak.


Kursi roda di dorong memasuki sebuah lift. Kamar yang ditempati Soraya berada di lantai sembilan. Rumah sakit swasta ini tergolong besar memiliki pelayanan yang cukup memadai. Layanan kesehatan berkualitas juga mencakup layanan spesialis lengkap. Mulai dari laboratorium, klaster bedah terpadu, rehabilitas medis, fasilitas radiologi dan imaging. Serta layanan kesehatan umum, diagnostik dan layanan darurat.


Denting lift berbunyi, kugugupan merambah pada diri Soraya. Pintu lift otomatis terbuka. Perlahan kursi roda yang diduduki Soraya di dorong pelan hingga berhasil keluar dari pintu lift.


Kegugupan kian merambah tatkala jarak lift ke lobby hanya tinggal beberapa langkah setelah melewati dinding penyekat.


"Sebentar, ponselku berbunyi," cegah Angel sejenak menghentikan gerakan Bi Lastri yang mendorong kursi roda yang diduduki Soraya.


Soraya melirik ke arah Angel, ia terlihat sibuk merogoh tasnya hendak mencari sesuatu. Kini pandangan Soraya teralihkan pada tiga pintu Lift tepat di belakang Angel. Matanya fokus memperhatikan tulisan angka juga tanda merah.


Tepat lift yang berada paling tengah, tertulis angka satu dan tanpa anak panah yang mengarah ke bawah, yang artinya lift akan menuju pada lantai basement. Diperkirakan sebentar lagi pintu lift juga akan terbuka.


Hingga dari semua perkiraan dalam pikiran Soraya menghadirkan senyum serigai yang tercetak di bibirnya. Ide baru pun terlintas, dan saat pintu mulai terbuka, hingga orang-orang dari dalam lift mulai keluar, Soraya bersiap mencabut jarum infus yang masih melekat pada tangannya. Tanpa mempedulikan rasa nyeri di pergelangan tangannya, ia segera melompat dari kursi roda dan bergegas lari masuk ke dalam lift. Dengan cepat jarinya pun memencet tombol untuk menutup pintunya.


Angel begitu kaget dengan apa yang dilakukan Soraya, ia berusaha mengejarnya namun pintu lift lebih dahulu tertutup. Hingga Soraya tak bisa lagi mendengar umpatan yang keluar dari mulut Angel.


Lift turun menuju lantai basement , Soraya hendak keluar tapi ia urungkan. Sebab disana tak mungkin ia bisa keluar dari gedung rumah sakit, lagi pula Angel pasti akan dengan sangat mudah menemukannya.


Pintu lift kini terbuka, karena sudah sampai pada lantai dasar yakni di tempat parkiran bawah tanah.


Soraya mulai berjalan mencari pintu keluar, tapi ia tersentak tatkala di depannya yang hanya berjarak beberapa meter dan hanya terhalang sebuah mobil dilihatnya seorang wartawan, ia meyakini sebab orang yang baru saja di lihatnya berkalungkan name tag wartawan juga membawa sebuah kamera.


Ia bergegas, berjongkok demi menyembunyikan dirinya. Merapatkan tubuhnya pada sebuah mobil di dekatnya. "Malah kayak maling begini," batinnya. Kali ini ia benar-benar merasa muak dan menolak dengan sangat akan sandiwara yang di buat-buat kepadanya.


Tubuh Soraya sedikit terjingkat akibat mobil di sebelahnya berbunyi. Itu alarm pertanda kunci mobil terbuka, batinnya.


Tak ada lagi cara kabur dan keluar dengan cepat selain ini, pikirnya sambil menatap mobil disebelahnya penuh minat.


Posisinya masih berjongkok dan tangannya ia pergunakan untuk meraih knop pintu, dengan pelan ia membuka pintu mobil yang terletak disisi kanan. Dengan gerak pelan namun cepat dirinya mulai memasuki mobil. Bersembunyi di sela-sela jok mobil. Tak berapa lama pemilik mobil mulai masuk, terdengar suara mobil tengah distrater di susul bunyi klik, pertanda sabuk pengaman telah terpakai.


Dalam hari sedikit was-was, bisa jadi sang pengemudi bukan orang baik. Otaknya berfikir keras, ia berusaha mengatur rencana untuk bisa turun setelah bisa menjauh dari lokasi rumah sakit ini.


Mobil mulai berjalan lambat, saat dibelokkan kepala Soraya sedikit terantuk jok mobil disampingnya.


"Aduh!," Soraya merutuki suara yang tak sengaja terlepas dari mulutnya.


Dirasainya mobil terhenti, "Kamu siapa?,"


Seketika Soraya menelan ludahnya yang serasa tersangkut di tenggorokan. Sial, belum apa-apa sudah ketahuan, umpatnya dalam hati.


Soraya mendongakkan wajahnya, menghadap sesosok lelaki yang memnolehkan kepalanya kebelakang. Jarak mereka begitu dekat, pipinya seketika merona, tercetak jelas dari wajahnya yang masih terlihat pucat plus tanpa make up. Di situasi seperti ini, jantungnya justru berdegup kencang.


"Apa yang kamu lakukan disitu?"

__ADS_1


"A—aku,"


Rudi semakin mengerutkan keningnya dalam, "Keluar!," ucapnya datar.


Soraya menggeleng kepalanya.


Rudi terdengar berdecak, "Pasien disini tidak diperbolehkan kabur, sebelum menyelesaikan prosedur. Saya harap anda kembali ke ruang rawat inap anda."


Bukannya menjawab Soraya kini melongokkan kepalanya melihat keadaan sekitar, melihat situasi. Nyatanya masih ada wartawan yang masih ada di lokasi tempat parkir.


Rudi jengah sebab tak mendapat jawaban, "Baiklah saya akan mengantar anda ke ruangan anda," ucapnya seraya berbalik hendak membuka knop pintu mobil disampingnya.


Dengan sigap Soraya meraih dan memegangi lengan kiri Rudi, ia menarik kuat agar Rudi mengurungkan niatnya keluar dari mobil.


"please, aku butuh bantuanmu," ucapnya memohon. "Ada banyak wartawan disini, dan aku ingin segera keluar dari tempat ini," jelasnya.


Rudi mengalihkan pandangannya keluar kaca jendela, dilihatnya memang benar ada wartawan disana, tapi tak berapa lama wartawan itu pergi dan yang Rudi tahu ke arah pintu lift.


"Mereka sudah pergi," ucap Rudi menoleh ke arah belakang. Baru Soraya menegapkan tubuhnya dan mendudukkan diri kursi jok belakang.


"Tapi aku butuh keluar dari tempat ini."


Rudi tampak berfikir lalu memandang Soraya dengan tatapan menilai. "Baiklah, aku akan membantumu."


Pandangannya lalu beralih pada kursi di sebelahnya, kemudian ia menyerahkan sebuah paperbag pada Soraya, "Pakai ini," ucapnya sambil mengulurkannya pada Soraya. "Dan pindah duduk depan," sambungnya.


Soraya segera meraih paperbag lalu membukanya, "Hoodie?."


"Pakai itu, di depan ada beberapa satpam."


Soraya segera memakai hoodie tanpa harus melepas pakaian yang ia kenakan, ia baru tersadar masih memakai pakaian rumah sakit. Ia mulai berpindah posisi untuk duduk di sebelah Rudi.


Mobil melaju menuju tempat petugas parkir, dan benar saja petugas tak menaruh curiga sedikitpun. Kelegaan menyelimuti hati Soraya setelah ia benar-benar bisa keluar dari area rumah sakit. Kepalanya kini ia sandarkan pada jok mobil.


"Kemana tujuanmu?" tanya Rudi yang pandangannya masih terfokus pada jalanan.


"Pulang," ucap Soraya. "Oya kita belum berkenalan, kenalkan namaku Soraya. Kamu boleh memanggilku Raya," ucap Soraya memiringkan posisi duduknya menghadap Rudi.


Mendengar penuturan Soraya, fokusnya kini teralihkan namun hanya sejenak lalu ia kembali mengamati arah jalanan di depannya.


"Kamu lupa padaku, padahal aku masih ingat siapa namamu," ucap Soraya percaya diri.


"Maaf, begitu banyak pasien dan aku—"


"Kamu tak mengingatku, ya aku maklumi," kata Soraya sambil membenarkan posisi duduknya menghadap depan.


"Dimana alamatmu, aku akan mengantarmu terlebih dahulu," ucap Rudi sudah tak menggunakan bahasa fomal.

__ADS_1


Segera Soraya menyebutkan alamat tempat tinggalnya. Dalam perjalanan sudah tiada percakapan, namun Soraya mencuri pandang, melirik seseorang yang tengah duduk mengemudi disampingnya. Sosok lelaki yang belum pernah ia temui sebelumnya. Seringnya ia bertemu dengan para lelaki yang suka berbasa-basi saat mengobrol dengannya. Tapi kali ini, sosok disampingnya begitu berbeda. Lelaki yang bisa tersenyum manis, profesionalis dalam bekerja. Juga bisa bersikap datar dan bicara apa adanya. Kalau diamati usianya sudah pasti matang, gurat wajah tampan dan badan yang sudah pasti proposional. Dan semoga saja ia bukan pria beristri, batinnya.


To be Continue


__ADS_2