Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 57


__ADS_3

"Aku sudah siapkan menu sarapan."


Langkah Rudi terhenti, tubuhnya berbalik menghadap pintu yang sedikit dibuka oleh Soraya.


Niat Soraya hanya memberi tahu, tapi ditatap Rudi sedemikian rupa membuat Soraya menggerakkan bola matanya kearah tak tentu. "Aku hanya memberi tahu itu, kalau begitu aku mau masuk dulu," ucap Soraya terdengar terbata, setelahnya ia menutup pintu.


Arah pandang Rudi kini menoleh ke arah meja makan, kemudian ia berjalan menuju kesana.


Selang kurang dari tiga puluh menit, Soraya keluar dari kamar sudah berpakaian rapi. Dengan membawa blazer yang tersampir di lengan kirinya dan juga tas kerjanya. Sementara ditangan kanannya ia menyeret sebuah koper berukuran kecil.


Rudi yang sedang menyeruput kopi kini menoleh ke arah Soraya, memperhatikan dari atas sampai bawah dengan tatapan alis mengernyit. "Kamu mau kemana?" tanya Rudi membuka suara.


Soraya yang menoleh kearah Rudi, dapat menangkap sorot mata Rudi yang memperhatikan ke arah koper miliknya. Ia pun kini berujar, "Siang nanti aku ada pemotretan, sekalian aku membawa beberapa perlengkapan."


Setelah meletakkan koper juga barang bawaannya, Soraya mengambil tempat duduk berhadapan dengan Rudi. "Kamu belum makan?" Soraya melirik kearah sandwich yang masih utuh belum tersentuh.


"Mari makan bersama," ucap Rudi setelah meletakkan cangkir kopinya.

__ADS_1


"Kemarin kamu pulang jam berapa?" ucap Soraya setelah ia menelan satu gigitan sandwich.


"Cukup larut, kemarin ada operasi darurat."


Soraya mengangguk-ngangukan kepalanya, sebab suasana kembali hening. Rasanya ia ingin bertanya, tapi tanya apa, batinnya.


"Jaga kesehatanmu, jangan terlalu memporsir waktu," ucap Rudi yang saat ini menatap Soraya, tangan kanannya pun terulur mengusap sudut bibir Soraya sebab terdapat bekas mayonais menempel disana.


Usai Rudi menarik tangannya, kini Soraya mengusap bibirnya dengan sebelah tangannya. "Maaf, aku makan belepotan," ucapnya kemudian lalu diletakkannya sandwich yang masih tersisa diatas piring. "Apa yang kamu ucapkan tadi adalah bentuk dari kekhawatirmu?" tanya Soraya.


Soraya pun menipiskan bibirnya, terlalu berlebihan bukan? batinnya. Dan kembali ia pun berujar cepat-cepat tanpa memandang kearah Rudi sambil mengambil sandwichnya. "Anggap saja aku tidak bertanya padamu."


"Iya," kata Rudi singkat membuat gerakan Soraya terhenti. Iya apa? batinnya. Iya khawatir atau iya yang tak usah bertanya, lagi-lagi suara hatinya bertanya-tanya.


Melihat Soraya yang terdiam Rudi berucap, "Cepat habiskan sarapanmu, sekarang sudah hampir pukul setengah delapan."


Sejenak Soraya terhenyak, menoleh ke arah jam di dinding, benar jarum jam mendekati pukul setengah delapan. Segera ia menghabiskan sarapannya bahkan sambil berdiri ia masih mengunyah makanannya, beranjak mengambil barang bawaannya. Rasanya hari ini ia membuang waktu dengan alasan yang tak bisa dijelaskan, atau mungkin waktu yang berjalan dengan cepat.

__ADS_1


Dengan panik Soraya mengambil sepatu hak tingginya lalu memakainya. Saat hendak menarik handle pintu, suara Rudi menghentikan gerakannya.


"Sepertinya ada yang kamu lupakan?" kata Rudi yang berdiri dibelakang Soraya.


Soraya memutar tubuhnya, kemudian mengamati tampilannya juga barang bawaannya. Tak ada yang kurang, batinnya.


Ia pun menatap ke arah Rudi kemudian menggeleng.


Rudi menghela nafas, menarik kedua sudut bibirnya membentuk garis simetris kemudian selangkah mendekat hingga saling berhadapan. "Haruskah aku ingatkan lagi?" ucapnya bertanya.


Kedua alis Soraya mengernyit, "Sepertinya tak ada yang terโ€”." Tubuh Soraya memaku sesaat ucapnya bahkan terhenti.


"Sudah. Sekarang pergilah karena kalau kamu masih berdiri disini, kamu akan terlambat," ucap Rudi usai memberi ciuman pagi pada Soraya.


To be Continue.


Mampir juga di novel terbaru RUANG RINDU, ditunggu kritik dan sarannya ๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2